PanaJournal – Seorang fasilitator pendidikan membekali komunitas adat dengan kemampuan baca-tulis. Alih-alih menggurui, ia justru memperoleh pembelajaran dari sekolompok suku yang kerap disebut bodoh, kafir, dan kotor itu.

Judul Buku: Sokola Rimba

Penulis: Butet Manurung

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tebal: xxxviii + 348 halaman

ISBN: 978-979-709-754-7

SAUR MARLINA MANURUNG hanya bergeming ketika diremehkan calon rekan kerjanya. Mereka tak percaya sosok Butet–nama panggilannya–yang kurus itu sanggup masuk ke hutan belantara. Sebelumnya, salah seorang dari mereka bertanya, “Ini Mbak yang melamar jadi sekretaris, ya?”

Saat itu September 1999. Butet, 27 tahun, baru tiba di Bangko, Jambi. Ia diterima bekerja sebagai fasilitator pendidikan di WARSI, sebuah LSM di bidang konservasi keragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu fokus WARSI adalah Suku Anak Dalam (SAD), sekelompok komunitas adat di wilayah hutan Jambi. Jadi, tugas Butet memang harus keluar-masuk hutan tropis.

SAD–juga disebut Orang Rimba (OR)–hidup berpindah-pindah. Mereka tak seperti kaum urban atau warga pedesaan yang menetap di bangunan. Biasanya, OR memenuhi kebutuhan hidupnya dari kegiatan berburu dan meramu. Kebanyakan dari mereka juga masih buta huruf dan tak bisa berhitung.

Primitif? Terbelakang? Manusia purba? Sebelum Anda terburu-buru memberi cap itu, ada baiknya Anda menyimak memoar Butet ini. Ia hidup bertahun-tahun dengan OR untuk membekali mereka dengan kemampuan baca-tulis dan berhitung.

SUSAHNYA JADI GURU

Bukan hal mudah mendorong OR agar melek huruf dan angka. Butet menorehkan pengalaman itu dengan gamblang. Saat sudah seminggu tinggal bersama OR, Butet mengeluarkan pulpen dari tasnya. Namun, mereka malah pergi menjauh. Mereka bahkan meminta agar alumni Universitas Padjajaran itu menyimpan kembali pulpennya. Ternyata, OR menjuluki pulpen sebagai “setan bermata runcing”. Pasalnya, mereka kerap menemui nasib sial saat berurusan dengan orang yang menggunakan pulpen. Kontan saja OR beranggapan, pulpen telah membuat orang yang memegangnya menjadi jahat.

OR memang kerap bertransaksi dengan “orang terang”, begitu mereka menyebut warga kota atau desa. Dari kegiatan berburu dan meramu, mereka mendapatkan getah karet alam, madu hutan atau rotan. Biasanya mereka menjual hasil alam itu ke “orang terang”. Ada pula OR yang menukarkan hak pakai hutan ulayat mereka dengan perjanjian tertulis.

Hendak untung, malah buntung. Begitulah nasib OR yang buta huruf dan angka ketika berdagang dengan “orang terang”. Manusia memang sulit menjadi manusia terhadap sesamanya. Acap kali justru menjadi serigala, meski kadang berbulu domba.

Menurut Butet, OR sudah berada dalam arus perputaran uang. Sebagai konsekuensinya, mereka pun harus melek huruf dan angka. Jika tidak demikian, alih-alih menjadi pelaku pembangunan, OR akan digilas roda perekonomian.

Meski begitu, OR tak serta-merta menerima Butet. Mereka takut pendidikan justru mengusik adat-istiadatnya. Padahal, Butet jelas-jelas datang agar OR bisa terhindar dari tipu-daya “orang terang”. Kata salah seorang OR, “Kalau mereka [“orang terang”–Red] memang mau menipu kami, biarlah Tuhan yang menghukum mereka!”

Butet tak hanya menghadapi penolakan dari OR, melainkan juga dari warga setempat yang memang punya kepentingan. Seorang tauke kayu yang terlibat pembalakan liar bahkan sempat mengancamnya. Ada juga pihak-pihak yang dengan sinis menuding WARSI berupaya mencagarkan OR dan menjadikan mereka sebagai “objek wisata”.

Lebih lagi, Butet ternyata berselisih paham dengan manajemen WARSI. Pada 2003, ia dan beberapa rekan eks-WARSI akhirnya mendirikan LSM sendiri, yakni SOKOLA. Hingga 2013, SOKOLA telah menjangkau penjuru Nusantara seperti Flores, Nusa Tenggara Timur; Halmahera, Maluku Utara; dan Asmat, Papua. SOKOLA juga telah memberikan manfaat bagi 10.000 penduduk, baik anak-anak dan dewasa.

MURID YANG MENJADI GURU

Kiprah Butet dan SOKOLA mengundang berbagai penghargaan nasional dan internasional. Misalnya dari LIPI, Ernst & Young Indonesia, UNESCO, dan Majalah TIME. Penuturan Butet dalam buku ini sungguh apa adanya. Sebagai catatan harian, pembaca bisa dengan mudah menemukan kisah-kisah petualangan, dan menggugah rasa haru.

Yang mengagumkan, Butet rela menjadikan OR sebagai “gurunya”. Ia tidak datang dengan cita-cita besar untuk memperadabkan suku-suku bangsa terasing ala misionaris. Seperti sebuah pepatah asing, by learning we will teach; by teaching we will learn. Lewat kegiatan belajar, kita dapat melakukan pengajaran; dengan mengajar, kita dapat memperoleh ilmu.

Butet justru banyak belajar dari OR, meski warga kota atau desa sering menjuluki OR dengan sebutan “kubu”. Artinya, bodoh, kotor, primitif, kafir atau arti lain yang serupa. Padahal, banyak nilai-nilai budaya OR yang bermutu tinggi, misalnya kelestarian hutan. Bagi OR, hutan merupakan sumber penghidupan utama yang harus benar-benar dijaga.

Mereka menjunjung tinggi kesakralan alam. Jika hendak memanjat pohon untuk mengambil madu hutan, OR terlebih dahulu bersembahyang. Sementara, kita, “orang terang”, secara membabi-buta membakar hutan, membuka lahan untuk ditanami satu jenis tanaman tanpa menghiraukan keragaman hayati.

OR hanya menyantap durian yang matang dan jatuh dari pohon. Pantang hukumnya bagi mereka untuk memetik durian dari pohonnya. Sedangkan, “orang terang” memetik durian yang belum waktunya matang, dan menghangatkannya dengan gas karbid. Jadi, antara OR dan “orang terang”, siapa sebenarnya yang “kubu”, bodoh dan kotor?

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 300-500 juta komunitas adat hidup di dunia. Itu hanya sekitar 8% dari total penduduk dunia yang kira-kira berjumlah enam miliar orang. Tapi, komunitas adat itu ternyata hidup dan memelihara 80% dari seluruh kekayaan keanekaragaman hayati serta kekayaan budaya. Sisanya? Ya, “kubu”! (***)

Leave a Reply

1 comment

  1. VPS server

    Orang Rimba adalah masyarakat adat yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah di pedalaman Jambi. Dengan memegang teguh adat-istiadat, mereka mencoba bertahan meski tanah tempat mereka berdiam tak serimbun dulu. Binatang buruan semakin langka. Orang-orang Rimba hanya bisa menatap ketika satu per satu pohon madu raksasa yang selama ini mereka keramatkan roboh dihajar gergaji mesin.