PanaJournal – Syahdan di Ovacık, terpilihlah seorang bupati bernama Fatih Mehmet Maçoğlu dari Partai Komunis Turki (Türkiye Komünist Partisi). Mehmet adalah Komünist Başkan (Bupati Komunis) pertama dalam sejarah Republik Turki.

Ovacık bukan daerah kaya. Kabupaten yang berpenghuni sekitar 3.700 penduduk itu tidak mempunyai sektor andalan seperti industri besar dan sejenisnya, melainkan hanya produk-produk dari lahan pertanian. Sangat banyak rakyat tidak mempunyai pekerjaan sehingga memilih pergi ke kota-kota besar seperti Istanbul, Ankara, Izmir atau kota-kota sekitarnya yang lebih maju seperti Gaziantep. Karena terletak di dataran (ova) luas di antara lereng bukit dan pegunungan, cuaca Ovacık sangat tidak mendukung; 5-6 bulan mereka hidup seperti dalam suasana musim dingin.

Seperti mayoritas penduduk Ovacık yang berasal dari desa dan pinggiran, Fatih Mehmet Maçoğlu lahir di kampung kecil bernama Çemberlitaş, 20 Desember 1968. Lulusan Sekolah Menengah Atas (Lycée atau Lise dalam bahasa Turki) di bidang kesehatan itu melepas jabatannya sebagai tenaga kesehatan di Poliklinik Gawat Darurat di Rumah Sakit Tunceli demi berlaga di pentas Pemilihan Kepala Daerah (yerel seçem).

Mehmet memenangkan pertarungan itu. Pemilu lokal 30 Maret 2014 sah mencatat namanya sebagai bupati pertama dari partai komunis yang memimpin pemerintah daerah (belediye başkanı).

Hadirnya sosok Mehmet Maçoğlu ke pentas politik lokal di Turki tidak membuat negara yang terletak di dua benua itu gonjang-ganjing. Sama sekali tidak ada cercaan di media sosial atau gerakan-gerakan upaya penolakan yang mungkin saja datang dari daerah lain yang lebih “religius” di Turki.

Padahal, jika hendak mengulik atau mungkin ada sekelompok rakyat yang resek dan bernafsu mengganggu Mehmet si Komunis itu, ada cacat besar yang bisa dipakai untuk meruntuhkan kemenangan rakyat di Ovacık: segala gerakan komunisme dicap illegal dalam undang-undang Turki, seperti di kita Indonesia. Tetapi, rupanya, rakyat Turki tidak ber-‘sumbu pendek’.

Menyadari dirinya adalah sosok yang hadir ke pentas konstelasi politik lokal Turki dari partai politik yang di sana-sini dipenuhi musuh, Mehmet langsung bergerak bersama-sama rakyat jelata untuk membuat program-progam terobosan. Ia menyiapkan semuanya secara intensif dan masif. Sektor pertanian sebagai penghasilan terbesar rakyatnya digenjot, literasi disemarakkan, beasiswa disediakan untuk pelajar, sistem bantuan sosial direvolusi, dan transparansi keuangan pun dimulai.

Saat pertama kali Mehmet masuk kantor, laporan utang Ovacık terdata sebesar 1,2 juta Lira. Kabupaten yang tergolong terbelakang dan miskin itu mempunyai utang warisan yang tak sedikit. Pada 2015 kabupaten seluas 1,518 km2 itu cuma bisa menyimpan uang sebesar 150-200 ribu TL (setara sekitar Rp700 juta) dari sisa belanja setahun. Dalam laporan 2016 kekayaan milik rakyat Ovacık yang ada di bank pemerintah meningkat dengan jumlah 735 ribu Lira (sekitar Rp. 2,5 milyar). Dari uang tersebut, mereka membayar utang dengan cara mencicil (Sözcü, 15 Februari 2017). Sementara laporan terbuka 2015 mencatatkan uang keluar sebesar 2.752.914 TL dan uang masuk sebesar 2.892.507 TL.

Mehmet memampang spanduk laporan keuangan 2015 tepat di depan kantor kabupaten. Yang tidak bisa mengakses situs resmi mereka dapat langsung melihat sendiri tabel uang masuk dan uang keluar di sana.

Membumikan sosialisme
Sebagai anak petani, Mehmet Maçoğlu akrab dengan sawah. Hingga menjabat bupati pun, ia tak jarang datang bekerja bersama penduduk lokal, mengangkut bahan-bahan makanan sendiri, dan melebur dengan rakyat jelata tanpa melihat kelas dan strata sosial mereka.

Meski tak pernah muncul secara terbuka ihwal sangkut-kait dirinya dengan gerakan sosialisme di wilayah Turki timur dan tenggara yang digerakkan oleh Abdullah Ocalan (pendiri dan pemimpin pasukan pemberontak Partai Pekerja Kurdistan/PKK), sentuhan ideologi sosialisme yang disebabkan oleh mahalle (wilayah/sentrum ideologi) tak bisa terelakkan. Mehmet tumbuh dan besar di tengah gerakan nasionalis Kurdi dan gerakan-gerakan lain dengan ideologi libertarian socialism yang populer didengungkan oleh Ocalan.

