PanaJournal – Ini adalah sepotong kisah tentang orang-orang Aceh di Chow Kit, buku-buku saku Anwar Ibrahim, dan mereka yang bertahan di pinggiran.

BENDERA MALAYSIA yang tampak pudar dan usang terpampang di kedai seluas tiga kali lapangan tenis itu. Di dalam, beberapa rak berbahan stainless steel penuh dengan berbagai lauk. Melewati pintu masuk, tepat di sebelah kiri, ada rak mie Aceh di dekat dapur kopi.

Kedai yang beralamat di kawasan Chow Kit, Malaysia itu, bernama Aceh Meutuah. Hari itu pertengahan bulan April.

Orang-orang yang duduk di kursi-kursi plastik putih di dalam kedai tersebut rata-rata bertutur dalam bahasa Aceh. Saya menghampiri salah satu meja tempat batu-batu cincin digelar.

“Batu dari Aceh,” ujar Marzuki, 42 tahun, ketika saya menatap batu-batu cincin tersebut.

Batu-batu cincin miliknya itu, kata dia, hanya dibeli oleh orang-orang Aceh yang tinggal di Malaysia. “Tak laku dijual untuk orang Melayu,” ujarnya.

Kepada saya Marzuki mengatakan, ia menjual batu cincin yang telah diikat dengan gagang seharga RM 100.

Marzuki, warga asal Peureulak Aceh Timur, sebenarnya pergi ke Chow Kit untuk berbelanja pakaian: jilbab dan celana jins pria. Nantinya barang-barang itu ia jual di kampungnya. Membawa dan menjual batu cincin Aceh di Malaysia hanya selingan saja.

Dalam beberapa bulan terakhir, nyaris di seluruh pelosok Aceh, baik di pinggir-pinggir jalan, kedai kopi, maupun di masjid atau meunasah (surau), orang-orang bicara soal jenis-jenis batu cincin. Gejala yang sama tampak di mana-mana di Indonesia.

Marzuki mendaku, ia ke Malaysia menempuh jalur laut, naik kapal feri. Waktu tempuh dari Pelabuhan Tanjung Balai, Sumatera Utara, ke Pelabuhan Klang Malaysia sekitar tiga jam. “Hanya Rp 670.000 ongkos untuk pulang pergi,” kata dia, sembari menunjukkan paspornya pada saya, seolah ingin menegaskan, ia bukan ‘pendatang haram’.

Biasanya, ia menetap di Chow Kit selama 15 hari. Setelah 15 hari berlalu untuk berbelanja, ia kembali ke kampung halaman. Begitulah pekerjaannya.

Jumlah warga Aceh di Chow Kit, menurut beberapa orang yang saya temui di kedai tersebut, mencapai 5.000 jiwa—tidak termasuk mereka yang tinggal di wilayah-wilayah lain di Malaysia.

“Itu belum lagi yang sudah beranak-cucu, yang datang berpuluh-puluh tahun silam,” kata salah seorang di kedai. “Datanglah ke sini ketika maulid, kau akan tahu.”

Di sepanjang jalan Raja Alang, Chow Kit, kedai-kedai runcit (kelontong) dan kios-kios milik orang Aceh yang berderet di kiri-kanan membuat suasana di sekitar sana sedikit banyak menyerupai suasana di Pasar Aceh, Banda Aceh.

Antje Missbach dalam bukunya Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh; Suatu Gambaran Tentang Konflik Separatis di Indonesia, menuliskan karena konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Republik Indonesia—pada periode 1970-an hingga 1980-an—banyak warga Aceh menjual aset mereka di kampung halaman untuk dijadikan modal berdagang di Malaysia.

“… cukup aman untuk mengasumsikan bahwa jumlah total orang Aceh di Malaysia mendekati 50.000 jiwa,” tulis Antje.

SEPERTI TIMOR LESTE

Saya bersama empat rekan lainnya dari Konsorsium Aceh Baru, bertandang ke Chow Kit untuk sekedar jalan-jalan. Tujuan kami sebenarnya pergi ke Malaysia, mengikuti Asean Civil Society Conference/Asean Peoples’ Forum (ACSC/APF) 2015 di Kuala Lumpur, yang digelar pada 21-24 April 2015 lalu.

Secretary-General Konsorsium Aceh Baru, Juanda Djamal, menjadi salah satu pembicara dalam serangkaian workshop ACSC/APF. Tema workshop-nya: “Reflection on on Peace Talks in Myanmar (Burma), Patani (Thailand), Aceh (Indonesia), and Bangsa Moro (Philippine)”.

Kuala Lumpur, tuan rumah yang sibuk: Mass Rapid Transit (MRT) tiap waktu membawa penumpang yang berdesakan ke pusat perbelanjaan.

Di Aula Wisma MCA, Kuala Lumpur, 22 April sore, Asean Civil Society Conference/Asean Peoples’ Forum dibuka. Ketua Panitia ACSC/APF 2015 Jerald Joseph, pria dengan postur tubuh tinggi-besar, kulit gelap, hidung mancung, dan kepala plontos, berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan kata-kata sambutan.

Di akhir pidatonya, setelah deretan kata-kata “selamat datang” ia ucapkan berkali-kali, Jerald mengumbar eksotisme Malaysia sembari mengingatkan para peserta untuk berwisata di negara tersebut.

Lalu giliran tiga pembicara dari Malaysia: Prof Johan Saravanamuttu, Ambiga Sreenevasan, dan Sabariah Yusri, masing-masing mengangkat topik tentang kondisi politik (Pilihan Raya Umum atau Pemilu), hukum dan keamanan, dan etnik minoritas/budaya di sana. Disusul sesi tanya jawab. Isu yang mencuat di tengah-tengah forum tersebut adalah politik uang pada Pilihan Raya Malaysia 2013 lalu.

Suasana acuh tak acuh berubah serius kala Syah Muhammad, pria yang berasal dari Serawak, angkat bicara.

Dalam bahasa Inggris dia berkata, “Kami, orang Serawak, ingin merdeka dari Malaysia. Kami kaya akan sumber daya alam, tapi kami terpinggirkan. Lima puluh tahun kami bersama Malaysia, tapi tampaknya sia-sia. Kami berharap ASEAN dan PBB membantu kami, seperti kalian membantu Timor Leste meraih kemerdekaan.”

Ambiga lantas merespon pernyataan Syah Muhammad dengan jawaban normatif, “Kami mencintai Serawak dan Sabah. Kami tak akan membiarkan kalian pergi. Kita harus bekerja sama untuk mewujudkan Malaysia yang kita semua harapkan.”

Hal yang tak jauh berbeda juga disampaikan oleh dua pembicara lainnya.

THE OUTSIDER

ACSC/APF 2015 mengadakan berbagai bentuk acara, di antaranya workshop dengan beragam tema, yakni ekonomi, buruh migran, lingkungan, gender dan Sexual Orientation, Gender Identity & Expression (SOGIE), demokrasi, hak asasi manusia (HAM), hukuman mati, hak atas penggunaan internet, media, pemerintahan, dan resolusi konflik serta perdamaian.

Sebelas negara ASEAN membawa segudang masalah masing-masing, dengan harapan saling berbagi satu sama lain.

Stan-stan sederhana menampilkan selebaran, poster, booklet, dan flyer. “Ruang-ruang” kampanye penolakan hukuman mati, aktivis yang diculik atau dihilangkan, dan pembebasan aktivis yang kini dipenjara di sejumlah negara ASEAN. Tak pasti benar disediakan panitia atau dimanfaatkan dengan sendiri oleh para peserta. Pemutaran film dokumenter juga dilangsungkan dalam acara tersebut.

Di salah sudut ruangan lantai dua, tersusun rapi DVD film dokumenter, buku-buku saku tentang hak-hak warga sipil di Malaysia, dan buku-buku saku kampanye “Bebaskan Anwar Ibrahim!”. Itu stan Pusat Komunikasi Masyarakat (Komas), sebuah lembaga yang mengampanyekan demokrasi dan HAM melalui berbagai media kreatif.

Buku-buku saku yang membongkar fitnah terhadap Anwar Ibrahim paling mencolok di stan tersebut.

Anwar Ibrahim adalah tokoh oposisi Malaysia, yang mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri Malaysia dan membentuk aliansi Pakatan Rakyat dengan anggota Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Partai Tindakan Demokratik (DAP) dan Partai Keadilan pada Pilihan Raya Umum 2013 lalu. Ia kalah. Nazib Razak, rivalnya, keluar sebagai pemenang.

Anwar dijebloskan ke penjara dengan diangkat kembali kasus lama atas tuduhan melakukan sodomi terhadap asistennya. Pada 2012 lalu sebenarnya Pengadilan Federal Malaysia memutuskan bahwa Anwar bebas dari tuduhan tersebut. Namun pada 2014, Pengadilan Banding menetapkan Anwar bersalah atas tuduhan sodomi dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Saya bayangkan, Anwar mengalami nasib tak jauh berbeda dengan nasib Mersault, tokoh utama dalam novel Albert Camus, The Outsider. Mersault dijebloskan ke dalam penjara lantaran membunuh seorang Arab. Ketika di persidangan, jaksa malah mempersoalkan sikap Meursault yang tidak bersedih saat pemakaman ibunya dan bercinta dalam masa berkabung selepas meninggalnya sang ibu.

Jaksa lantas menjatuhkan hukuman bukan berdasarkan kasus pembunuhan yang ia lakukan, tapi lantaran sikap Meursault yang dianggap tak bermoral. Hingga hari kematiannya, Meursault tetap sendirian. ***

Leave a Reply

1 comment

  1. Deddy

    Baru ngeh PanaJournal.com “berganti baju” alias desain! Proficiat.