PanaJournal – I Gusti Ngurah Putu Wijaya adalah seniman serbabisa. Ia menulis cerita pendek, novel, esai, naskah drama, skenario film, sinetron—ia bahkan juga piawai melukis. Kepada PanaJournal, Putu menceritakan kiprahnya di satu bidang yang tak sering disebut: jurnalistik.


MENGENAKAN topi pet andalannya, Putu Wijaya (73) menyambut kami di rumahnya di Cirendeu, Ciputat Timur. Hari itu dia punya waktu sebentar sebelum mulai melatih kelompok Teater Mandiri yang akan pentas di Bentara Budaya Jakarta. Putu sedang menggenggam BlackBerry ketika kami datang. “Sudah empat tahun saya mengetik pakai ini,” katanya. Dia lantas memesan dua cangkir kopi dengan krimer untuk kami. Putu hanya minum air putih.

Kami lantas menuju ke ruang tamu. Ada beberapa lukisan karya Putu, diletakkan melingkar di dinding. Sambil menunggu minuman datang, Putu menjelaskan sedikit tentang lukisan-lukisan itu. Putu juga menunjukkan beberapa buku yang sedang dia baca. Saat saya bertanya siapa sosok penulis yang mempengaruhinya, Putu menjawab cepat, “Antara lain, Anton Chekov.”

Dalam bidang kesenian, Putu Wijaya seperti bisa melakukan apa saja. Pria kelahiran 11 April 1944 di Tabanan, Bali, itu menulis ribuan cerita pendek, ratusan esai, dan puluhan novel. Putu mendirikan Teater Mandiri pada 1971. Dia aktif menulis naskah, memimpin pementasan, menjadi sutradara sinetron dan film bioskop—belum lagi kepiawaiannya melukis. Hari itu, kami mengobrol santai tentang pengalamannya menjadi wartawan, profesi yang digelutinya selama puluhan tahun namun tak banyak disinggung. Berikut nukilan wawancara kami dengan Putu:

Q: Mengapa menjadi wartawan?

A: Sebenarnya saya tidak pernah niat berkarier di bidang jurnalistik. Waktu saya SMP, wartawan identik dengan orang yang tidak punya malu, bisa masuk ke mana saja dan bicara apa saja tanpa kuatir akan diprotes orang. Di Bali, ada tatanan bahasa tinggi-rendah, tapi wartawan bisa ngomong tanpa menurut pada aturan ini, dan orang tidak marah. Memotret segala macam, dimaafkan. Wartawan juga selalu dikasih jalan. Apa-apa dia duluan, sementara orang lain mengantre. Yang saya lihat waktu itu, wartawan bukan profesi terhormat, tapi justru agak memalukan.

Sekarang, ceritanya sudah berbeda. Orang harus melewati berbagai tahap untuk bisa menjadi wartawan. Di Tempo dulu, bahkan ada dokter dan insinyur. Wartawan juga dicegah menerima amplop, meskipun ada juga media yang tidak menggaji wartawannya dengan baik—bagaikan disuruh cari makan sendiri.

Nah, waktu SMA saya diminta mengelola majalah dinding. Waktu itu pun saya tidak berpikir soal kewartawanan, melainkan lebih ke penulisan. Karena suka membaca, dunia tulis menulis jadi terasa akrab. Dan ini berlangsung terus sampai saya kuliah hukum di Jogja (Putu menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada—Red).

Q: Jadi, cita-cita awal ingin menjadi ahli hukum?

A: Tidak juga, ha-ha-ha! Orang tua saya selalu berpikir, masa depan yang bagus adalah menjadi dokter atau insinyur. Mungkin juga termasuk berkarier di bidang hukum. Begitu saya lulus, saya serahkan ijazah ke orang tua sambil berpikir bahwa utang saya ke mereka sudah lunas. Saya bilang, sekarang biarkan saya jalan sendiri. Saya mau menggeluti kesenian yang saya cintai.

