PanaJournal – Jika suatu saat saya punya anak dan dia bertanya apa itu cinta, akan saya ceritakan kepadanya tentang Maria Catarina Sumarsih. Ia ibunda Bernardus Realino Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta, yang ditembak mati entah oleh siapa pada 13 November 1998. Peristiwa ini kelak akan dikenang dengan nama Tragedi Semanggi I.

RAK BUKU di rumah Maria Sumarsih (61) di daerah Meruya Selatan, Jakarta Barat, penuh berisi buku-buku sosial politik. Ketika saya memiringkan kepala untuk mengamati deretan buku yang terpampang di situ, terbacalah judul-judul semacam “Tanah Untuk Rakyat”, “Reformasi Gagal”, “Demi Sebuah Rezim” dan “Kaleidoskop Politik”. Suaminya, Arief Priyadi, bekerja di Centre of Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta. Sumarsih sendiri pernah bekerja di Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

“Saya selalu mengatakan, diri saya tergelincir ke tengah kekejaman kekerasan politik,” perempuan bertubuh kecil, berambut putih keabu-abuan, dengan senyum bersahaja itu membuka percakapan.

Sebelum kami mulai berbincang, Sumarsih menyempatkan diri berganti pakaian dengan baju terusan warna hitam, yang tadinya saya kira ekspresi duka cita. Belakangan saya tahu, ia selalu mengenakan pakaian berwarna hitam setiap membicarakan apa yang menimpa Wawan, sebagai simbol bahwa kesedihan yang ia rasakan telah menjelma tekad untuk mencari keadilan.

Sumarsih mengenang Wawan sebagai anak yang menyenangkan dan enak diajak berdiskusi. Ia dan Arief punya kebiasaan mengajak anak-anak makan malam bersama. Pada kesempatan itu, mereka akan bertanya pada Wawan dan adik perempuannya, Benedicta Rosalia Irma Normaningsih, mengenai hari mereka. Biasanya muncul juga diskusi mengenai berbagai persoalan yang ditemui di masyarakat.

Dibesarkan dalam lingkungan demikian, ditambah kegemaran membaca buku-buku sejarah, humaniora dan politik, membuat kesadaran sosial Wawan terbentuk dengan kuat. Bila ada teman yang sakit atau sedang berduka cita, Wawan pasti menyempatkan diri datang, meskipun mereka tidak terlalu dekat. Ia juga aktif dalam kegiatan organisasi kemasyarakatan dan gereja.

Menyadari aktivisme sang anak, Sumarsih sudah mewanti-wanti agar Wawan mampu menempatkan diri. Pasalnya, Sumarsih ketika itu seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang notabene pendukung Orde Baru, yakni Golongan Karya (Golkar). Sumarsih meminta Wawan untuk tidak ikut demo. Ia berharap putranya mau mengerti.

Sebelum ini, Wawan juga menurut ketika diminta tidak ikut demo sidang umum. Ia memilih jadi tim relawan yang mengurus logistik mahasiswa dan masyarakat. Suatu kali, Wawan tersorot kamera di antara timbunan biskuit dan air mineral. Di telinganya terselip rokok. Pulang ke rumah, Sumarsih bilang Wawan boleh merokok hanya kalau sudah kerja. Putranya itu cengengesan, tidak menyangka tertangkap basah lewat televisi.

“Lalu, Wawan harus bikin apa dong, Bu?” tanya Wawan, yang ketika itu menginjak semester lima.

“Kamu, kan, bisa bikin kegiatan lain seperti seminar, diskusi publik, atau sarasehan,” saran Sumarsih. “Biar ada dialog, undang juga ketua fraksi-fraksi di DPR.”

Wawan menerima saran ibunya. Bersama teman-teman dari Fakultas Hukum, Wawan menyelenggarakan seminar, yang salah satu pembicaranya Khofifah Indar Parawansa. Hari Senin, 9 November 1998, Wawan minta diantar ke kampus untuk membuka acara tersebut karena ia ketuanya. Sebenarnya, Sumarsih keberatan karena Wawan baru pulang dari RS setelah operasi sinus.

“Di kampus, kan, udaranya kotor. Selain banyak kendaraan, tentara juga banyak melemparkan gas air mata, Wan,” bujuk Sumarsih.

Wawan berkeras. Ia berjanji hanya akan mampir untuk meminta kawannya, Bona, mewakilinya membuka acara. Wawan lalu pulang, menuruti permintaan Sumarsih untuk beristirahat di rumah.

