PanaJournal – Setiap hari Kamis pukul empat sampai lima sore selama tujuh tahun terakhir, sekelompok orang berdiri di depan Istana Negara dalam diam. Berpakaian hitam-hitam dan membawa payung hitam, lambang keteguhan dan keteduhan. Yang mereka minta sejak dulu selalu sama: keadilan. Mereka adalah korban—dan keluarga korban—pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang membutuhkan perlindungan negara.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah berkata bahwa kasus Munir adalah tes sejarah kita. Presiden SBY juga pernah berjanji pada para ibu yang anaknya menjadi korban Tragedi Semanggi I dan Semanggi II, bahwa kasus tersebut akan diselesaikan secara hukum. Sampai sekarang, tak ada satu pun dari kasus tersebut yang selesai.

Tapi, Aksi Kamisan terus berjalan. Para korban tetap berdiri, menagih janji presiden, sekaligus mengajarkan kita untuk tidak bersikap abai. Jangan biarkan waktu membuat perjuangan tenggelam. Sesungguhnya, seperti kata sastrawan Ceko, Milan Kundera dalam novel The Book of Laughter and Forgetting: perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.

Leave a Reply