bocah-pembaca

PanaJournal – Tatkala anak-anak umumnya menyuntuki gawai, bocah-bocah ini justru mengakrabi buku.

Sabtu sore yang hangat, Primakids Center tak seramai biasanya. “Klub Baca sementara libur, ada ujian kelas enam SD,” suara Prima Kusumajati menyambut pengunjung rumahnya yang tak banyak. Hanya ada Davyna (8 tahun) bersama dua kawannya yang datang sore itu.

Klub Baca yang dimaksud Prima adalah kegiatan membaca buku yang dilakukan bersama-sama. Oleh sebab anggotanya anak-anak berumur tujuh sampai 12 tahunan, Klub Baca itu dijuluki Primakids. Biasanya, tak kurang dari 20 anak menghabiskan sore akhir pekannya di sana.

“Aku mau pinjam buku,” kata Davyna. Prima menyilakan. Gadis kecil itu bergegas menuju rak buku setinggi badannya.

Setelah mendapatkan buku pilihan, Davyna segera mencatatkan judulnya di buku peminjaman. “Tapi kita main di sini dulu ya, Vyn,” kata Sila, salah satu kawan Davyna. Sejurus kemudian, celoteh anak-anak itu riuh menyeruak dari dalam tenda di halaman sempit. Mereka ngobrol tentang buku yang dibaca bersama pekan lalu.s

Setahun sudah Klub Baca berdiri, sejak Prima memindahnya dari Pati ke Semarang pada 2015 lalu. “Dulu di Pati mulai 2009. Gratis,” ungkap Prima. Ia memulai kelompok membaca dengan mengundang anak-anak tetangga ke rumah sewa di Jalan Rambutan I, Lamper Lor, Semarang Timur.

Awalnya, hanya satu-dua anak saja yang menyambut undangan Prima. “Datang ke sini pun masih malu-malu. Kebanyakan belum begitu tertarik dengan buku. Televisi dan gadget lebih menarik,” kisah Prima.

Di ruang baca Primakids, tidak ada televisi. Beberapa anak memang datang membawa gawai. Prima tak melarang, namun juga tak membiarkan anak-anak memegang gawainya selama sesi membaca. Begitulah aturan yang dijalankan dengan konsisten dan ketat.

Pada masa kebanyakan anak lekat dengan televisi dan gawai seperti saat ini, bahkan generasi Davyna dijuluki digital native, aturan Prima menjadi ganjil. Mulanya Prima sendiri sangsi apakah anak-anak bertahan membaca buku di rumahnya, lantaran aturannya itu.

Nyatanya, Davyna dan kawan-kawannya kembali ke rumah Prima untuk meminjam buku dan membacanya, bahkan saat sesi membaca diliburkan seperti sekarang.

“Di sini senang, banyak temannya,” alasan Davyna. Katanya, semua buku asyik dibaca kalau bersama teman. Ia suka buku cerita, juga buku pengetahuan. Tidak ada buku pelajaran sekolah di perpustakaan Primakids.

Di Klub Baca, anak-anak berkumpul dalam kelompok-kelompok. Mereka membaca apa saja yang disepakati masing-masing kelompok. Cerita klasik, novel petualangan anak, atau sekadar cerita pendek yang ada di majalah anak. Kalau yang dibaca cerpen, biasanya selesai dalam satu kali pertemuan. Kalau buku cerita, satu bab dibaca dalam satu pertemuan.

Setiap anak memegang bacaan yang disepakati. Jika satu anak membaca, maka yang lain menyimak. Seperti itu berlangsung selama satu jam. Setelah selesai membaca, mereka akan membahas hasil bacaan dengan menceritakannya kembali.

Prima mendapat format itu setelah menjajal beberapa kali percobaan. Awalnya, satu kelompok berisi tujuh sampai sepuluh anak, membaca satu buku bergiliran. Setelah selesai ternyata kelompok itu tidak memahami isi buku. Ada yang kebingungan membaca saat tiba gilirannya.

Prima lantas mencoba menggandakan bacaan dan membaginya kepada masing-masing anak. Cara ini dipakai sampai sekarang.

Untuk mencegah kebosanan, setiap kelompok memiliki pemandu yang harus mengerti mood dan stamina anak-anak. Sesekali anak-anak Klub Baca diajak ke taman kota, menumpang angkutan umum, atau diajak untuk membuat prakarya. Misalnya, membuat wayang kertas berdasarkan kisah yang pernah dibaca, lalu mementaskannya.

