rampokan jawa

PanaJournal – Alkisah, setelah Jepang menyerah-kalah dalam Perang Dunia II, Belanda menyiagakan kembali angkatan perangnya untuk menegakkan ketertiban di Hindia Belanda, tak peduli dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dimaklumatkan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

Judul Buku: Rampokan Jawa dan Selebes

Penulis: Peter van Dongen

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 168 halaman

MAKA, berlabuhlah sejumlah tentara sukarela dan wajib militer dengan kapal laut Tegelberg menuju Jakarta pada penghujung Oktober 1946. Di antara mereka terselip seorang serdadu muda kelahiran Selebes bernama Johan Knevel, tokoh utama komik ini, yang menyimpan misi pribadi dalam tugas itu: mencari Ninih, inang pengasuhnya, yang raib pada masa pendudukan Jepang. Malangnya, misi sang serdadu akan berujung tragis.

Melalui misi Knevel itulah, Peter van Dongen melibatkan pembaca ke dalam sebuah petualangan masa lalu yang menegangkan, mencengangkan, dan memilukan—antara lain menyaksikan pelabuhan Tanjuk Priok yang hiruk-pikuk dengan bongkar-muat barang dan kerumunan pengemis yang kelaparan; merambah hutan-hutan lebat nan magis di sekitar Jawa Barat dan Makassar; menyusuri pecinan Glodok, jantung kota Batavia, yang membangkitkan nostalgia kampung halaman tentang rampokan (tarung macan) yang lazim digelar sebelum akhir Ramadan oleh masyarakat Blitar dan Kendiri.

Semua itu dituturkan dengan bahasa gambar “garis-bersih” yang menggurat tokoh-tokoh komikal dalam latar belakang yang realistis dan detail. Itu sebabnya ia mengingatkan kita kepada Herge yang termasyhur dengan komik petualangan Tintin. Perbedaannya, teknik narasi van Dongen beralur cepat dan terkesan kompleks.

Lihatlah, misalnya, bagaimana ia menceritakan dengan plastis pertarungan macan: dari sebuah kedai minum yang ramai di Batavia, ia menyelanya dengan sepotong panel bergambar gending yang dipukul secara perlahan-lahan mengalihkan adegan ke alun-alun Blitar yang penuh orang berdesak-desakan menonton pertarungan macan, yang sesungguhnya berlangsung dalam ingatan Knevel yang hampir mampat karena mabuk bir (hlm. 21-24).

Membaca adegan itu saya mendapat kesan kuat bahwa van Dongen adalah seorang komikus yang sangat terlatih dalam pemikiran deduktif. Dengan begitu, saya kira, tak sulit baginya menampilkan tokoh cerita yang memiliki arus kesadaran dan ingatan yang fluktuatif, seperti tersurat dalam sosok Knevel. Contoh yang pas terdapat pada halaman 37. Di sini, komikus kelahiran Amsterdam 1966 ini menggambarkan peralihan aksi-ke-aksi, subyek-ke-subyek, dan adegan-ke-adegan dalam 12 panel yang mengaitkan situasi kekinian yang dihadapi Knevel dengan kenangan masa kanak-kanaknya yang melekat-erat dalam benaknya.

Penggambaran itu mengingatkan saya pada apa yang pernah dikatakan penyair Ezra Pound tentang komik. Katanya, “Komik merupakan sebuah citra yang menampilkan hasil intelektual dan emosional yang kompleks dalam waktu yang singkat.”

Buku komik yang terbit pertama kali dalam bahasa Belanda pada 1998 (Rampokan Jawa) dan 2004 (Rampokan Selebes) ini ditulis-gambar van Dongen berdasarkan penelitian selama tiga tahun di sejumlah tempat di Belanda dan Indonesia. Itu dilakukan bukan hanya untuk mendapatkan setting yang realistis, melainkan juga untuk mempertautkan dirinya dengan masa lalu sekaligus “membangun kembali dunia yang masih dihuni oleh nenek moyangnya.” Perlu diketahui, Buyutnya adalah orang Ternate-Tionghoa—sementara ibunya yang kelahiran Manado 1941 pernah mengecap hidup selama tujuh tahun (1945-1952) di Makassar.

Sampai di sini, baiklah kita ingat bahwa Rampokan Jawa—bagian pertama buku ini—pernah juga diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pustaka Primatama, Jakarta, pada September 2005. Dengan itu saya beroleh dua versi terjemahan dan suntingan. Dikatakan secara berimbang, keduanya memiliki keunggulan-perbandingan dalam cita rasa bahasa dan visual.

Ada yang sama menggelikan dalam penerjemahan frasa, teks, dan dialog. Ada yang berlainan dalam perupaan gestur, pose, dan adegan. Tapi yang paling menyolok, berbeda dengan terbitan Pustaka Primatama, buku ini “menyensor” sejumlah pose dan adegan yang menampilkan tubuh telanjang dan alat genital manusia. Contohnya tersua pada panel 6 halaman 15, panel 12 halaman 39, dan panel 6 halaman 55. Apa pasalnya? Hanya van Dongen dan penerbit buku ini yang tahu.

Leave a Reply