Sejak 2015, Ovacık mempersiapkan projek besar produksi pangan yang dikelola bersama rakyat, berupa nohut (kacang polong), kuru fasulye (buncis) dan tomat di atas luas lahan masing-masing sekitar 200 dönümlük (ukuran tanah seluas kira-kira 920 meter per segi). Di samping itu, mereka juga mengembangkan produksi madu alami. Hasil dari semua projek tersebut kemudian didistribusikan kepada rakyat miskin di desa-desa yang membutuhkan.

“Komunisme artinya adalah hadir bersama-sama rakyat. Kami akan memulai revolusi pertanian di Ovacık,” tandas Mehmet (Hürriyet, 29 April 2015).

Setahun menduduki jabatan bupati, bus-bus tua dan ringsek (moda transportasi yang sangat mudah dijumpai di daerah-daerah Turki bagian timur atau tenggara karena ketidakadilan pembangunan di Turki masa lalu) diganti dengan bus modern standard kota-kota maju lainnya seperti Istanbul. Bus-bus tersebut sejatinya digratiskan kepada semua warga Ovacık. Hanya disediakan kotak kosong di samping sopir untuk mewadahi sumbangan suka rela bagi rakyat yang berpunya, untuk kemudian didistribusikan kepada rakyat jelata yang lebih membutuhkan.

Mehmet sendiri tidak memakai mobil dinas bermerk Renault Megane yang menghabiskan bensin 400-500 liter per bulan dan dianggap pemborosan. Uang bensin mobil dinas itu dipakai untuk membiayani bus kota yang digratiskan kepada rakyatnya. Mehmet juga tak jarang naik angkutan umum bersama rakyat sipil dan anak-anak sekolah.

Demi meningkatkan minat baca yang anjlok, Mehmet membangun dua perpustakaan dengan menyediakan lebih dari 10 ribu buku kepada rakyatnya cuma berjumlah tiga ribuan penduduk. Perpustakaan ini dibuka 24 jam dan semua penduduk bisa masuk dan meminjam buku kapan saja. Di lantai atas, disediakan ruang belajar yang diperuntukkan kepada para pelajar yang tengah mengerjakan tugas atau projek lainnya.

Bupati yang sehari-hari berbaur bersama rakyatnya untuk minum teh atau sekedar bermain kartu remi itu adalah sosok spesial di mata publik Turki, tetapi di tanah kelahirannya sendiri ia adalah dost dan yoldaş (sebutan bahasa Turki setara kamerad) dengan visi kerakyatan yang luas.

Dost dan yoldaş adalah identitas bahasa dan simbol yang secara gamblang bisa dibedakan dengan para politisi dari kelompok Islam misalnya. Dost (Persia: kawan) dalam praktiknya dipakai oleh kalangan modernis, sekuler dan kelompok kiri. Efek maknanya pun lebih egaliter. Sementara yoldaş (Turki: kawan sejalan/dalam satu jalan) murni milik kelompok kiri. Mehmet memakai dua simbol di atas demi menancapkan karakter sosialisme di masyarakatnya meski penggunaan simbol tersebut tidak secara radikal mengubah persepsi masyarakat.

“Sampai hari ini kita berpikir sosialis tetapi hidup dengan cara kapitalis. Nah, selanjutnya kami akan menjalani hidup seperti apa yang kami pikirkan,” tutur orang-orang Ovacık, seperti laporan Burclu Ünal bertajuk ‘Ovacık: Kuba di Turki’ (Milliyet, 23 Agustus 2014).

Simbol-simbol pejuang sosialis seperti Che Guvara dan Fidel Castro sangat mudah dijumpai di banyak tempat. Tepat di tengah kota Ovacık, ada Cuba Café yang dibangun oleh salah satu anggota DPR dari Partai Komunis Turki, Senem Yerlikaya bersama suaminya Deniz Yerlikaya. Café tersebut sering dijadikan tempat tongkrongan Mehmet dengan para dost dan yoldaş. Senem dan Deniz ingin menghadirkan spirit Kuba di Ovacık, “Kuba miskin tetapi menjadi negeri orang-orang bahagia. Ovacık juga demikian, miskin tapi orang-orang bahagia,” tuturnya kepada Binkelam, 7 Juni 2017.

Untuk membumikan nilai-nilai sosialisme dan komunisme, Mehmet melibatkan rakyat langsung untuk memutuskan sebuah proyek. Tak jarang pula Mehmet mengundang mereka untuk berembug membahas proyek-proyek bersama di kabupatennya. Mehmet membentuk Halk Meclisi (Majelis Rakyat) yang ditempati oleh utusan rakyat bersama termasuk dari kalangan pelajar. “Keputusan-keputusan diambil bersama rakyat. Jika ingin sesuatu kami sampaikan langsung,” tutur rakyat lokal Ayfer Yılmaz kepada Milliyet, 23 Agustus 2014.