Hari Rabu, 11 November 1998, Wawan pergi ke kampus dan menginap di sana. Kamis pagi ia pulang dan menelepon Sumarsih dari rumah.

“Ibu masak apa?”

“Wah, hari ini Ibu nggak masakin Wawan. Beli gado-gado saja di warung.”

“Tadi Wawan sudah sarapan.”

“Makan apa?”

“Bubur ayam, dibelikan dosen Wawan, namanya Pak Hinca. Wawan habis dua mangkuk.”

Sumarsih tertawa. Jumat pagi, ia memasak empal dan sayur asam kesukaan Wawan.

Hari itu Wawan tidak pulang.

Sejak pagi di kantor, Sumarsih tidak tenang. Ia sudah dengar akan ada penembakan bebas dengan peluru tajam. Ia sempat meminta Wawan untuk tidak pergi ke kampus, tapi putranya menolak. “Tidak mungkin Wawan diam di rumah sementara teman-teman dari berbagai kampus kumpul di Atma Jaya, Bu,” katanya.

Wawan meyakinkan ibunya, dia tidak akan ikut aksi demo. Dia hanya akan bergabung dengan Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) yang tugasnya menolong korban (sampai sekarang, Sumarsih masih menyimpan tas Wawan yang berisi obat-obatan yang belum pernah dibukanya). Mengingat janji Wawan, Sumarsih agak lega. Dari kantor ia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Di tengah jalan, Sumarsih sempat berpikir untuk mampir ke kampus Atma Jaya, tapi niat itu diurungkannya.

Sampai di rumah, Sumarsih disambut Arief dengan wajah cemas. Televisi menyala, menampilkan gambar kerusuhan. Arief bilang, tadi Wawan sempat menelepon ke rumah.

“Wawan di mana? Situasinya panas, cepat pulang,” pinta Arief.

“Mau pulang bagaimana Pak, situasinya sudah kayak perang nih,” keluh Wawan.

“Tadi ada imbauan dari Pak Wiranto supaya toko-toko tutup, anak sekolah dipulangkan, dan kantor-kantor juga tutup. Kamu jaga diri.”

“Iya, Bapak tenang saja.”

Tidak lama kemudian, di televisi tersiar gambar korban tembakan di pelataran kampus Atma Jaya. Sumarsih menjerit, “Kena!” lalu mencengkeram lengan suaminya. Ia mengajak Arief ke Atma Jaya untuk membelikan Wawan ponsel agar mereka bisa berkomunikasi. Sebelumnya, Wawan beberapa kali minta dibelikan ponsel, tapi Sumarsih belum sempat memenuhinya.

Detik itu juga telepon rumah berbunyi. Seseorang yang mengaku bernama Ivonne, teman Wawan dari Atma Jaya, mengabari kalau benar ada mahasiswa yang kena. Ketika Sumarsih menanyakan di mana Wawan, Ivonne menjawab, ada di kampus. Telepon ditutup, lantas lekas berdering lagi. Kali ini Romo Ignatius Sandyawan Sumardi. Sumarsih mulai merasa ketakutan pelan-pelan menyusupi dadanya.

“Ada apa, Mo? Ada apa, Mo?” Ia begitu panik sampai hanya bisa meracau.

Telepon diambil alih Arief. Lantas Romo Sandyawan memberi tahukan kabar itu: Wawan ditembak, sekarang juga harap ke Rumah Sakit Jakarta.

Arief segera menyambar kunci. Anak-anak tetangga yang bermain di depan rumah (Wawan senang anak kecil—tiap berangkat kuliah, dia suka sekalian memboncengkan mereka sampai ke sekolah) menatap Sumarsih dengan pandangan bingung. Beberapa dari mereka dengan polos mengira Sumarsih berantem dengan Arief, lalu mau kabur karena sudah bawa tas.

Sepanjang jalan, Sumarsih menggenggam rosario sambil tak hentinya berdoa. Di daerah Tomang, Jakarta Barat, mobil mereka tak bisa lewat. Tampak kawat berduri sepanjang jalan. Sumarsih memohon pada polisi agar diperbolehkan lewat, sambil mengeluarkan KTP dan kartu pegawainya.

“Tolong Pak, anak saya ditembak..”

“Saya tidak bisa membantu, Bu. Minta bantuan sama yang baju hijau saja.”

