jalan lain ke tulehu

PanaJournal – Jika ingatan dan kenangan suatu bangsa sering disebut memori kolektif, bagaimana dengan ingatan dan kenangan pribadi? Dapatkah ia direkonstruksi layaknya memori kolektif suatu bangsa?

Judul Buku: Jalan Lain ke Tulehu

Penulis: Zen RS

Penerbit: Penerbit Bentang Pustaka, Mei 2014

Tebal: 300 halaman

ISBN: 978-602-291-040-4

“MENYADARI bahwa ingatannya benar dan Gentur yakin dengan kebenarannya, dia merasa senang bukan main, perasaannya seperti melompat-lompat. Gentur merasa senang luar biasa karena dia tidak pernah ingat fragmen-fragmen itu. Sepakbola yang diingatnya, ya, ikatannya dengan Persib Bandung, klub kesayangannya sejak kecil. Gentur rasa-rasanya tak pernah didatangi oleh ingatan atau kenangan tentang klub sepakbola di Cirebon, selain sepakbola masa kecilnya di lapangan dan di jalanan kampung. Bintang Timur seperti raib begitu saja dari masa silamnya.

Maka, ketika Gentur tanpa sengaja menemukan fragmen ini kembali, dengan cara yang sungguh mengejutkan dan tak terduga, dia merasa ada yang terselamatkan dari masa silamnya. Ada masa silam yang muncul dari ancaman kepunahan. Tanpa pernah pergi ke Tulehu, Gentur mungkin tak akan pernah berhasil menemukan kepingan sederhana masa silamnya ini.

Akan tetapi, apa gunanya kepingan masa silam seperti ini? Apa faedahnya untuk hari ini? Gentur tercenung sendiri dengan pertanyaan itu. Tidak, mungkin benar memang tak ada faedahnya. Namun, kesenangan dan kegembiraan yang dirasakannya barusan itu membuatnya merasa itu saja sudah cukup. Tak harus semua ada faedahnya. Siulan dan gumaman sambil bernyanyi di kamar mandi juga tak ada faedahnya. Namun, toh orang-orang tetap saja melakukannya. Kesenangan kecil, kebahagiaan remeh-temeh, rasa riang yang walaupun hanya hadir sekejap, tak pernah sia-sia, dan jutaan orang selalu menantikan momen seperti yang sedang dinikmati Gentur ini.” (Hal. 138-139)

Ingatan dan kenangan bukanlah persoalan sederhana. Di dalamnya tersimpan harapan, hasrat, kekecewaan, rasa bersalah, kegelisahan, trauma, dan juga nostalgia. Nostalgia sendiri, jika dirunut akar katanya, berasal dari gabungan dua kata Yunani, ‘Nostos’ dan ‘Algos’. ‘Nostos’ berarti ‘kembali pulang’, sementara ‘Algos’ berarti ‘penderitaan’. Dengan demikian, ‘nostalgia’ kurang lebih bisa berarti: ‘penderitaan yang disebabkan oleh kerinduan yang tak habis-habis untuk kembali pulang’.

Milan Kundera, sastrawan kelahiran Cekoslovakia, konon menulis akar kata ‘nostalgia’ itu dalam novel Ignorance—saya sendiri belum membacanya langsung. Namun, menilik pengertian yang diberikan Kundera, barangkali seorang wartawan bernama Gentur akan berbantah pendapat. Nostalgia, bagi Gentur, bukanlah satu penderitaan, melainkan sebuah permainan yang sanggup membuat ia berbahagia.

Tahun 2000 Gentur ditugaskan meliput ke Tulehu, sekitar 30 km dari Kota Ambon, Maluku. Saat itu wilayah tersebut sedang dilanda konflik bersentimen agama. Diterjunkan ke daerah konflik, Gentur tahu ia akan menghadapi berbagai situasi pelik. Identitas yang melekat sering jadi penentu hidup atau mati seseorang.

Batas sering digariskan begitu jelas dan tegas. Hanya ada “Islam” atau “Kristen”, “Pusat” atau “Daerah”, “Cina” atau “Pribumi”, “Kaya” atau “Miskin”, serta “Kami” atau “Mereka”. Singkatnya, hidup terlihat begitu hitam dan putih. Apa pun yang bertolak belakang atau berada di luar kategori harus disingkirkan.

Apa yang bisa dilakukan Gentur? Tak banyak. Ia hanya berusaha menulis berita secara proporsional dengan angle yang mendukung perdamaian. Namun, sebagai pribadi, Gentur tahu ada sesuatu yang terasa lebih.

Kelebihan itu terletak bukan pada kata-kata, melainkan pada ingatan, kenangan, serta nostalgia. Di Tulehu ia mendapati berbagai nostalgia datang silih berganti masuk ke dalam kepala, membuat pikiran hilir-mudik antara masa kini dan masa silam. Semua peristiwa seolah memacunya untuk menengok kembali satu masa yang sudah terlindas jauh.