“Untuk wayang, kami menggunakan media tenda. Dalangnya di dalam tenda, pencahayaan diatur, penontonnya di luar. Tenda di halaman itu yang dipakai. Sebetulnya itu bukan untuk mainan. Itu properti untuk bermain wayang yang sedang dijemur,” imbuh Prima.

Prima berupaya menjaga agar anak-anak selalu senang di rumahnya, demi stamina membaca yang bagus.

Hemingway di Kendal, Max Havelaar di Banten

Tiga puluh kilometer ke arah Barat dari rumah Prima, berdiri Pondok Maos Guyub. Kelompok membaca ini lebih lawas dari Klub Baca Primakids. Mereka berkumpul dalam sebangun rumah di pinggir Jalan Raya Bebengan, Boja, Kendal yang difungsikan menjadi perpustakaan sejak 2007.

Pondok Maos Guyub beranggotakan anak-anak kampung di sekitar pondok. “Ada anak SD kelas empat, lima dan seterusnya. Mereka membaur. Ada kelompok yang membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Lalu kelompok lain membaca The Old Man and The Sea,” kata Heri Chandra Santosa, salah satu pemandu di sana.

The Old Man and The Sea dalam edisi Bahasa Inggris, baru selesai dibaca bersama selama tiga tahun. Nyaris sama dengan cara yang dipakai Klub Baca Primakids, di Pondok Maos Guyub membaca secara berkelompok dilakukan dalam sekali sepekan secara bergiliran.

Format membaca berkelompok, bergiliran membaca dan menyimak di Pondok Maos Guyub dibawa sang pendiri, Sigit Susanto, dari Swiss. Sigit mendapatkan format itu dari kelompok membaca novel Ulysses karya James Joyce di Zürich yang ia ikuti. Sigit tinggal di kota Zug, Swiss, sesekali mudik ke Boja.

Penerapan format yang lumayan nekat. Soalnya, latar belakang anggota kelompok jauh berbeda. Pada kelompok membaca Ulysses yang diikuti Sigit, pembaca berusia dewasa dan mereka datang sendiri bukan karena diundang. Mereka berasal dari masyarakat yang memilik budaya baca. Mereka juga lebih dulu memahami isi buku, dan datang ke kelompok dengan kondisi siap mengkritisi.

Sedangkan di Pondok Maos Guyub, para pembaca berusia anak-anak dan remaja. Berasal dari masyarakat yang kesulitan menjangkau buku.

“Daerah kami belum bebas buta huruf. Warga yang sudah melek huruf pun belum tentu suka baca. Sebagian orang di sekitar kami hanya membaca saat sekolah, membaca merek pupuk, membaca angka timbangan getah karet, atau membaca undangan pengambilan rapor anaknya,” ungkap Heri.

Kendati begitu, format tersebut bertahan sampai sekarang. “Bagi sebagian orang, membaca dan terlebih membaca buku sastra adalah aktivitas pribadi. Membaca secara berkelompok ini merupakan cara yang massal, murah dan sosial,” kata Sigit.

Pada akhir 2009, format tersebut mulai diduplikasi oleh Ubaidilah Muchtar, guru Bahasa Indonesia yang mendirikan Taman Baca Balarea di Dusun Ciseel di pedalaman Lebak, Banten.

Selasa, 23 Maret 2010 adalah hari pertama format itu dipakai untuk membaca novel Max Havelaar karya oleh Multatuli. Undangan pukul empat sore. Ubai, panggilan Ubaidilah Muchtar, cemas tak ada yang hadir. Ia telah menyiapkan 20 eksemplar Max Havelaar. Buku itu dipilih karena cerita di dalamnya berlatar kehidupan masyarakat Lebak pada zaman Belanda.

Kedekatan sejarah dan letak geografis itulah yang ternyata menarik minat bocah-bocah Ciseel. Pada hari pertama itu, 17 pembaca datang. Aliyudin, Suatna, Dedi Kala, Pendi, Pepen, Nurdiyanta, Sanadi, Coni, Oji, Siti Alfiah, Sumi, Pipih Suyati Rohanah, Anisah, Siti Nuralimah, Mano Hidayat dan Ubai sendiri.

Usai membaca satu bab pada hari pertama, mereka menelusuri seperti apa rupa Multatuli, menggunakan laptop Ubai. Beruntung daya laptop diisi penuh oleh Ubai dari genset di sekolah tempatnya mengajar. Waktu itu belum ada listrik di Ciseel.

Pekan berikutnya sesi membaca diakhiri dengan membuka peta Lebak, mencari tahu tempat yang disebut dalam cerita. Tak lupa menghitung jarak tempat tersebut dengan Ciseel. Bocah-bocah yang duduk di bangku SMP dan SMA itu kegirangan menyadari jaraknya yang hanya tiga kilometer.

Membaca selalu diramaikan dengan pertanyaan tentang istilah-istilah. “Apa itu gulden, apa itu user-user, apa itu makelar?” tanya Aliyudin.

Setiap diksi ditelusuri lewat ilustrasi visual, berbagai benda bahkan aforisme. Baris-baris puisi yang muncul di naskah yang ditelusuri lewat teks sejarah, kamus dan buku-buku kuno, sampai kitab suci. Kelompok pembaca menelusuri berbagai sumber yang dipakai penulis. Karenanya, buku-buku lain di tempat Ubai tak luput dari pembacaan bocah-bocah itu usai “mengaji” Max Havelaar.

Permen tak lupa disuguhkan Ubai kepada bocah-bocah pembaca itu, dengan harapan dapat menambah semangat. Buku setebal 400-an halaman itu diselesaikan anak-anak Ciseel dalam 37 pekan.

Menjaga stamina membaca anggota kelompok memang tugas berat bagi pemandu. Seorang pemandu harus menguasai teks, memahami konteks, mengerti emosi dan psikologis kelompoknya, bahkan mampu mengatur ritme membaca dan menyimak. Pemandu harus punya strategi.

Jika mendapati suasana membaca menjadi jenuh bahkan peserta berkurang, Heri segera mengumumkan bahwa sesi membaca periode berikutnya akan dilakukan di warung soto atau depot jus. Anak-anak kembali antusias. Membaca dilakukan sembari jajan soto dan jus, dalam suasana yang santai. Pernah juga mereka membaca di pinggir kali. “Mereka tidak pernah membayangkan membaca akan semenarik dan semenyenangkan itu,” tutur Heri.

Ada satu adegan dalam novel Tohari yang menarik perhatian para pembaca kebil ini: mencabut singkong dengan cara dikencingi terlebih dulu. Kelompok lalu mencari tahu, mengapa harus dikencingi. Mereka pergi ke ladang singkong dan mencoba mencabut singkong dengan lebih dulu mengguyuri air di tanahnya. Ternyata, dengan dikencingi, tanah menjadi gembur sehingga singkong lebih mudah dicabut. Berhubung mencari air di kisah itu agak sulit, kencing menjadi pilihan yang lebih praktis.

Melahirkan pembaca

Perbedaan kemampuan membaca masing-masing anggota kelompok adalah persoalan lain yang harus dihadapi pemandu. Potensi setiap anggota harus dikenali. Jika ada yang membaca cepat, bagus dan mudah paham, akan digunakan untuk memancing peserta lain. Prinsipnya, jangan sampai yang membaca lebih lambat justru minder dan tak datang lagi.

Kalau sampai ada yang tidak datang berkali-kali ke kelompok, biasanya pemandu seorang diri atau bersama seluruh anggota kelompok menyambangi rumahnya. Mana tahu karena sakit, atau masalah lain. Jika ada yang dilarang orang tua, maka pemandu harus mendekati orang tua. Kata Heri, “Itulah yang berat. Butuh telaten dan sabar, sebab makan waktu.”

Ya, tak semua orang tua senang anaknya getol membaca. Prima juga mengalaminya, “Sebagian besar orang tua mempertanyakan, sebetulnya membaca berkelompok itu jenis kegiatan apa? Apakah punya manfaat untuk prestasi sekolah dan masa depan?” Prima tersenyum. “Bahkan kami pernah dicurigai menyebarkan ajaran agama tertentu!”

Prima lalu mencocokkan jadwal Klub Baca dengan jadwal anak-anak yang datang ke rumahnya. Ia hanya meyakini Klub Baca bermanfaat. Kebanggaan besar bagi Prima sebab ketekunan Davyna dalam Klub Baca ternyata meningkatkan prestasi sekolahnya. “Saya tidak tahu pasti, tapi mungkin karena terbiasa menyimak,” katanya.

Tidak mudah “melahirkan” bocah-bocah pembaca, termasuk lewat kelompok membaca sekalipun. Dalam prosesnya, penuh dengan hambatan, terutama soal animo peserta. Stamina membaca tidak sama, anggota kelompok bisa saja menyusut, lalu kelompok menjadi tidak aktif lagi.

Baik Sigit maupun Prima sama-sama mengembagkan jaringan. Jaringan yang dibangun Prima baru satu yang aktif, ada di Kompleks Perumahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Semarang. Jaringan yang dibangun Sigit sebetulnya ada 12 di seluruh Indonesia. Tapi hanya yang di Boja dan Lebak Banten yang aktif. “Nafas pengelolanya harus panjang,” kata Sigit.

Namun begitu, bocah-bocah pembaca itu menjadi oase di tengah keringnya budaya membaca di Indonesia. Berbagai penelitian selalu menempatkan minat baca masyarakat Indonesia di peringkat bawah.

Central Connecticut State University di New Britain, negara bagian Connecticut, Amerika Serikat merilis penelitian bertajuk The World’s Most Literate Nation (WMLN) pada Maret 2016. Penelitian tentang kebiasaan membaca yang digawangi John W Miller itu menempatkan Indonesia pada peringkat 60 dari 61 negara. Satu tingkat di atas Botswana dan satu tingkat di bawah Thailand.

Survei terbaru yang dilakukan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development – OECD) juga menunjukkan keterpurukan Indonesia. Berada dalam peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan orang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat. Salah satunya, kemampuan membaca terburuk dari 34 negara OECD.

Sebelum itu, United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah melakukan survei indeks membaca tahun 2011. Hasilnya, indeks membaca masyarakat Indonesia 0,001. Berarti dalam seribu penduduk hanya ada satu orang pembaca. Hasil survei UNESCO yang lebih zadul tahun 1992 menyebutkan, minat baca orang Indonesia menempati urutan 27 dari 32 negara.

Artinya, dalam lebih dari dua dekade, tidak ada perkembangan yang baik pada kebiasaan membaca orang Indonesia.

Akar masalahnya, menurut pustakawan Badollahi Mustafa dalam kajiannya, Indonesian People Reading Habit is Very Low: How Can Libraries Can Enhance The People Reading Habit, terbitan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2012, masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal yang memiliki tradisi lisan.

“Mereka tidak punya kebiasaan membaca sebagaimana seharusnya. Membaca hanya dilakukan saat ada tugas dari sekolah ataupun tempat kerja. Dorongan bagi siswa di sekolah untuk terbiasa membaca sangat lemah. Keluarga pun, khususnya orang tua, tidak menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anaknya,” papar Mustafa.

Badan Pusat Statistik pernah merilis data tahun 2006 yang menyebutkan, membaca tidak dilakukan orang Indonesia untuk mencari sumber informasi utama. Sebanyak 85,9% masyarakat lebih memilih menonton televisi, 40,3% menonton radio dan hanya 23,5% yang memilih koran.

Sebetulnya, telah ada Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Di dalamnya memuat kewajiban membaca selain buku mata pelajaran selama 15 menit setiap hari. Namun, aturan itu baru bisa diterapkan tahun ini, mengawali tahun ajaran baru. Itupun masih berupa rintisan pada sekurangnya 20 sekolah di Medan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Jakarta

Membaca secara berkelompok diyakini, setidaknya oleh Prima, Heri, Sigit dan Ubai, mampu menumbuhkan ketekunan dalam membaca.

“Saya sendiri tidak akan bilang bahwa ini akan melahirkan pembaca baru. Ini lebih pada cara membaca. Tapi kalau dianggap bisa begitu, syukurlah,” kata Sigit.

Sementara Prima yakin minat, baca akan dapat ditularkan dengan cara membaca berkelompok seperti itu. “Selain melihat orang tua, anak-anak melihat kawan bermainnya. Inilah yang diharapkan dapat menularkan minat baca,” ujar Prima.

“Bagaimanapun beratnya harus dilakukan, untuk meregenerasi pembaca,” pungkas Heri.

Pondok Maos Guyub masih terus guyub membaca. Davyna serta kawan-kawannya terus rutin datang ke rumah Prima. Bocah-bocah Ciseel mengulang membaca Max Havelar dan mengajak kawan lainnya. Ini tahun ketujuh mereka.***

Leave a Reply