Baju hijau maksudnya tentara. Sumarsih mengulangi permohonannya. Jawabannya masih sama: tidak bisa.

“Sekarang juga Ibu pulang! Jangan membuat keributan atau memancing perhatian orang!” Tentara memberi ultimatum.

Sumarsih dan Arief lalu memutar untuk menjemput adik ipar mereka yang kebetulan polisi. Perjalanan dilanjutkan. Saat itu yang ada di kepala Sumarsih adalah bagaimana pun caranya, ia harus bertemu anaknya. Di tengah jalan, tiba-tiba dari mulut Sumarsih keluar kalimat, “Selamat jalan, Wan…”

Begitu sadar apa yang baru saja ia ucapkan, Sumarsih langsung menjerit, “Tidak, Bunda Maria! Tidak, Tuhan Yesus! Selamatkanlah anak saya!”

Semua orang panik. Di jalan, tampak orang-orang berlarian. Ada kilat api di seberang kampus Atma Jaya, Semanggi. Jalanan basah padahal tidak hujan. Sumarsih tahu, itu artinya baru saja ada rombongan demo yang kocar-kacir dibubarkan tentara. Ia ingat hari itu di kantornya ada drum-drum besar diletakkan sepanjang pintu masuk DPR sampai parkiran. Kata polisi, isinya air kotor dan zat kimia untuk membubarkan massa. Kalau kena air itu, orang akan merasa gatal-gatal.

Sumarsih berkali-kali ingin turun dari mobil, tapi adik iparnya melarang. Barangkali sang adik bisa membedakan, mana bunyi peluru kosong dan mana yang ada isinya. Ketika akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Jakarta, Sumarsih setengah berlari menghampiri sekelompok mahasiswa yang duduk di halaman.

“Dik, dik, saya ibunya Wawan. Katanya Wawan ketembak. Sekarang Wawan di mana?”

“Wawan ada di UGD, Tante. Mari kami antar.”

Tapi di tengah jalan, ada yang menghampiri dan bilang Wawan ada di basement. Hati Sumarsih seperti dipukul gada. Kenapa Wawan ada di basement dan bukan di kamar rawat? Mencoba mengenyahkan pikiran buruk, Sumarsih terus melangkahkan kakinya. Sampai di basement, ia dikerumuni orang-orang. Mereka menggumamkan hal yang sama: supaya Sumarsih sabar dan kuat. Sumarsih tidak bisa membalas semua ucapan itu kecuali terus bertanya di mana putranya.

Lalu pintu dibuka. Tampak jejeran keranda.

Perlahan-lahan Sumarsih menghampiri jenazah putranya. Air mata menderas. Ia meraba dan mengusap tubuh Wawan, dari kepala sampai ujung kaki. Jempolnya diikat benang putih.

“Wan, perutnya kok tipis, kamu lapar ya..” Sumarsih berkata lirih.

Tangan Sumarsih bergerak ke dada anaknya. Ia meraba kaus yang dikenakan Wawan, bergambar Tintin dan agak kekecilan. Di dada kiri ada bekas lubang seperti disundut rokok. Ia buka kaus itu. Ada bolong yang menganga.

“Wan, kamu ditembak orang, Wan..”

Kelak, sekitar empat tahun setelah kejadian ini, seorang teman Wawan yang bernama Dian, akan menceritakan kronologis peristiwa Jumat itu. Jam sepuluh pagi, Wawan menetralkan gas air mata dengan menyemprotkan air melalui selang hidran.

Sore menjelang penutupan, dia keluar dan menyaksikan ada korban ditembak di pelataran kampus Atma Jaya. Wawan bertanya pada tentara yang berjaga, apakah boleh menolong korban itu. Tentara mempersilakan. Wawan pun mengeluarkan bendera putih dari dalam tas dan bergerak maju.

Pada saat ia hendak meraih tubuh korban itulah, sebuah peluru tajam menembus dada kirinya. Menurut Dian, pada saat itu Wawan tidak sanggup berkata hal lain kecuali, “Panas… Panas… Panas…”

Di basement, isak tangis dan sedu sedan membuat ruangan jadi seperti berdengung. Sumarsih masih berdiri di samping keranda berisi jenazah Wawan. Ia membelai rambut anaknya. Mata Wawan terpejam seperti orang tidur. Badannya masih hangat.

