PanaJournal – Lukisan-lukisan pada dinding telah membentangkan jarak antar peradaban dan sejarah manusia selama  ribuan tahun.

Dalam abad ketika kemajuan industri dan teknologi menciptakan kemudahan informasi dan kelimpahan materi, lukisan-lukisan pada dinding tetap dikerjakan, menghiasi tembok sudut-sudut kota yang riuh sampai sunyinya gang-gang kampung. Dikerjakan secara sembunyi-sembunyi ataupun terbuka, lukisan pada tembok tetap bersuara tentang hidup dan interaksi manusia di lingkungan tinggalnya.

Lukisan pada tembok adalah pantulan cermin keragaman nasib yang coba disuarakan secara visual, dan terus akan kita dapati sebagai pengalaman hidup manusia. Lukisan pada tembok juga upaya melanggengkan jejak, baik sosok, peristiwa, maupun pesan sosial. Namun tampaknya, seperti kata Leo Tolstoy dalam Anna Karenina (1873-1877) yang termasyhur, “kisah derita manusia selalu khas melebihi kebahagiaan.”

Tembok lapangan di Desa Nusajati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap.

Rumiati (43), selama 24 tahun menjadi juru parkir di Jl dr Angka, Sokanegara, Purwokerto Timur. Hidup menjanda, ia merawat putrinya seorang diri. Pendapatan dari parkir ia gunakan untuk membiayai sekolah putrinya sampai tingkat strata satu di salah satu perguruan tinggi di Semarang.

Tembok di Jalan Adhyaksa, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas.

Surya Esa (58), aktivis antinarkoba dan mantan pecandu. Ia mengelola Rumah Keluarga Kembang Cahaya yang mendampingi 160 mantan pecandu narkoba di eks-Karisidenan Banyumas lewat pendekatan seni lukis dan teater.

Tembok kebun di Desa Sidasari, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap.

Yudi Setiyadi (27), pegiat jurnalisme warga asal desa Keniten, Kecamatan Beji, Kabupaten Banyumas. Ia mengelola media rintisan lokal, mendapat apresiasi dari konvensi hak anak muda Indonesia 2014 oleh UNICEF untuk mengampanyekan hak informasi dan kebebasan berpendapat.

Tembok bangunan di lahan sengketa kawasan bisnis Kebondalem, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas.

Andi Waluyo (37), eks-pedagang pita di pertokoan Kebondalem. Disebabkan persoalan sengketa lahan, Andi memutuskan beralih tempat dagang. Ia menilai rakyat memang kerap jadi objek penderita diantara kepentingan-kepentingan kekuasaan.

Tembok lapangan di Desa Nusajati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap.

Ermi Nahidah (75), mantan buruh migran warga Karanglewas Lor Kecamatan Purwokerto Barat Kabupaten Banyumas. Ia menjalani lebih dari separuh hidupnya sebagai buruh mulai dari pengasuh anak di kampung sampai jadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi sebagai PRT. Kekerasan verbal dari majikan jadi salah satu pengalaman pahit hidupnya. ***

 

Be the first to leave a comment!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *