PanaJournal – Mengikuti kehidupan satu hari penjaga mercusuar di Nusakambangan. Sisi lain nan sepi dari pulau tahanan.

DI TERAS RUMAH, bertelanjang dada Kusni, 38 tahun, duduk mengangkat kaki. Celana pendeknya bolong. Kolornya kelihatan. Ia menunduk, menatap telepon seluler di tangannya. Sebuah ponsel hitam kecil keluaran lama merek Nokia. Usang dan terbungkus kantung plastik bening yang tak kalah kusam.

Peluh meleleh dari dada ke perutnya yang agak buncit. Kopi hitam pekat tinggal setengah gelas. Kotak plastik berisi biskuit persegi bertabur gula ada di sampingnya. Juga sebungkus rokok kretek. “Ini tadi habis mbabat rumput,” kata dia.

Cuaca cerah. Matahari bersinar terik. Tengah hari sudah lewat dua puluh menit. Nyaris dua jam perjalanan ketika akhirnya saya menginjakkan kaki di rumah itu.

Saya minta tolong Kusni memanggilkan bos-nya, Sigit Permono, 42 tahun, asal Purbalingga, satu dari lima penjaga Mercusuar Cimiring, Nusakambangan. Sigit keluar. Perawakannya kekar. Kepalanya yang bulat telur dihiasi kumis dan jenggot tipis.

“Wah, Mas orang pertama yang sampai di sini. Tapi, kalau untuk foto-foto harus izin dulu. Ini sudah jadi tugas saya,” kata dia.

Sigit mengikuti rekrutmen Kementerian Perhubungan hampir sepuluh tahun lalu. Tiga bulan terakhir, mantan kontraktor itu ditempatkan di Subdistrik Navigasi kelas III Cilacap, di bawah Direktorat Kenavigasian Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Sigit sebelumnya bertugas di mercusuar Pantai Baron, Gunungkidul, dan mercusuar Legokjawa, Pangandaran. “Sekarang enak, bisa deket keluarga. Tapi memang lebih berat,” kata bapak dua anak yang tinggal di Kota Cilacap ini.

Tugas jaga di Cimiring digilir minimal dua orang untuk tiap pekan. Seminggu berikutnya petugas bisa libur dan pulang ke rumah. Tapi kala itu bapak dua anak ini—kelas 2 SMP dan 1 SD—harus berjaga sendirian. “Teman sedang ijin pulang.”

Kusni bukan pegawai tapi sering dipekerjakan di mercusuar. Posturnya tak besar tapi tubuhnya liat. Rambutnya dibelah tengah dan kumis-jenggotnya dibiarkan berantakan. Warga Cilacap ini tinggal di Pantai Karangtengah. Di sekitar pantai ini ada belasan rumah warga termasuk para pendatang seperti Kusni. Umumnya menjadi nelayan, tapi ketika laut tak bersahabat mereka jadi penderes kelapa.

Sebagai nelayan, andalan Kusni adalah lobster. Sialnya, kini tempat pelelangan ikan dan pedagang hanya mau menerima lobster ukuran besar dan berbobot di atas tiga ons per ekor. Setiap satu kilogram lobster bakal dihargai Rp 200 ribu. “Lobster kecil sekarang nggak laku. Mungkin karena aturan menteri yang baru.”

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memang menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/Permen KP/2015 yang melarang penangkapan ikan-ikan kecil demi menjaga pasokan ikan.

Alam Nusakambangan juga makin buruk. Menurut dia, tak sedikit wilayah hutan Nusakambangan yang ditebangi. Pohon-pohon dijadikan bahan bangunan. “Pohon kelapa makin sedikit.” Ini berpengaruh terhadap hasil usahanya menderes.

Maka untuk menyambung hidup Kusni menerima pekerjaan di mercusuar. Mulai bersih-bersih, angkat-angkat barang, sampai mengurus kuda. “Apa saja,” kata dia. Kusni tak pernah sekolah dan buta huruf.

Pada usia sembilan tahun, mendiang bapak mengajak Kusni dan adik laki-lakinya ke Nusakambangan untuk pertama kali bekerja. Sejak itu, dua bersaudara ini bolak-balik ke pulau. “Padahal dulu pulau sangat ketat, penjaga bawa senjata disebar,” kata Kusni.

Sigit menawari menginap, yang segera saya terima dengan senang hati. Sambil merebahkan tubuh di lantai teras, ransel saya jadikan bantal. Di atas sana terlihat ujung tertinggi dan paling timur dari Pulau Nusakambangan, Mercusuar Cimiring.

Alcatraz-nya Indonesia

Mercusuar Cimiring bukan menara jangkung. Tingginya hanya delapan meter. Ia tampak menjulang karena berada pada 170 meter di atas permukaan laut. Dinding mercusuar berwarna putih, kusam oleh waktu.

Menara terdiri atas tiga tingkat melingkar berdiameter berbeda. Mirip susunan kue tart ulang tahun. Bangunan dasar berdiameter sekitar enam meter dengan tinggi hampir empat meter. Wujudnya serupa benteng kastil tapi pendek.

Pada sisi utara tercetak relief burung—mirip Garuda—warna kuning yang menggenggam padi dan kapas. Paruhnya menghadap ke depan dan sepasang kakinya menggenggam pita bertulisan “Perhubungan RI”. Logo Kementerian Perhubungan ini, sebagai penanggungjawab mercusuar, ditambahkan dari bentuk aslinya.

Di atasnya, sebagai leher mercusuar, berdiri bangunan diameter dan tinggi masing-masing sekitar tiga meter. Seperti pada benteng, pada leher mercusuar terdapat tangga besi menuju tingkat teratas berupa ruang berbentuk tabung dengan jendela kaca. Tinggi dan diameternya masing-masing dua meter.

Cimiring berada di ujung timur dari Nusakambangan. Arahnya berlawanan dari kompleks lembaga pemasyarakatan yang terpusat di bagian tengah-barat pulau hingga menabalkan pulau ini jadi Alcatraz-nya Indonesia.

Maka, dari puncak menara, terhampar laut selatan Pulau Jawa. Beberapa kapal besar tampak di sebelah selatan, Samudera Hindia. “Wilayah ini memang ramai sama kapal-kapal luar seperti dari Australia sampai Panama,” ujar Sigit. “Dari angkut pupuk sampai impor sapi.”

Perahu-perahu nelayan lebih banyak lagi, tersebar hampir di semua arah laut. Sebagian horizon utara hingga sisi barat tertutup pepohonan. Apalagi arah barat ini merupakan “badan” pulau. Tiga ekor monyet berkelebat dari rerimbunan.

Dari pucuk menara, bangunan kompleks mercusuar terlihat. Kompleks mercusuar terdiri beberapa bangunan. Bangunan “baru” berupa blok tiga unit rumah di sisi barat. Mess ini, begitu istilah Sigit, dibangun sekitar 1980 untuk tempat inap para penjaga. Tiap rumah terdiri atas ruang tamu, dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi dengan lantai tegel putih. Saya taksir luas tiap rumah 10x6meter.

Hanya rumah di bagian tengah yang digunakan. “Soalnya ada televisi.” Di terasnya disediakan dua bangku dan meja kecil. Perabot yang sama mengisi ruang tamu bersama satu meja kayu besar untuk menaruh televisi, penanak nasi listrik, teko, termos, gelas, juga colokan listrik dan kabel-kabel pengisi daya ponsel.

Saya diminta tidur di kamar. Ada dipan besi dengan kasur ukuran satu orang dan satu meja kecil. Tali jemuran melintang di dalam kamar diisi satu kaos dan handuk mini. Tak ada apa-apa lagi selain itu. Kamar Sigit, ada maupun tidak ada orangnya, selalu tertutup.