Lalu, sesuatu terjadi di kampung halaman dan orang tua saya membutuhkan uang. Karena itu saya harus punya pekerjaan. Di Jogja, satu-satunya pekerjaan yang memungkinkan bagi saya untuk mencari tambahan adalah menjadi wartawan atau penyiar TV. Lamaran saya ke stasiun televisi ditolak karena tidak bisa bahasa Jawa. Melamar ke harian Minggu Pagi juga tidak diterima. Waktu itu tidak ada tes masuk yang jelas seperti sekarang, melainkan “tes kawan”. Memang saya kenal beberapa orang di sana, tetapi tidak dekat.

Saya lalu ke Jakarta. Saya menulis resensi dan melamar ke sana-sini tanpa pernah diterima. Suatu ketika, seorang kawan berbisik, ada majalah namanya Ekspres. Di situ ada kawan-kawan seperti Goenawan Mohamad, Usamah, dan Salim Said. Saya melamar dan diterima. Pada 1969, saya resmi menjadi wartawan di Ekspres. Dua tahun kemudian, pindah ke Tempo.

Q: Jadi, boleh dibilang, kecemplung jadi wartawan.

A: Benar juga. Tapi, untunglah waktu SMA saya bertemu sastrawan Kirdjomulyo. Kami bertamu ke rumah salah satu kawan yang kaya. Kebetulan kawan itu juga suka menulis. Waktu Kirdjomulyo melihat ada mesin tik nganggur, dia bilang, “Kalau aku jadi kamu, kaya dan punya mesin tik, aku akan berjuang.”

Kata-kata Kirdjomulyo itu entah mengapa begitu menempel di otak saya. Kok, berjuang, sih? Masak, menulis saja berjuang? Nah, setelah saya jadi wartawan, baru kalimat ini benar-benar saya pahami.

Di Tempo, saya baru paham bahwa kewartawanan ada jenjangnya: reporter, editor, editor pelaksana, dan seterusnya sampai ke pimpinan redaksi. Artinya, berita yang kita tulis akan disunat terus sampai ke jenjang paling tinggi. Ini perjuangan menerima nasib tulisan. Lalu, berita juga harus awet karena mingguan. Kami harus cerdik mengolah peristiwa dan mencari celah apa yang menjadikannya tetap bernilai berita sampai seminggu ke depan. Belum lagi halaman Tempo yang tidak pernah dilempar ke belakang, sehingga tulisan harus menyambung. Lebih satu kata saja, harus dipotong.

Waktu SMA, saya sebagai pengelola majalah dinding tinggal menunggu artikel yang masuk. Kalau tidak ada yang mengirim, ya tidak terbit. Dalam menulis sastra juga seperti itu: menanti ide. Kalau macet, ya ditinggalkan, tidak kembali lagi.

Jurnalistik berbeda. Harus ada perencanaan. Setiap minggu ada rapat perencanaan. Semua orang harus usul, kalau tidak majalahnya kosong. Usul ini harus diterima oleh rapat redaksi. Setelah diterima, harus ada strategi untuk menuliskannya. Sambil menulis, harus dipikirkan fotonya apa. Semua ini hal baru buat saya. Maka itu, saya tanamkan betul-betul ucapan Kirdjomulyo: menulis itu berjuang. Menulis itu berkeringat. Saya kira inilah mengapa saya bisa menyesuaikan diri dengan Tempo.

Tentu saja tidak semua orang bisa begitu. Saya masuk ke Tempo bersama-sama dengan Chaerul Umam. Saya diterima sebagai Redaktur dan Umam Reporter. Chaerul Umam ini suka membantah. Suatu kali, dia ditugasi mewawancarai Arifin C. Noer. Waktu dikasih daftar pertanyaan oleh Goenawan, Umam bilang, “Ah, aku sendiri juga bisa menjawab pertanyaan ini! Masak begini ditanyakan!” Ha-ha-ha!

Lama-lama Umam tidak betah, lalu masuk ke film. Rupanya dia tidak suka punya atasan.