Dudi, seorang wartawan lokal, membawa Gentur menelusuri ingatan dan kenangan orang-orang Tulehu, Waai, Ambon, dan beberapa daerah konflik lain di Maluku. Lewat Dudi, Gentur paham, ingatan dan kenangan yang berbeda atas satu peristiwa yang sama, bisa menjadi akar konflik yang tak habis-habis antara dua kelompok.

Said, tukang ojek sekaligus pelatih sepak bola anak-anak di Tulehu, membawa Gentur menengok dirinya sendiri. Ingatan dan kenangan tentang kegemaran bermain sepak bola dengan riang tanpa pretensi, serta cita-cita masa kecilnya yang terpaksa harus kandas.

Frans, kawan lama Gentur yang pernah menjadi Frater, membawa ingatan dan kenangan Gentur menukik tajam ke sisi yang paling pribadi dan intim. Ingatan dan kenangan soal identitas diri, agama, dan juga Eva Maria—seorang gadis korban kerusuhan rasial di Jakarta.

Semua hal itu berpilin dan berkelindan diantara berbagai peristiwa yang dialami Gentur selama di Tulehu. Di satu titik, Gentur pernah tercenung sendiri akan “permainan ingatan dan kenangan” yang sedang dilakoninya. Saat itu ia bertanya, “Akan tetapi, apa gunanya kepingan masa silam seperti ini? Apa faedahnya untuk hari ini?”

Namun, tak lama kemudian ia sadar, bahwa tak selamanya semua hal harus berguna dan bermanfaat. “Siulan dan gumamam sambil bernyanyi di kamar mandi juga tak ada faedahnya. Namun, toh orang-orang tetap saja melakukannya. Kesenangan kecil, kebahagiaan remeh-temeh, rasa riang yang walaupun hanya hadir sekejap, tak pernah sia-sia…”

***

Gentur sendiri tidak pernah benar-benar hidup secara fisik. Ia cuma seorang tokoh dalam novel Jalan Lain ke Tulehu. Novel perdana Zen RS yang pertama kali terbit Mei 2014 itu dengan apik menerangkan soal ingatan dan kenangan.

Ingatan dan kenangan itu saling menumpuk dalam berbagai lapisan yang bermuara pada tiga soal pokok: sepak bola, konflik dengan sentimen agama di Maluku, serta lika-liku kehidupan Gentur sendiri. Pada perjalanannya kemudian, berbagai lapisan itu bercampur baur dengan banyak lapisan lain—lapisan ingatan dan kenangan milik orang lain yang menemani Gentur. Lapisan ingatan dan kenangan milik Dudi, Said, Salim dan Frans.

“Kita semua sedang bersama-sama menulis sebuah epik kolosal,” kata Gentur pada Frans, ketika sedang menonton semifinal Piala Eropa 2000 antara Belanda dan Italia. Tiap orang, menurut Gentur, memang menulis kisahnya sendiri-sendiri. Namun, pada saat yang sama, kisah masing-masing itu tidak pernah betul-betul ditulis sendirian.

“Kisah hidupku ditulis dan disusun juga oleh kisah hidup orang lain yang bertemu, mengenal, dan berhubungan denganku. Kisah-kisah yang saling bersilangan dan beririsan.” (Hal. 50).

Permainan ingatan dan kenangan dalam Jalan Lain ke Tulehu diceritakan sepanjang 300 halaman. Tidak terlalu tebal, juga tidak terlalu tipis. Cocok dibaca ketika sedang melakukan perjalanan dengan kereta api ke kota kelahiran, atau ketika santai di rumah saat akhir pekan tiba. Struktur kalimat yang tidak bertele-tele—seperti karakter esai-esai Zen RS sendiri yang tersebar di berbagai media—membuat novel ini seperti sungai yang arusnya mengalir cukup deras, tapi tetap konstan dan terkendali. Dalam beberapa bagian, Jalan Lain ke Tulehu juga terasa seperti laporan feature di majalah bulanan: panjang, bernarasi, tidak terlalu banyak pernak-pernik detil, tapi tetap bernas dengan fokus yang terjaga.

Di samping itu, Jalan Lain ke Tulehu juga menyiratkan satu hal penting: bahwa ingatan dan kenangan barangkali lebih baik dibiarkan mengalir begitu saja adanya. Tidak perlu akurasi detil yang terlalu ketat, atau berbagai usaha lain yang bertujuan membekukan suatu peristiwa secara rigid—layaknya mencampur aneka zat di sebuah laboratorium kimia. Sebab kehidupan, seperti kata pengarang, bukan bergerak dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana. Kurang lebih seperti jatuh cinta.***