Dapur cuma diisi rak piring dan kompor gas. Kamar mandinya resik. Bagian belakang rumah ada teras kecil yang menghadap tegalan. Belasan pohon kelapa yang dirubung alang-alang setinggi nyaris dua meter. Selebihnya hutan.

Kompleks bangunan berdiri bertingkat-tingkat pada sebuah bukit dengan puncaknya di mercusuar. Satu bangunan paling bawah—dipisahkan tangga di sebelah utara mess—adalah kandang kuda beratap seng.

Ketika itu, hanya ada Inul dan anaknya yang belum diberi nama. Inul, yang tubuh dan surainya berwarna coklat, baru 10 hari beranak. Sigit dan Kusni hanya menyebut dia sebagai kuda lokal tanpa tahu jenis dan umurnya. Dua kuda jantan, Sadam dan Uhud, sedang dilepaskan dan berkeliaran mencari makan hingga ke luar pagar. “Nanti biasanya pulang sendiri,” kata Sigit.

Area kompleks mercusuar dikelilingi pagar. Cakupannya, menurut Sigit, sampai tiga hektar. Pagar ini mirip pagar terali rumah biasa. Sebagian pagar tidak terlihat karena ditelan rimbun tumbuhan. Kondisinya pun alakadarnya. Beberapa bagian berkarat, koyak, bahkan jebol sehingga hewan dan orang bisa melintas.

Di sekitar kompleks mercusuar tumbuh pohon-pohon kelapa. Ini konon yang membedakan antara wilayah di dalam dan di luar pagar. Nyiur sengaja ditanam oleh para penjaga terdahulu.

Satu-satunya pintu masuk resmi ke Cimiring berupa gerbang besi. Jalan setapak 20 an meter memisahkan kandang kuda dan gerbang.

Di luar gerbang pagar, jalan setapak masih menjulur masuk ke hutan. Meski ada beberapa cabang kecil, rute tersebut merupakan jalur utama pulang-pergi ke Cimiring ke tempat merapat perahu. Lokasinya di salah satu ceruk Pantai Karangtengah, tak jauh dari objek wisata Benteng Portugis yang ramai oleh turis. Saya sendiri berangkat dari Teluk Penyu, Cilacap, menumpang perahu motor seorang nelayan bernama Syuhada, yang rupanya kawan Kusni.

Teman 

Bakda asar, saya baru terjaga dari tidur. Kusni duduk mencangkung di belakang rumah. Rupanya, selama saya terlelap, ia melanjutkan tugasnya, melenyapkan rumput dan alang-alang.

Kusni menyilakan saya makan. Menu makan siang yang sangat telat itu bobor kangkung dan tempe goreng buatan Sigit.

Sigit muncul dari kamar mandi. Ia berganti kaos—kali ini warna biru—namun celananya masih sama, celana pendek dari bahan jins dengan warna mulai pudar.

“Kalau air banyak begini bisa mandi dua kali,” sapa dia, dengan paras segar nan sumringah.

Untuk masak, minum, dan mandi penghuni Cimiring mengandalkan air hujan. Soalnya kondisi geologi Cimiring keras. Air tanah susah. Dalam kelakar Sigit, menggali tanah sampai lebih dari 100 meter untuk sumur pun tak bakal keluar air. Menurut Kusni, kondisi ini cuma terjadi di Cimiring karena orang-orang Karangtengah lebih mudah membuat sumur.

Sebagai sediaan air, di sekitar rumah tersebar sepuluh tandon berdaya tampung 1.050 liter besar yang terisi penuh. Di tangga depan menuju rumah juga dibangun bak air permanen setinggi fondasi rumah. “Stok air diperkirakan bisa untuk enam bulan.”

Waktu itu masih musim hujan. Stok air berlimpah. “Mandinya campur kecebong, minumnya air aki,” kata Sigit. Maksudnya, untuk minum, air yang dipakai sama dengan air yang dipakai untuk campuran mesin aki. Setelah dimasak, air untuk minum cukup disimpan dalam dispenser.