***

Kamis, 16 Januari 2014. Hari itu ada peringatan Tujuh Tahun Kamisan, aksi diam para korban pelanggaran HAM di depan Istana Negara. Band Simponi (Sindikat Musik Penghuni Bumi) memainkan lagu-lagu jagoan mereka, seperti “Sister in Danger” dan “We Are Sinking”. Sebuah payung hitam besar didekorasi di tengah arena, dihiasi papan-papan kertas yang bergelantungan. Di atas kertas itu dituliskan kasus-kasus pelanggaran HAM yang sampai kini tak selesai—salah satunya Tragedi Semanggi.

Deretan topeng warna-warni bergambar Wiranto, Prabowo, dan Aburizal Bakrie, dipajang berderet dengan foto-foto para orang hilang, aktivis yang diculik dan ditembak mati. Terdengar teriakan di sana-sini, mengingatkan untuk jangan memilih calon presiden yang masih punya utang pelanggaran HAM. Wiranto belum menuntaskan tanggung jawabnya terhadap Tragedi Semanggi, Prabowo penculikan aktivis dan Tragedi Mei 1998, Aburizal Bakrie kasus Lumpur Lapindo yang belakangan ganti ruginya malah dibiayai APBN.

Para peserta bergantian memberi orasi. Sore itu agak spesial karena ada Butet Kertaradjasa dan artis Happy Salma. Para polisi dan aktivis yang lelaki sikut-sikutan sambil membicarakan kecantikan Happy dan merancang strategi agar bisa foto bareng. Persis saat dua orang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya berorasi, mobil kepresidenan melintas.

Orang-orang spontan berteriak, “Huuuuuu!”

“Mampir dulu, Pak Presiden!”

“Pengecut!”

Sumarsih dan saya berpandangan, lalu menyeringai. “Dulu, Pak Presiden masih mau keluar lewat pintu depan. Tapi, akhir-akhir ini, selalu melipir lewat samping. Mungkin nggak enak lihat kami,” ia mengira-ira.

Sumarsih beserta para orangtua korban Semanggi sebenarnya sudah pernah mendapat kesempatan bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sama seperti ketika menyebut kasus Munir ‘test of our history’, Presiden SBY juga berjanji akan menyelesaikan kasus Tragedi Semanggi secara hukum. Hal ini sempat membuat Sumarsih lega karena barangkali ada titik terang dalam perjuangannya.

Tapi, hingga kini, tak terjadi apa-apa.

“Kadang-kadang saya merasa, pemerintah mau menunggu saja sampai kami para orangtua korban Semanggi ini mati satu per satu,” kata Sumarsih, lirih. Saya memandangnya, mencoba mencari-cari tanda lelah atau keinginan menyerah di matanya, tapi yang saya temukan hanya hasrat mencari keadilan tanpa putus.

Kepala Biro Pemantauan dan Dokumentasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Feri Kusuma berkata, sesungguhnya dalam upaya penegakan HAM, segala tindakan telah mereka lakukan. Ibarat buku panduan perang, semua strategi dan jurus telah dicoba. “Kalau sampai sekarang upaya itu belum banyak yang berhasil, yang tersisa bagi kita hanya satu, yaitu tetap melawan,” kata dia.

Saya memandang Istana Negara. Pemerintahan Presiden SBY akan segera berakhir dalam hitungan hari. Saya tidak berani terlalu berharap bahwa pemerintahan yang baru akan menjadi angin segar bagi penuntasan kasus pelanggaran HAM. Tapi, sekecil apapun, bukankah harapan harus tetap ada?

***

Seminggu kemudian, saya kembali datang. Suasana tak seramai Kamis lalu. Sumarsih ada di garis depan, sedang mengobrol dengan seseorang. Saya hampiri ia, menanyakan kabar. Hari itu rupanya cukup padat. Sejak pagi Sumarsih sudah mengikuti acara diskusi di kantor KontraS dan pukul tiga sore ia sudah sampai di lokasi Kamisan.

Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas kain warna hitam. Pada pertemuan sebelumnya, saya menghadiahinya sebuah novel yang saya tulis sendiri. Di halaman pertama, saya tuliskan: “Sekadar hadiah kecil untuk menemani perjuangan seorang ibu.”

“Seharian saya baca buku ini. Ceritanya seperti menuntun kita untuk membaca terus dan terus, karena penasaran apa yang akan terjadi pada tokohnya. Ibu suka. Terima kasih, ya,” katanya, ketika kami sama-sama menggenggam payung hitam, menghadap ke arah Bapak Presiden yang Terhormat.