Q: Seniman identik dengan kebebasan, sedangkan wartawan harus menurut pada peraturan, sekurang-kurangnya gaya selingkung medianya. Bagaimana mengatasi hal ini?

A: Harus punya kerendahan hati. Sejak awal kerja, saya tahu saya harus mengikuti aturan jurnalisme kelompok. Istilahnya di Tempo waktu itu: jurnalisme sastra. Umpama di Senayan ada acara olahraga, jurnalisme umum akan langsung menulis pertandingan apa yang sedang berlangsung dan berapa skornya. Sedangkan jurnalisme sastra akan mulai dengan, “bulan sedang naik pelan-pelan, angin mendayu-dayu, tiba-tiba terjadi sebuah pukulan dahsyat!” He-he!

Di Tempo juga kami diajarkan untuk menyembunyikan opini. Jangan sampai menulis berita seperti sedang memberi kuliah. Makanya di Tempo suka pakai istilah “konon” atau “kabarnya”. Penyair Darmanto Jatman pernah tanya, apakah saya tidak tertekan disuruh mengikuti gaya kelompok. Saya bilang tidak, karena saya belajar. Saya pernah ke Bali seminggu, diminta membuat cover story isyu pariwisata. Ketika saya pulang, artikel itu dipotong habis sampai sisa satu kalimat. Tapi buat saya, biasa saja. Sisanya bisa diterbitkan jadi buku.

Satu tahun penuh saya belajar untuk menekan ego dan menyesuaikan diri. Saya berlatih untuk tidak membuat pembaca seperti digurui, atau merasa diledek karena kita seperti pura-pura bego dalam tulisan. Belum lagi, halaman yang kadang berubah-ubah. Saya belajar pelan-pelan dari satu kalimat, satu alinea, sampai bisa pres klaar.

Q: Putu Wijaya sambil bekerja sebagai wartawan, masih pentas drama, jadi sutradara, bahkan main film. Memang dikasih izin?

A: Tidak pernah secara langsung diberi izin, tapi saya memastikan kerjaan saya beres sehingga tidak pernah ditegur. Saya menjaga betul supaya saya tetap bisa berkesenian, tapi tidak kehilangan pekerjaan. Prinsip saya, jangan sampai menyiksa keluarga dengan penderitaan sebagai seniman. Kalau tidak dirongrong oleh keluarga, artinya saya bebas juga. Di kantor, prinsip yang sama berlaku: jangan sampai saya menyusahkan atasan dan jangan sampai atasan mereweli saya.

Supaya saya bebas berteater, saya selalu kerja cepat. Jam tiga atau empat sore saya sudah latihan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Setiap rapat perencanaan, saya memberi banyak sekali usulan. Hal yang tidak penting saya usulkan juga. Saya tidak pernah melanggar deadline. Rubrik yang menjadi tanggung jawab saya selalu terisi. Dengan begini, saya bebas main drama dan kadang curi-curi menulis cerita pendek.  Waktu syuting film Malin Kundang, saya bahkan tetap kerja.

Sedikit banyak, saya juga diuntungkan dengan posisi sebagai Redaktur. Artinya, saya tidak perlu ke lapangan setiap hari. Bidang yang saya pilih juga cenderung tidak berat, seperti musik, seni, teater, dan olahraga. Meski demikian, beberapa kali saya juga harus turun lapangan kalau reporter habis atau kerjanya terlalu lambat. Beberapa liputan yang saya kerjakan sendiri dan cukup berkesan adalah tentang pemain tanjidor di daerah Condet. Saya ke sana naik bus, jalan kaki dan menyeberang sawah. Saya juga pernah mewawancara penyeberang rakit di sungai.

Q: Ketika menulis cerpen, sastrawan bisa suka-suka. Tapi sebagai wartawan, tulisan harus berdasar pada data dan fakta. Wartawan juga harus memikirkan apakah beritanya eksklusif atau tidak. Apakah hal ini tidak mengganggu Anda sebagai seniman?

A: Saya ingat kritik HB Jassin terhadap Adinegoro, seorang penulis sekaligus wartawan. Menurut Jassin, sastranya Adinegoro kurang emosional karena dibatasi dengan disiplin kewartawanan dan cenderung ingin menyembunyikan emosi. Mochtar Lubis juga pernah dikritik serupa: karyanya jadi kurang indah karena terganggu oleh jurnalistik. Padahal, menurut saya kumpulan cerita “Perempuan” karya Mochtar Lubis itu salah satu yang terbaik.

Saya tidak setuju dengan anggapan Jassin. Sekarang, jurnal-jurnal panjang tetap dibaca. Tempo sukses dengan jurnalistik sastra. Seniman seperti Syu’bah Asa, Isma Sawitri, Noorca M. Massardi, dan Martin Aleida tidak pernah menerima keluhan karena kewartawanannya mengganggu sastra. Tidak pernah juga ada jurnalis protes: berita mereka ternoda karena kebanyakan emosi. Bagi saya, kewartawanan mempengaruhi sastra saya, bukan sebaliknya.

Q: Ketika sedang menulis atau mengedit berita, adakah godaan untuk berimajinasi, mengembangkannya di luar takaran jurnalistik?

A: Pasti ada. Tapi kalau saya lakukan, nanti saya dinilai tidak layak. Untuk mengatasinya, saya perhatikan betul-betul cara rekan-rekan saya mengedit. Sebulan sekali, ada review dari Goenawan. Ini juga saya perhatikan sungguh-sungguh. Di Tempo, saya tidak berambisi membuat tulisan bagus, yang penting saya aman dalam bekerja. Saya seperti membangun kesadaran bahwa saya itu bawahan. Hal ini saya syukuri sekarang. Karena terbiasa ada atasan, di kepala saya seperti selalu ada editor. Ini penting buat seorang penulis. Saat menulis saya tumpahkan semuanya. Lalu saya mempersilakan ‘editor’ di kepala untuk memotong apa yang perlu. Saya mungkin bukan jurnalis yang baik, tapi redaktur yang rajin dan taat pada pemimpin.

Q: Mengapa berhenti jadi wartawan?

A: Setelah 15 tahun di Tempo, saya bosan. Saya merasa dikejar-kejar untuk selalu menghasilkan berita, padahal hidup ini kan, tidak hanya bikin berita? Maka itu saya memutuskan bergabung di Zaman, yang lebih menawarkan tulisan-tulisan human-interest.

Suatu hari saya diundang makan siang di majalah Eksekutif oleh Toeti Adhitama. Tengah makan, Toeti mengamati saya lalu bilang, “Saya perhatikan, Anda kok leluconnya sama dengan orang-orang Tempo lain. Sampai gayanya pun sama.”

Saya terteror betul! Saya langsung merasa seperti klon. Kalaupun saya jadi hebat, nanti hebatnya pun sama. Itulah yang membuat saya berpikir. Bertahun-tahun terkurung dalam dinding-dinding yang sama, jadwal kami sama, lelucon kami sama, yang kami tulis sama, kami tertawa pun sama. Sungguh mengerikan! Tidak ada yang tidak saya setujui di Tempo, kecuali saya takut kehilangan diri saya.

Menariknya, meskipun sudah tidak jadi wartawan, insting kewartawanan ternyata terus melekat. Setiap kali saya mau menulis cerpen atau naskah drama, saya selalu bertanya-tanya, apa pentingnya naskah ini? Apakah naskah ini bisa dibaca? Apa manfaatnya untuk orang lain? Cerita ini saya tulis untuk saya, teman-teman, atau semua orang? Kalau dipentaskan, apakah orang-orang akan paham?

Saya juga jadi lebih memperhatikan isi media. Kakak saya suka membacakan berbagai kepala berita, lalu saya pilih beberapa yang menarik. Setiap membaca berita yang tidak diperhatikan, saya justru terinspirasi. Berita itu saya blow up dan saya jadikan cerita. Kewartawanan justru muncul ketika saya sudah tidak jadi wartawan. (***)

Leave a Reply