Tapi sering juga target stok air meleset. Apalagi ketika masuk musim kemarau panjang. Kondisi ini terjadi juga pada kemarau lalu. “Tidak mandi satu minggu sudah biasa,” Sigit terkekeh.

Pada masa-masa susah air, penjaga hemat air habis-habisan. Jika ingin badan segar, cukup mencelupkan handuk ke segayung air untuk dioleskan ke badan. “kalau makan pakai daun. Habis makan langsung buang, tidak perlu cuci piring.”

Air tidak termasuk kebutuhan yang dipasok ke Cimiring. Saban bulan, antara tanggal 5-10, pasokan kebutuhan sehari-hari didatangkan dari Cilacap. Dari sembako, gas, hingga solar. Suplai kebutuhan pokok disesuaikan dengan pergantian petugas jaga.

Persiapan dimulai sehari sebelumnya. Terutama menyiapkan kuda-kuda yang harus dalam kondisi prima. Mereka mesti banyak makan karena menjadi pengangkut barang. Mencari rumput sebagai pakan kuda jadi pekerjaan kuda.

Maklum saja, mereka bakal melalui perjalanan pulang-pergi Cimiring-Karangtengah. Jauhnya sekitar sepuluh kilometer. Rute itu persis rute yang saya lalui. Inilah rute terdekat dan paling mungkin untuk dilalui kuda yang membawa barang.

Pagi buta mereka berangkat. Menjelang sore biasanya rombongan sudah sampai di “rumah” mereka lagi. “Pas angkut-angkut ini sebetulnya yang paling capek kerja di sini,” kata Sigit. “Sejak tugas di sini saya berhenti merokok. Supaya kuat.”

Itu yang rutin. Kalau ada peralatan rusak, pekerjaan angkut-angkut ini tambah berat. Misalnya ketika dinamo pada mesin diesel harus diganti butuh dua orang mengangkatnya. Adapun mesin genset perlu tenaga enam orang.

Kalau sudah begitu, warga Karangtengah lain dimintai tolong. Selain memanfaatkan kuda, mereka biasanya membuat alat pikul yang bisa menggotong peralatan beramai-ramai. Secara berpasangan, Kusni dan adiknya pernah memikul tandon air ketika pertama didatangkan.

“Padahal adik saya kurus seperti sampeyan, ” kata Kusni pada saya. “Dan saya,” lanjut Kusni sambil melirik Sigit, “masih bisa habis (rokok) dua setengah pak sehari.” Asal tahu saja, bobot saya mentok 60 kilogram dan saya tidak pernah merokok.

Sore itu, usai mandi Sigit mencabuti rumput di dinding batu depan rumah. Pekerjaan alakadarnya saja. Ia menunjukkan pohon cabe yang ditanam di pekarangan depan, di samping pohon pepaya. Tanaman yang sama ada di belakang rumah. Cabe merah dan hijau kecil-kecil bermunculan. “Kalau mau masak tinggal petik.”

Dari belakang rumah, masih tanpa baju, Kusni meyambar parang dan gulungan tali. Ia bergegas ke belakang rumah lagi dan dalam hitungan detik sudah di pucuk pohon kelapa setinggi delapan meter. Parangnya menyambar lalu terdengar suara berdebum beberapa kali.

Ia kembali dengan menyunggi sebelas kelapa. Sambil jongkok, ia lalu memotong beberapa bagian. Empat kelapa dilubangi dan langsung kami teguk airnya. “Tidak ada yang muda,” keluh Kusni usai membelah beberapa kelapa. Toh, ia sendirian yang akhirnya menikmati daging buah itu. Malam itu, kami mabok air kelapa.

Jam 18.10, saat matahari belum terbenam, Sigit menuju ruang genset dan menghidupkannya. Suara dengungnya diiringi nyala lampu-lampu di rumah dan kompleks. Dari puncak mercusuar terdengar deru putaran mekanik. Cahaya kuning-keemasan berputar, menyambar daun-daun pohon, dan menyorot segala penjuru hingga 30 mil ke tengah lautan.

Gerimis mulai turun.

Colokan listrik di samping televisi langsung penuh oleh ponsel. Sigit menghidupkan televisi 22 inchi. Setiap saluran tak jernih. Penuh semut dan berisik. Ia ke teras rumah dan menggoyang-goyang galah bambu yang ujungnya dipasangi antena. Usahanya sedikit berbuah. Semut di layar mulai berkurang tapi tak betul-betul bersih.

Televisi menampilkan MetroTV yang menyiarkan berita kisruh Kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Ketika itu, satu hari usai Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap polisi.

“Seru ini. Kalau kayak gini, kasihan pemerintah.”

“Lebih ramai mana sama hukuman mati kemarin di sini?” tanya saya.

Persis sepekan sebelumnya, lima terpidana mati kasus narkoba dieksekusi mati di Nusakambangan. Dalam beberapa waktu ke depan, dua terpidana kelompok Bali Nine asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, akan menyusul dihukum mati di sini.

Eksekusi mati terpidana narkoba berlokasi di Limus Buntu tak jauh dari Lapas Batu. Lokasi eksekusi terpidana terorisme bom Bali Amrozy dkk pada 2008 di Lembah Nirbaya juga sekitar Lapas Batu. Jarak kompleks lapas yang dibangun pada 1925 dengan Cimiring hampir separuh panjang Nusakambangan.

“Kalau ramenya ya, di sana, di lapas. Kalau di sini ya, begini ini, sama saja.”

Pihak Cimiring memang dihubungi petugas lapas bahwa akan ada eksekusi mati. Cuma pemberitahuan biasa. Koordinasi seperti itu berlangsung rutin. Cukup via telepon saja. Jika ada tahanan yang lari dari sel, komunikasi bisa lebih sering. Petugas lapas juga sampai datang. Siapa tahu, buronan lari ke arah mercusuar.

Dari cerita kawan-kawannya, menurut Sigit, setidaknya ada tiga orang residivis yang bisa lolos dalam beberapa tahun terakhir.

“Dua ketangkep, yang satu belum. Ada yang ketangkep sembunyi di bawah pohon. Pembunuh. Dari Sumatera katanya. Tapi masih di daerah-daerah sana. Ndak ada yang lari ke Cimiring.”

Sigit memanasi sayur bobor kangkung menu makan siang. Ada tambahan lauk tahu goreng.

Hujan semakin deras.

Kusni telah meninggalkan kompleks bakda Isya tadi. Kata dia, mau mencari Uhud dan Sadam yang hingga malam itu belum pulang. Tapi tujuan utamanya berburu. Targetnya? “Apa saja lah, paling kancil sama kidang.” Kidang bahasa Jawa untuk kijang.

Kusni tak khawatir dengan ancaman binatang buas di hutan. Pengalamannya to, lebih buruk. Tahun 2007, saat memasang jebakan untuk celeng, Kusni justru menangkap macan kumbang. Perut Kusni sempat terluka kena cakar. Namun macan itu akhirnya mampus di tangannya ditusuk tombak. Dagingnya disantap ramai-ramai. “Saya bilang itu daging luwak,” kata Kusni, nyengir.

Malam itu, Kusni berangkat sambil menyandang parang, dan tas kain kecil. Isi tas itu mantel, senter, dan rokok kretek. Ia cuma mengenakan kaos dan celana pendek yang sama di hari itu, sepatu kets yang dipakai macam selop, dan topi yang dipasang terbalik. Namun, yang paling mencolok adalah senapan yang tersampir di bahu kanannya. “Senapan angin saja, tapi kalau ketahuan ya tetep disita. Nggak boleh.”

Menurut aturan, senapan—apapun jenisnya–sudah dilarang di Nusakambangan. Aturan penggunaan senjata makin ketat satu tahun belakangan. Senapan dan peluru para penjaga mercusuar pun ditarik oleh Kepolisian. Alasannya senjata bisa disalahgunakan baik oleh aparat maupun penjahat. Apalagi marak aksi kejahatan, termasuk terorisme, menggunakan senjata rakitan.

Aparat di Nusakambangan pernah ikut sibuk gara-gara peraturan ini. Sebabnya, seorang anggota Brimob kehilangan sebutir peluru. “Semua diperiksa dan ditanya satu-satu.”

Hingga pagi, hujan belum berhenti. Kusni pulang jam 7.30. “Nggak dapat apa-apa. Nggak ketemu apa-apa juga.” Ia menginap di gubug nelayan di Pantai Kalipat. Ini pantai di sisi selatan Cimiring. Biasanya kuda merumput sampai situ. Tapi, Kusni tak bersua atau melihat jejak Uhud dan Sadam. “Daripada hilang, mending dijual kayak Kliwon, laku lima setengah juta,” celetuk dia soal nasib salah satu kuda Cimiring.

Setelah sarapan dan menikmati kopi hitam pekat kesukaannya, Kusni melanjutkan pekerjaan menyiangi rumput. Di tengah rintik hujan, Sigit mengantar saya melihat panorama dari mercusuar. Tak lupa ia masuk ke ruang genset dan mengisinya dengan solar satu jeriken untuk persiapan nanti sore. “Saya senang ada yang ke sini. Ada teman.”

Curam

Gerimis belum habis saat saya meninggalkan Cimiring jam 9.30 pagi. Saya melalui jalur berbeda. Dari gerbang Cimiring, sekitar 50 meter ada belokan kecil menurun yang mengarah ke Karangbandung. Ini pantai terdekat dari Cimiring, jaraknya hanya tak sampai separo jarak berangkat Karangtengah-Cimiring.

Tapi kondisi rute ini sungguh menantang. Lebih curam, lebih licin, lebih rimbun tanaman. Beberapa kali setapak tampak habis karena tertutup semak atau tanahnya tergerus longsor. Untung hujan sudah usai.

Saya perlu waktu tiga jam perjalanan setelah sempat tersesat dua kali. Dengan susah payah karena sulitnya koneksi, saya menghubungi Sigit agar mengirim Kusni untuk mengantar saya. Benar saja, parang Kusni berguna menebas alang-alang yang menghalangi jalan.

Pantai Karangbandung sungguh elok. Deburnya menyegarkan. Pasirnya putih. Ada muara sungai dengan batu-batu kali. Ada dua tandu kecil bekas tempat sesajen sedekah laut. Di kejauhan, karang membentuk gua-gua. Dari pantai ini, mercusuar juga tak tampak. Hanya terlihat bukit dan pepohonan.

Demam batu akik sampai pula di pantai ini. Ada dua rombongan, masing-masing delapan dan 10 orang, yang menyebar dan menyusuri pantai mencari batu. Bongkah besar dan pecahan kecil yang dianggap bernilai diambil. Jenis buruan di pantai ini batu berwarna ungu, lavender.

Saya meninggalkan Nusakambangan bakda Asar. Perahu penjemput saya tak datang sehingga saya harus nebeng perahu rombongan para pemburu batu. Air di pantai mulai surut. Perahu rawan kena karang sehingga harus lihai bermanuver. Ombak di tengah laut lumayan ganas.

Sepanjang perjalanan hingga ke Teluk Penyu, Minggu petang itu, beberapa titik pantai di sisi timur Nusakambangan ramai oleh wisatawan. Aturan membatasi wisata sampai jam lima sore sehingga turis harus siap-siap berpisah dengan pulau itu. Setidaknya perpisahan itu membawa cerita lain tentang Nusakambangan, lebih dari sekadar pulau tahanan dan lokasi eksekusi mati. ***

Leave a Reply

1 comment

  1. Lindsey

    I was just looking at your Semalam di Cimiring – PanaJournal site and see that your site has the potential to become very popular.