Majelis Rakyat berada di luar hukum positif yang menjadi aturan dalam sistem pemerintahan Republik Turki. Ia didirikan semata-mata demi menyerap aspirasi dan partisipasi dengan model-model sosialisme, lebih tepatnya, untuk menerjemahkan demokrasi langsung. Model yang sedikit banyak mengingatkan kita pada proyek sosialisme Islam-nya Muammar Gaddafi dengan gerakan Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya. Meski Republik Rakyat (People’s Republic) yang diimpikan Gaddafi membusuk di tangannya sendiri ketika kekuasaan dirinya tanpa batas!

Mehmet menggunakan pendekatan berbeda dengan tetap memakai cara-cara demokrasi untuk menyerap aspirasi dan partisipasi. Dalam kampanyenya di depan rakyat Ovacık, ia tegas untuk menjalankan nilai-nilai demokrasi karena, baginya, “komünizm demokrasinin kendisidir” (komunisme adalah demokrasi itu sendiri).

Salah satu hasil nyata yang dinikmati bersama oleh rakyat Ovacık adalah harga air. Harga air (baca: PDAM) di Ovacık adalah termurah di Turki. Rakyat membayar konsumsi air per tiga bulan dengan harga paling tinggi 25 TL (sekitar Rp. 80.000). Mehmet sebenarnya ingin mengratiskan air kepada rakyatnya tapi terhalang oleh aturan dari pemerintah pusat terkait biaya operasi. Hebatnya, dengan keterbatasan uang daerah, Mehmet tengah merencanakan membangun rumah bagi rakyatnya yang tak berumah.

Komunis “bertuhan”
Mehmet adalah Tan Malaka-nya Indonesia, tokoh yang sama-sama membaca sosialisme dan komunisme dengan tafsir lokal dan kapasitas sosiokultural masing-masing. Dia lahir dan besar di sebuah kawasan tempat sejarah peradaban, agama-agama dan utusan-utusan Tuhan pernah hilir mudik, ujung utara Mesopotamia, Babilonia, Hittit, Assyarian, Romawi, Bizantyum Syam, pernah lahir.

Mehmet lebih tepat disebut sebagai komunis “bertuhan”, karena dirinya berafiliasi dengan Alevi (kelompok Alawi di Turki dikenal sebagai sempalan Syiah), sehingga kelompok Islam pun tidak serta merta menyebut dirinya dinsiz (atheis). Kehadiran dirinya di acara Bodrum Alevi Bektaşi Kültür Derneği (Asosiasi Kebudayaan Alawi-Bektash Bodrum) pada Februari 2017 di provinsi Bodrum bisa menjadi bukti bahwa dirinya adalah “Mehmet yang beragama dan bertuhan”. Meski kelompok Islamis Turki sangat anti komunis (karena aspek ateisnya yang menjadi ketakutan utama) bahkan kerap menjadikan kata komunis sebagai hujatan dan olok-olok, Mehmet hadir dengan warna yang berbeda.

Secara politik, Mehmet bukan didikan murni partai komunis. Ia lebih aktif sebagai aktivis dan tokoh sosialis yang pernah menjadi bagian dari partai sosialis Turki seperti BDP dan DHF. Selain itu, Mehmet pernah menang memimpin Ovacık tahun 2009 dari partai warisan Mustafa Kemal Ataturk, CHP (Partai Rakyat Republik), meski kemudian keluar di tahun 2013 karena tidak sejalan dengan partainya. Mehmet lebih mengasosiasikan dirinya sebagai sosialis, istilah yang lebih lembut dan bisa diterima di Turki tinimbang komunis. Karena partai-partai berideologi sosialis sangat subur tumbuh di Turki. Uniknya, media-media lokal di Turki kerap menuliskan “Komünist Başkan” (dengan tanda kutip) untuk menyebutkan nama Mehmet Maçoğlu.

Meski memimpin dari partai komunis, Mehmet mengerti bahwa dirinya menjadi pemimpin rakyat dengan ideologi yang beragam. Dia pernah membantu memperbaiki masjid di Uludere, Provinsi Sirnak, yang rusak karena dihantam rudal F-16 pasukan keamanan Turki dan menelan korban tewas 34 orang tahun 2011.

Namun begitu, efek partainya sebagai partai berideologi komunisme tidak bisa dinafikan untuk menyematkan citra komunis yang semakin kental pada dirinya. Tengok misalnya sebuah surat yang dikirim oleh seorang narapidana berikut: “Pemimpinku, saya tahu Anda komunis tetapi dengan izin Allah kirimkanlah sepasang sepatu buat saya,” Milliyet, 23 Agustus 2014. ***

Penulis adalah peneliti kebudayaan dan sastra Turki. Alumni pascasarjana Institut Ilmu Sosial (Sosyal Bilimler Enstitusu) di Selcuk University, Turki

 

Be the first to leave a comment!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *