damayanti

PanaJournal – Terserang stroke pada usia kurang dari 40 tahun tidak menghancurkan hidup Christie Damayanti (44). Menulis membantunya bangkit kembali.

SIANG ITU saya ada janji dengan Christie di Agung Podomoro Land (APL) Tower, Central Park, Jakarta Barat. Sebelumnya, melalui email, Christie meminta saya menjemputnya ke lantai 43 karena ia belum bisa berjalan sendiri. Saya penuhi permintaannya dengan senang hati.

“Badan saya lumpuh separuh, di sebelah kanan,” kata Christie, begitu kami bertukar sapa. “Jadi saya hanya bisa menyeret kaki. Kalau berjalan harus berpegangan.”

Nada suara Christie mau tak mau membuat saya terkesima. Seumur hidup tidak pernah saya bersentuhan langsung dengan penderita stroke, apalagi yang bisa membicarakan keadaan fisiknya dengan ringan. Ketika kami turun lift, beberapa kali saya merasa canggung karena gerak kami yang lambat (tangan kiri Christie berpegangan pada lengan kanan saya, dan kami berjalan pelan-pelan) membuat beberapa orang menggerutu. Kami dianggap menghalangi jalan. Namun, dengan tenang Christie berujar pada mereka, “Maaf, permisi, saya sedang sakit..” Orang-orang yang sadar segera membukakan jalan, sementara beberapa hanya berdecak, lalu terus dengan urusannya sendiri. Inilah manusia-manusia Jakarta yang merasa selalu dikejar waktu.

Puas berkeliling mencari spot foto, kami berlabuh di sebuah kafe. Christie memesan teh dan saya kopi hitam. Saya membantunya menyobek bungkus sedotan. Di tengah dengungan mesin kopi, teriakan lantang barista dan suara percakapan pengunjung kafe, Christie memulai riwayatnya.

Hampir semua keluarga besar Christie meninggal karena penyakit darah tinggi. Pada tahun 2007, ia mengidap penyakit yang sama karena terlalu keras bekerja. “Waktu itu saya baru bercerai, dan mantan suami tidak kasih uang untuk anak-anak,” Christie mengaku. Pekerjaan sebagai arsitek senior di Agung Podomoro Group (sebelumnya, Christie sempat bergabung dengan grup Ciputra dan Palazzo) membuat Christie sering tidur hanya 2 jam tiap malam. Ia juga sering blusukan ke bedeng-bedeng para tukang untuk memeriksa langsung pekerjaan mereka. Ia makan seadanya dan sesempatnya. Kelelahan tidak terasa karena Christie mencintai pekerjaannya.

Jika punya mulut, mungkin badan Christie sudah menjerit. Dan persis itulah yang terjadi pada tanggal 8 Januari 2009. Di sebuah kamar hotel di Amerika Serikat (Christie sedang berlibur bersama kedua anak dan orangtuanya), jam tiga pagi ia merasa ingin buang air kecil. Ia duduk di atas ranjang. Baru saja mau berdiri, ia jatuh. Saat itu Christie belum merasa lumpuh. Ia hanya heran kenapa ia tidak bisa bangun. Setelah menyadari ia tak bisa bicara, barulah panik menyerangnya.

Papa Christie yang tidur di kamar sebelah segera menelepon 911. Christie dibawa ke sebuah rumah sakit Katolik di San Fransisco, dan langsung menjalani tes Magnetic Resonance Imaging (MRI). Vonis dokter: pembuluh darah di otaknya pecah, dan 20% otak sebelah kiri terendam darah. Dokter Gandhi, yang menanganinya waktu itu, berkata dengan pahit bahwa hampir pasti Christie akan menjadi cacat. Paling banter, ia hanya bisa duduk.

Saat itu umur Christie belum genap 40 tahun.