Saya mengangguk sembari tersenyum. Memikirkan bahwa saya telah membuat perempuan ini bahagia selama beberapa menit dalam perjuangannya, membuat hati terasa hangat.

Sumarsih lalu mengganti pakaiannya dengan sebuah kaus berwarna hitam bertuliskan, “Kebisuan negara dan pembisuan korban adalah halangan terbesar kenangan akan korban. Aksi Kamisan merupakan gerilya kemanusiaan subyek korban dan pendampingnya melawan penggelapan kebenaran.” Kaus itu pemberian Romo Mutiara Andalas.

Saya menunjuk topeng bergambar Wiranto yang tergeletak dekat payung hitam.

“Andaikan suatu hari nanti Wiranto mengeluarkan permintaan maaf secara terbuka, sambil menyatakan diri bertanggung jawab terhadap Tragedi Semanggi, apakah itu cukup buat Ibu?”

Sumarsih berpikir sebentar. “Ya, hal itu boleh saja dilakukan, mungkin bisa membuat Pak Wiranto lebih lega. Tapi yang saya minta tetap sama, yaitu peradilan secara hukum. Saya ingin tahu apa kesalahan anak saya sampai ditembak mati. Dan kalau anak saya memang tidak bersalah, lantas siapa yang sebenarnya harus dihukum atas kejadian itu?”

Sore itu saya belajar tentang keteguhan hati.

Saya menyeberangi tali yang membatasi peserta aksi dengan mobil polisi, lalu berkenalan dengan Aiptu Djoko Ismojono. Ia sudah ditugaskan menjaga Kamisan sejak kali pertama aksi itu diadakan. Aiptu Djoko kadang-kadang heran sendiri melihat kebulatan hati Sumarsih dan para korban lain yang tiap Kamis setia berdiri di depan Istana Negara. Kalau dia jadi mereka, belum tentu sekuat itu. “Paling kalau tidak senang dengan Pak Wiranto, ya jangan dipilih,” cetusnya, sederhana.

Karena sudah lama menjaga, Aiptu Djoko jadi akrab dengan para peserta Kamisan. Dia kadang mengawal sendiri tiap mereka mengantar surat untuk Presiden. Aiptu Djoko akan menyeberangkan mereka dan memberi kode bagi penjaga Istana Negara untuk mengambil surat yang dimaksud. Tapi, Aiptu Djoko tidak tahu apakah surat-surat tersebut sampai ke tangan Presiden.

“Sebagai manusia, kadang saya kasihan pada mereka. Tapi saya polisi. Tugas saya, ya, mengamankan aksi ini agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Aiptu Djoko, sambil menambahkan bahwa selama tujuh tahun ini, tak sekalipun Aksi Kamisan diwarnai kerusuhan.

Pukul lima sore, saya ikut serta dalam refleksi Aksi Kamisan. Kami membentuk lingkaran. Beberapa orang maju dan memberi orasi singkat yang diawali dengan teriakan,

“Hidup korban!”

“Jangan diam!”

“Jangan diam!”

“Lawan!”

Selepas aksi, beberapa orang minta berfoto dengan Sumarsih. Saya berkeliling, dan berkenalan dengan Bejo Untung, Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965. Umur 16 tahun, dia bergabung dengan organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI), yakni Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Gara-gara ini, Bejo Untung dijebloskan dalam penjara dari tahun 1970 hingga tahun 1979.

Kami bertukar nomor ponsel. “Nanti kalau ada informasi acara di Yayasan, saya kabarkan,” kata dia.

Saya juga berkenalan dengan Neneng, seorang ibu korban kasus Rumpin. TNI AU mengambil alih paksa tanah di Rumpin, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk dijadikan lahan operasi proyek Water Training. Menanggapi aksi protes warga, tentara melakukan berbagai aksi kekerasan seperti penembakan, pemukulan, penyiksaan dan penangkapan sewenang-wenang. “Kemarin ada yang dipukul sampai kehabisan banyak darah. Hampir mati. Saya takut nanti ada yang mati sungguhan,” kata Neneng.

Senja sudah lewat. Saya berpamitan pada Bejo Untung, Neneng, dan Sumarsih. Sambil berjalan pulang, dalam hati saya meyakini, bahwa siapa pun yang memulai segala kekacauan ini, negaralah yang harus mengakhiri. (***)

 

Be the first to leave a comment!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *