MOVIE REVIEW

PanaJournal – Kasar, sengit, vulgar, materialistis, dan agresif. Begitu kisah persaingan politik dalam film ini. Adegannya sungguh mengocok perut. Namun, alur cerita dan dialog-dialognya membuat kita mengernyit.

Judul Film: The Campaign

Format: DVD

Sutradara: Jay Roach

Pemain: Will Ferrell, Zach Galifianakis, John Lithgow, Dan Aykroyd, Jason Sudeikis, Dylan McDermott

DI NEGARA BAGIAN North Carolina, Amerika Serikat (AS), politikus kawakan Cam Brady (Will Ferrell) tengah bersiap menghadapi pemilihan anggota Kongres AS. Ia ingin menjabat untuk kali kelima. Cam terlihat pongah karena selama ini belum punya lawan sepadan yang sanggup menggusurnya dari panggung politik. Politisi dari Partai Demokrat itu kerap mengenakan setelan jas necis, memiliki postur tinggi dan tegap, rambut tersisir rapi, serta lihai berpidato.

Sebetulnya, di balik itu, ada pribadi Cam yang penuh tipu-muslihat dan menghalalkan segala cara agar kursinya di kongres AS tak direbut orang. Ia bermulut bisa. Hampir semua makian cabul terkuak ketika Cam beradu mulut dengan lawan-lawan politiknya. “Saya gila karena saya menolak kalah?!…Saya bakal berbuat apa saja agar menang, meski harus berbohong atau menyakiti fisik seseorang,” sergah Cam suatu kali kepada penasihat politiknya.

Namun, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya terpeleset juga. Riwayat politiknya hampir tamat ketika skandal seks antara Cam dan penggemarnya terbongkar. Istri dan anak Cam pun segera minggat. Motch bersaudara (Dan Aykroyd dan John Lithgow), pengusaha busuk yang selama ini menjadi beking Cam, juga menarik dukungannya. Mereka ragu Cam bisa mempertahankan kursinya di kongres, dan melanggengkan nepotisme.

Motch bersaudara lantas berpaling ke Marty Huggins (Zach Galifianakis). Sesungguhnya Marty hanyalah seorang pemandu wisata di Hummond, sebuah kota kecil di North Carolina. Ayah Marty kebetulan kawan karib Motch bersaudara. Sosok Marty berbeda 180 derajat dengan Cam. Kumis tebal tak beraturan dan perut buncitnya membuat Marty kerap terlihat canggung saat berada di tengah kerumunan massa. Tutur kata dan tindak-tanduknya agak lemah-gemulai, tak jantan. Ia sering mengenakan baju hangat tebal dengan kain rajutan. Selain istri dan dua anak lelaki, rumah Marty juga dihuni dua anjing Chinese Pug yang menggemaskan.

Sadar akan “kekurangan” Marty, Motch bersaudara tak kehabisan akal. Mereka menyewa jasa Tim Wattley (Dylan McDermott), seorang konsultan politik untuk memoles pencitraan Marty menjadi sosok pengusaha lokal yang berhasil, dan tangguh menghadapi perangai Cam, lawan politik yang agresif. Marty pun melaju ke pemilihan kongres AS dari Partai Republik. Perang politik bermula dari sini.

Banyak yang beranggapan film ini menjadi satire politik yang mengejek habis-habisan perkawinan politik dan bisnis. “Perang punya aturan. Bergulat di lumpur juga punya aturan. (Namun-Red) politik tak punya aturan,” begitu perkataan Ross Perot yang menjadi pembuka The Campaign. Ross Perot dikenal publik AS sebagai pengusaha sukses yang sempat menjadi calon presiden dari jalur independen pada dekade 1990.

Memang, karakter Motch bersaudara menjadi sindiran paling lantang di film ini. Di dunia nyata, sebenarnya ada Koch bersaudara―pemilik konglomerasi Koch Industries, Inc.―yang aktif berpolitik. Tapi, perseteruan sengit Cam dan Marty sesungguhnya menjadi fokus utama kisah ini. Mengingat sebagian besar adegannya mengundang tawa, The Campaign sesungguhnya lebih condong ke parodi politik.

Film arahan Sutradara Jay Roach ini sukses meraup omzet besar senilai lebih dari US$ 85 juta di AS. Bandingkan dengan omzet film “serius” Zero Dark Thirty tentang penangkapan Osama bin Laden sebesar US$ 95 juta. Dengan torehan itu, The Campaign pun berada di urutan ke-35 dalam 100 film paling laris di AS selama 2012.

Meski begitu, Anda jangan terlalu banyak berharap menonton adegan jenaka yang tersusun dengan apik. Kebanyakan lakon di film ini sarat dengan kejadian dan hal-hal tak senonoh: guyonan seksual dan ucapan kotor. Sejumlah film besutan Jay Roach sebelumnya dikenal sebagai film komedi sukses, seperti serial Austin Powers, Meet the Parents, dan Meet the Fockers.

Sejumlah taktik politik dalam The Campaign juga terasa usang: tuduhan komunis, teroris, serta skandal seks. Tak ada sesuatu yang baru. Dan, susunan kisah terkesan datar, tanpa alur kejutan yang mampu membalikkan situasi.

Karena vulgarnya adegan-adegan The Campaign, pikir dua kali jika ingin menontonnya bersama anak-anak Anda. Meski demikian, film ini lumayan menghibur, dan cocok ditonton pada tahun politik ini. Semoga perseteruan sengit dan tak senonoh ala Cam dan Marty tidak kita saksikan pada pentas nasional pemilihan umum tahun ini. (***)

Leave a Reply