Reaksi pertamanya saat mendengar vonis dokter asal India itu hanya satu kata: menolak! Meski kondisi otaknya sedang kritis, Christie masih bisa berpikir bahwa ia tidak boleh cacat. Tidak mungkin ia hanya berbaring sampai mati. Bagaimana nasib Dennis dan Michelle, anak-anaknya? Siapa yang akan membiayai sekolah mereka? Bagaimana nanti masa depan mereka? Tidak mungkin, kan, mengandalkan kedua orangtuanya, yang juga telah tua? Satu jam penuh, Christie merasa amat terpuruk.

Lalu ia bisa tersenyum. Dan para dokter heran. Mereka bergumam, “Kamu pasien paling parah, kok, masih bisa tertawa? Yang lain menangis saja kerjanya.”

Andai bisa menjelaskan, saat itu juga ia akan bilang bahwa ia tidak boleh berhenti bekerja dan menjadi orang cacat tanpa guna. Nasib anak-anak ada di tangannya. “Aku merasa mendapat bisikan dari Tuhan, bahwa aku bisa. Ya, aku bisa,” kenang Christie.

Seminggu setelah pulang dari Amerika Serikat, artinya tiga minggu setelah ia terserang stroke, Christie sudah bisa berjalan. Dokter Gandhi kaget bukan kepalang. Tak hanya itu, Christie juga mulai belajar berbicara. Di Amerika Serikat ia diajari kata-kata sederhana seperti “cat”, “dog”, “book”. Ia pun harus mempelajari lagi keterampilan dasar seperti menggunakan sendok-garpu. Otaknya seperti di-reset.

“Aku juga belajar memakai pakaian sendiri. Kalau kemeja aku bisa karena ada kancing. Tapi kaus, susah,” kata Christie. “Aku dulu juga tidak berani ketemu orang baru, seperti ini. Aku minder karena aku cacat.”

Bahkan sampai hari ini, bicara panjang juga bukan perkara mudah bagi Christie. Kata-kata bisa hilang begitu saja dari kepalanya. Kadang ia bicara terpatah-patah, kesulitan merangkai kalimat. Padahal, saat masih sehat dulu ia sempat mengajar program Arsitektur di Universitas Tarumanegara. Diakuinya, untuk bisa mengungkapkan pikiran, ia harus berpikir sangat keras. Ia jadi mudah lelah.

Agung Podomoro mempertahankan Christie sebagai karyawan. Tapi, ia tak boleh lagi pegang proyek langsung karena perusahaan cemas kondisi fisiknya tak memungkinkan. Christie stres. Sebelumnya, ia tak pernah ada di balik meja selama lebih dari satu jam. Suatu kali, ia nekat turun ke bedeng. Waktu itu pusat perbelanjaan Central Park belum jadi.

Kawan baik Christie, wartawan harian Kompas Josephus Primus, menghampirinya ke bedeng. Mereka mengobrol. Primus lalu menawari Christie untuk membuka akun di blog warga Kompasiana.

“Aduh, nanti aku nulis apa dong?” Ia sempat ragu.

“Ya, apa saja. Pengalamanmu juga boleh,” dorong Primus.

“Tapi aku nggak bisa nulis.”

“Cobalah. Nanti pasti banyak teman baru.”

Dua belas November 2010, Christie membuka akun di Kompasiana. Sebenarnya ia belum yakin harus menulis apa. Akhirnya ia memutuskan mulai dari dirinya sendiri: siapa dia dan apa yang menimpanya. Tiga hari penuh ia mengetik sebelah tangan di komputer, dan empat hari selanjutnya ia habiskan untuk menimbang-nimbang apakah tulisan itu akan ia unggah. Rasa tidak percaya diri masih menghinggapi Christie. Siapa, sih, yang mau membaca tulisan orang cacat?, pikirnya.

Christie juga sempat ragu apakah dirinya boleh menulis, kegiatan yang jelas membutuhkan berpikir keras dan menguras emosi. Bukan apa-apa, tiap kali terapi dokter selalu berpesan agar Christie menjaga perasaan; tidak boleh terlalu sedih atau terlalu senang. Di luar dugaan, dokter justru mendorong Christie menulis karena itu terapi.

Dan benarlah. Posting pertama Christie disambut hangat dengan komentar-komentar positif dan bernada merangkul. Kotak surat Christie dibanjiri dengan salam perkenalan. Seorang bapak di Jakarta yang menderita stroke seperti dirinya, mengaku seperti ditampar setelah membaca posting pertama itu. Selama ini, si bapak murung, menyesali nasib, dan bersikap kasar pada keluarga karena frustrasi akan keadaannya.

Christie merasa dadanya akan pecah oleh rasa bahagia. Ia tak pernah menyangka, menulis sanggup membuatnya membuka diri pada dunia luar. Tak sedikit pun ia menduga, di luar sana banyak orang bernasib sama seperti dirinya, dan dengan menulis ia seperti berbagi kehidupan dengan mereka. Untuk pertama kalinya, Christie tak merasa malu dengan kondisinya.

“Menulis membuat saya sadar bahwa saya memang cacat. Lalu kenapa? Saya tetap ingin berguna sebagai manusia,” papar dia. “Kenyataan menjadi jelas setelah dituliskan karena tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.”

Christie pun kecanduan. Ia menulis seperti kesetanan. Tiap kali macet, ia mengetik dengan satu jari di BlackBerry. Setelah jadi, ia cari gambar pendukung, lalu ia unggah. Senin-Jumat, ia menulis 3-4 artikel per hari. Akhir pekan ia libur menulis, menikmati waktu bersama keluarga.

Selain tentang penyakitnya, ia juga menulis tentang hobi filateli yang telah ia geluti sejak kecil. Posting Christie sering menjadi headline. Jumlah pesan di kotak suratnya terus bertambah, salah satunya dari sesama Kompasianer yang bekerja di PT Pos Indonesia, Ahmad Aljohan. Ia menawari Christie pameran perangko di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sekaligus memberi seminar menulis untuk guru-guru SMP se-Jakarta.

Christie terperangah. Buru-buru ia membalas email. “Bapak tahu, kan, saya cacat? Jalan susah, bicara apa lagi.”

Aljohan menjawab, “Mbak Christie pasti bisa.”

Christie lalu mengundang Aljohan datang ke rumahnya di Tebet, Jakarta Selatan, untuk melihat langsung kondisinya (juga koleksi perangkonya). Ia cemas Aljohan tak tahu apa yang ia bicarakan. Tapi, Aljohan tak berubah sikap. Walhasil, Maret 2011, untuk pertama kalinya Christie tampil di depan umum memberi seminar dalam kondisi pascastroke.

Ditemani kedua orangtuanya, Christie datang pakai kursi roda. Ia duduk di barisan depan, merasa gugup luar biasa. Ketika namanya dipanggil, Christie maju sambil menunduk. Di depan 300 orang audiens, ia bicara tentang menulis. Pelan tapi pasti, ia mulai percaya diri. Sejak itu, Christie laris diundang ke berbagai seminar tentang bertahan hidup dari penyakit stroke, kanker (yang juga pernah ia derita), dan menulis. Belakangan ia juga aktif dalam komunitas Internet Sehat.

“Audiens tidak melihatku dengan rasa kasihan karena aku cacat,” kata Christie. “Mereka sungguh-sungguh mendengarkan. Sampai sekarang rasanya sulit percaya semua ini terjadi karena aku memberanikan diri menulis di Kompasiana.”

***

Saya menemui Editor-in-Chief Kompasiana, Pepih Nugraha, di kantornya di Gedung Kompas, Palmerah Barat, lantai 6. Ketika saya menyebut nama Christie Damayanti, Pepih langsung mengenali. “Christie itu salah satu Kompasianer paling aktif. Saya ikut senang bahwa menulis membantu kesembuhannya,” kata Pepih.

Kompasiana awalnya didirikan sebagai blog jurnalis Kompas. Ide ini muncul setelah Pepih membaca buku “We the Media” (2004) karya Dan Gillmor. “My readers know more than I do,” kata Gillmor. Dari situ Pepih berpikir untuk membuatkan semacam blog tempat wartawan Kompas bisa menuliskan apa yang tak tertampung di harian, lalu berinteraksi dengan para pembaca. Siapa tahu, para pembaca memiliki informasi atau gagasan yang justru akan memperkaya tulisan wartawan.

Pada 1 September 2008, Kompasiana mengudara. Awalnya, para wartawan Kompas cukup rajin mengunggah posting. Lama kelamaan, karena kesibukan, arus posting berkurang. Belum lagi ada beberapa wartawan yang ngambek karena dikritik oleh pembaca. Jalan sebulan, Pepih menyadari satu hal: isi Kompasiana kebanyakan posting dia belaka.

Di kantor, Pepih dipanggil dengan sebutan baru: Pepihsiana. Ia cemas bayi yang baru lahir ini langsung mati. Karena itu, ketika ada ide membuka Kompasiana untuk publik, Pepih langsung menyambut gembira. Dan sesungguhnya, ide serupa sudah terpikir di kepalanya. Ketika posting sedang sepi-sepinya, Pepih membuat rubrik “Gelar Komentar”. Isinya kumpulan komentar dari pembaca. Beberapa komentar tersebut ditulis dengan rapih, serupa posting tersendiri.

“Tapi, saya kan, bekerja di organisasi yang namanya Kompas. Segala sesuatu harus dibicarakan, nggak bisa mau-mau saya sendiri,” papar Pepih. “Dan memang lalu dikaji. Terutama, nama besar Kompas. Ada kecemasan nanti kalau (Kompasiana-red) dibuka untuk publik, orang jadi berbalik memukul kita. Sejak awal saya sadari itu. Saya bilang, pasti. Itu risiko media sosial.”

Dua puluh dua Oktober 2008 menjadi tanggal bersejarah bagi Kompasiana, sebab pada hari itulah ia resmi menjadi media warga. Postingan mengalir seperti air. Sampai artikel ini ditulis, lebih kurang ada 1.000 artikel masuk per hari dari 170.000 anggota, atau yang lazim disebut Kompasianer. Larisnya Kompasiana mungkin karena platform yang cukup jelas dan sederhana: menulis.

Ada tiga kategori di Kompasiana, yaitu Laporan, Opini, dan Fiksi. Pembagian ini berdasarkan benchmarking Pepih pada Panyingkul, blog jurnalisme warga lokal Makassar bikinan mantan wartawan Kompas, Lily Yulianti Farid dan OhmyNews dari Korea Selatan yang dicetuskan Oh Yeong-ho. Kedua blog tersebut terseok-seok (Panyingkul justru sudah tamat) karena “memaksa” warga menjadi pewarta. Warga dididik menjadi wartawan profesional dengan segala kode etik dan kode perilaku profesi tersebut.

Nah, di Kompasiana, Pepih ingin mengakomodir keinginan warga untuk sekadar berekspresi. Terbukti, kategori paling laku adalah Fiksi, Opini, baru kemudian Laporan alias jurnalisme warga. Kategori terakhir ini cukup sering menjadi headline. Semua posting tidak diedit, kecuali yang masuk headline, itu pun biasanya hanya koreksi ejaan dan besar-kecil huruf. Kompasianer yang ingin akunnya terverifikasi wajib mengirimkan scan data diri berupa KTP atau paspor. Kalau ada apa-apa, admin punya basis data. Seperti saat heboh postingan Jilbab Hitam tentang praktik suap majalah Tempo, misalnya, admin jadi punya hak untuk menghapus artikel tersebut karena empunya akun tak memenuhi panggilan verifikasi.

Kompasiana telah, dan akan selalu, dibuka untuk umum. Pepih percaya, hanya platform menulis yang akan membuat Kompasiana berumur panjang. Arus informasi mengalir deras tak terbendung seperti keran bocor, dan orang jadi lebih kritis mengemukakan pendapat. Orang juga tak takut lagi berbagi pandangan dan pengalaman karena interaksi via internet tak lagi dipandang asing.

“Pada pokoknya, menulis bukan lagi monopoli wartawan,” tegas Pepih. “Grassroots juga menulis. Mereka punya pandangan, pengalaman, dan khayalan sendiri.”

***

fX Plaza, Jakarta Selatan, lantai tujuh, 10 Desember 2011. Hari itu sedang diadakan festival Kompasianival yang pertama. Christie Damayanti datang dan bertemu teman-teman baru. Mendekati pukul 18.00, ia ingin pulang. Christie mencari-cari Pepih Nugraha untuk berpamitan.

“Mas, aku pulang, ya.”

“Ngapain pulang sekarang? Nanti saja, kukasih hadiah.”

“Hadiah apa?”

“Ada, deh, yang pasti buat anak-anakmu senang.”

“Kapan?”

“Ya, kira-kira dua jam lagi.”

Menangkap nada setengah membujuk pada kalimat Pepih, Christie memutuskan untuk tinggal. Ia penasaran hadiah apa kira-kira yang dijanjikan Pepih. Kebetulan, teman-teman dari luar kota masih berdatangan. Sibuk kopi darat, Christie sejenak lupa pada hadiahnya.

Maka, ketika namanya dipanggil sebagai Kompasianer of the Year (KotY) 2011, Christie terperanjat. Ia sama sekali tak menduga. Pasalnya, nama Christie sama sekali tak masuk dalam voting KotY. Sahabatnya Valentino, sesama Kompasianer, sampai membuat posting berseri yang isinya protes; kenapa Christie sampai tak masuk nominasi, padahal postingan Christie paling banyak dan sering diganjar headline.

Christie dituntun maju ke depan. Ia menerima plakat dan hadiahnya dengan tangan gemetar. Momen ini menjadi semacam puncak dari keputusannya menulis di Kompasiana. Dari seorang penderita stroke yang berhasil bertahan hidup, Christie sekarang mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang. Ia bahkan sudah menulis tiga buku, yang terakhir berjudul Ketika Tuhan Masih Memberi Aku Hidup (2013).

Menulis membuat Christie menemukan harapan. Saat ini, apapun yang mendatangkan inspirasi langsung ia tulis. Ia tak lagi kuatir apakah tulisannya akan dibaca atau tidak. Tiap kali memberikan seminar tentang menulis, Christie tidak pernah menganjurkan agar audiens membuat semacam outline terlebih dahulu. Ia sendiri hanya menulis apa yang terlintas di pikirannya. Dan, cara ini ternyata efektif untuk membantunya menyalurkan emosi, yang pada gilirannya sangat membantu proses pemulihannya.

Tulisan demi tulisan telah membawa Christie bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi, dan bertemu orang-orang baru. Ia pun tak lagi berdoa memohon kesembuhan, melainkan yang terbaik sesuai keinginan Tuhan. Christie sempat merasa, jangan-jangan kondisi semacam ini memang dimaksudkan agar ia banyak memberi inspirasi untuk orang-orang yang menderita penyakit serupa. Ia akan menjalankan tugas tersebut dengan hati gembira.

“Dan saya tidak akan lupa, bahwa saya besar di Kompasiana,” tutupnya, tersenyum. Saya mengulurkan lengan, hendak membantunya kembali ke lantai 43. Dalam hati saya berjanji, akan terus menulis sampai mati. ***

Leave a Reply

1 comment

  1. WilliamSa

    Thanks for the forum post.Really looking forward to read more. Want more. Nadel