Dari Akhenaten, Firaun Mesir antara 1353–1336 SM, dunia mewarisi ajaran Monoteisme. Tuhan bagi Akhenaten adalah Ra, atau Aten, Sang Matahari. Musa mengenal ajaran Monoteisme dari Akhenaten. Tapi ia tak mungkin mengajar umat Yahudi bahwa Yehweh yang Tunggal itu ajaran Akhenaten, Firaun yang jadi musuh bebuyutan mereka. Maka ia pun mengklaim bahwa Monotheisme yang diajarkannya berasal dari Ibrahim, Bapak Bangsa Yahudi. Sebelum Akhenaten, tak pernah ada ajaran Monoteisme. Setelah Akhenaten wafat, semua ajaran Monoteismenya dikembalikan oleh Smenkhkare, Firaun penggantinga ke ajaran agama asli. Patung dan semua atribut Akhenaten dihancurkan. Namanya dihapus dari daftar para Firaun.

Untunglah, meski dengan versi beda, Musa melanjutkan ajaran Akhenaten. Kemudian agama Abrahamik menjadi pewaris ajaran Monotheisme ini. Lalu sampai detik ini, Homo sapiens sapiens modern tetap memuja Sang Matahari dengan caranya tersendiri. Tanggal 20 Januari 2016, pukul 05:15 WIB, sekelompok anak muda dengan antusiasme tinggi menyambut datangnya Sang Aten itu di Puncak Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Ritual rutin seperti ini dijalankan anak-anak muda di semua gunung di Indonesia. Selain matahari terbit, mereka juga dengan antusiasme tinggi menyaksikan Hyang Bagaskara itu tenggelam di ufuk barat.

Seorang pengunjung, mengabadikan matahari terbenam dengan kameranya di bawah gerbang Situs Ratu Boko, DIY. Sementara ratusan lainnya yang tesebar di sekitar gerbang itu menatap cakrawala barat dengan takjub. Foto diambil 28 Juli 2018, pukul 17:50 WIB.

Pos Karang Ranjang, Taman Nasional Ujung Kulon, Pandeglang, Jawa Barat; 24 Mei 2016, pukul 06:01 WIB. Suasana senyap. Hanya ada dua Jagawana penjaga pos, empat orang pengunjung dan satu porter. Tak ada yang peduli dengan terbitnya matahari, sang Aten itu.

Di sungai Kumbe, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua; 7 November 2016 pukul 17:21 WIT, Sang Aten itu meredup dan turun perlahan di atas deretan kapal angkutan umum. Juga tak ada warga yang memperhatikannya.


Puncak Sindoro, Jawa Tengah, 1 Mei 2018, pukul 05:30 WIB, cuaca cerah; matahari menyembul pelan. Ratusan anak muda berderet di bibir kawah menatap ufuk timur. Sebagian dari mereka mengabadikan peristiwa rutin ini dengan kamera telepon seluler mereka.

Labuan Bajo, pulau Flores, NTT sekarang sudah menjadi kota wisata yang ramai; gerbang menuju Pulau Komodo. Tanggal 25 November 2015, pukul 17:15 WITA ratusan wisatawan berderet di pelabuhan, menatap cakrawala barat. Di sana, Sang Aten pelan meredup dan tenggelam, untuk kembali terbit esok hari.

 

Be the first to leave a comment!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *