• Farida dan Kampung Janda


    PanaJournal - Seorang insinyur mengumpulkan bukti serta mencatat pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia di Desa Cot Keng, Aceh. Temuannya mengegerkan khalayak ramai. Satu per satu kasus pelanggaran HAM yang sebelumnya ditutupi, terkuak.

    PEREMPUAN itu mengenakan pakaian dan jilbab serba hitam. Dia adalah Farida Hariyani, 48 tahun, seorang insinyur pertanian yang memilih menjadi aktivis perempuan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Farida mengawali perjalanannya dengan melakukan advokasi terhadap Desa Cot Keng, yang dikenal dengan sebutan Kampung Janda karena aksi tentara menghabisi para lelaki di sana. Peristiwa ini terjadi pada awal tahun 1990. Minggu, 7 Juni 2014 lalu, kami bicara panjang lebar di ruang tamu rumahnya di Kompleks Perumnas Rawa, Kecamatan Pidie.

    “Saya melihat kekerasan terhadap masyarakat dilakukan oleh negara. Manusia, kan, punya hak hidup. Tiap pulang kampung, selalu ada bunyi senjata menyalak. Pagi-pagi orang berbisik-bisik: Semalam ada yang dipukul? Ada yang ditembak?” kata Farida, mengenang serangkaian kejadian di kampung halamannya. “Saya tergugah. Rasa-rasanya ayam mati saja tidak begitu.”

    Farida lahir di Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya pada 15 Januari 1966. Sebelum pemekaran pada tahun 2007, Pidie Jaya merupakan bagian dari Kabupaten Pidie. Lulus SMA Mugayatsyah Banda Aceh tahun 1985, Farida meneruskan studinya di Universitas Iskandar Muda Banda Aceh, Fakultas Pertanian, Jurusan Budidaya Pertanahan. Menjelang kelulusan, Farida sering pulang kampung ke Pulo Ulee Glee karena harus mengerjakan praktik lapangan sekaligus menyusun skripsi. Saat itulah, dia melihat segala bentuk kesewenang-wenangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap masyarakat.

    Saat itu, desa-desa diberi kode: putih, merah, dan hitam. “Putih artinya tidak ada GPK, merah banyak GPK, sedangkan hitam adalah desa yang harus diawasi terus. Desa tempat saya tinggal kebetulan putih,” kata dia.

    GPK alias Gerakan Pengacau Keamanan adalah sebutan yang diberikan kepada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh TNI. Julukan tersebut dimaksudkan sebagai label buruk untuk GAM. Tapi, nyatanya, GAM tetap popular di tengah-tengah masyarakat.

    Farida membenarkan letak jilbabnya, lalu meraih toples di depannya. Sesaat kemudian, ditingkahi suara renyah kue kering, dia menuturkan hal yang melatarbelakanginya menyuarakan HAM dan mendampingi korban pemerkosaan serta tindak kekerasan.

    ***

    Pada tahun 1992, seorang keponakan laki-laki Farida yang tinggal di Medan, Sumatera Utara, pulang kampung. Berkali-kali Farida mengingatkan keponakannya itu untuk tidak keluar rumah lantaran keadaan rawan.

    “Kamu baru pulang, tidak boleh keluar sembarangan dulu.”
    “Suntuk di rumah. Memangnya kalau tidak salah, akan dipukul?”

    Farida tak mampu menahan niat keponakan laki-lakinya itu untuk pergi ke pos jaga, sekadar nongkrong dengan para pemuda desa. Sekitar pukul 20.00 WIB, melintas tiga tentara. Saat itu, setiap ada tentara yang lewat, masyarakat harus menyapa atau menegur tentara-tentara tersebut. Namun, malam itu, keponakan Farida dan kawan-kawannya lalai, barangkali karena terlalu asyik main catur. Tiga tentara lalu memanggil kawan-kawan mereka. Para pemuda desa dan keponakan Farida disuruh masuk parit ukuran tiga meter, lalu ditarik ramai-ramai. Karena badannya besar, ia kesulitan keluar. Bahunya lecet-lecet dan berdarah. Ia pulang lebam-lebam dan basah, sisa dimandikan dengan air comberan.

    Farida baru tahu keponakannya dihajar dan dikerjai tentara tatkala mendengar suara air di kamar mandi tengah-tengah malam. “Cek, betul seperti Cek bilang,” ujar Farida, menirukan ucapan keponakannya saat itu.

    Cek adalah panggilan untuk adik ibu atau adik ayah dalam bahasa Aceh.

    Tak hanya main hajar, tentara juga bisa menggunakan harta-benda penduduk kampung sesuka mereka. Suatu kali, ada perintah dari Keuchik (kepala desa) untuk mendata kekayaan penduduk kampung; TV, motor, bahkan sepeda. Farida protes.

    “Untuk apa semua ini, Pak Keuchik?”
    “Disuruh tentara!”
    “Iya, tapi untuk apa?”
    “Saya tidak tahu.”

    Rupanya, ujar Farida, tentara menggunakan harta-benda milik masyarakat tersebut untuk bersenang-senang. Motor keluarganya disuruh isi oli dan minyak penuh, lalu dibawa pergi. TV di rumah juga diambil. Dengan geram, Farida mengintip ke mana kendaraannya dibawa. Ada tentara yang rupanya belum bisa bawa motor, sambil operasi baru belajar. Ada pula yang pakai motor untuk memboncengkan perempuan. Farida bertanya pada dirinya sendiri, “Ada apa ini? Ditindas luar biasa! Tentara pinjam selama 10 hari. Kadang-kadang ada yang dibawa pulang sebulan, tak boleh tanya-tanya. Ada yang hilang juga.”

    Sebuah insiden akhirnya memutus habis kesabaran Farida: sandal adiknya hilang saat tentara datang mengambil motor. Dia yakin sandal itu diambil tentara karena di kampung mereka tidak pernah ada barang hilang. Farida semakin yakin sebab saat ke meunasah (surau), ia melihat si tentara memakai sandal milik sang adik. Dia lalu memutuskan pergi ke pos tentara untuk melaporkan hal tersebut kepada komandan. Karena motornya masih diambil, Farida naik sepeda. Dia juga tak bilang-bilang pada keluarga. Di depan pos, dia melihat beberapa tentara tengah berseloroh antara satu sama lain. Farida menyapa mereka dalam bahasa Indonesia. Tentara senang pada penduduk yang bisa bahasa nasional. Di Aceh, pada saat konflik, tak bisa berbahasa Indonesia adalah sebuah petaka!

    “Ada apa, Dik?” tanya seorang tentara, setengah merayu.
    “Saya mau jumpa komandan.”
    “Untuk apa? Sama kami saja.”
    “Nggak! Saya ada perlu sama komandan. Bisa panggil sebentar?” Farida sengaja bernada ketus.

    Komandan tentara keluar menjumpai Farida.“Pak, sepeda motor saya dipinjam berapa hari lagi? Saya, kan, mau pakai. Saya juga mau mengabdi pada negara, pada kampung saya. Saya ini orang pertanian. Saya mau kasih penyuluhan,” kata Farida.

    Si komandan membuka catatan, mengecek jadwal pengembalian motor. Farida menyeletuk, “Yang anehnya lagi, Pak, sambil ambil motor saya, nyuri sandal juga.”

    “Ah, nggak mungkin,” komandan tentara kaget mendengar kata-kata Farida. Kebetulan, ada sandal adiknya di atas anak tangga. Farida mengambil sandal tersebut dan menyodorkannya ke wajah si komandan, yang terperanjat dan langsung memanggil anak buahnya. Ia menampar si tentara yang mencuri sandal adik Farida. “Bapak tak usah tampar-tampar dia di depan saya. Bapak ajari saja anak buah bapak, jangan ada lagi kejadian seperti ini.” Farida berkata, dingin.

    Kira-kira dua bulan setelah kejadian itu, datang lagi kabar yang membuatnya marah. Seorang penjaga kebun kelapa milik keluarga menjumpai ibunya dan berkata, “Mi Wa, pohon kelapa di kebun dipotong tentara.” Farida berang. “Mereka (tentara-Red) tidak bilang apa-apa. Abang saya baru pulang dari Jakarta. Kata dia, ‘Jangan pergi ke pos tentara, nanti diperkosa.’ Saya jawab: ‘Saya kemarin duduk di tempat terima tamu.’”

    Farida ternyata ingin melabrak komandan tentara. Kali ini bukan komandan tentara di desa, tapi di kecamatan. Pasalnya, menurut si penjaga kebun, pohon-pohon kelapa yang ditebang untuk program ABRI masuk desa. Sebelum pemisahan antara TNI dan Polri pada 1999, keduanya tergabung dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Farida menghadap komandan dan berujar dengan nada tinggi, “Saya punya kebun kelapa dan sekarang di kebun itu sudah bisa main bola. Kami sebenarnya mengizinkan dipotong untuk kepentingan umum, asalkan minta izin.”

    “Oh,” kata komandan tentara tersebut, setelah mengingat-ingat ihwal tersebut, “Warga di situ bilang itu punya orang kaya. Kata mereka boleh.”
    “Kalau orang miskin mana ada kebun kelapa. Batang kelapa tidak tumbuh sendiri, Pak, yang tanam manusia."
    “Jadi bagaimana?”
    “Ya, bayarlah. Ayah saya tentara juga. Lebih gagah dari Bapak,” kata Farida, menceritakan kembali kejadian tersebut dengan tertawa lepas.

    Ayah Farida, Muhammad Daud Bugis, sebelumnya adalah Tentara Darul Islam di bawah pimpinan Teungku Daud Beureueh. Setelah Teungku Daud Beureueh turun gunung, tentara-tentara DI/TII diterima sebagai TNI. Muhammad Daud Bugis juga pernah menjabat sebagai camat. Setelah mendapat uang ganti rugi, Farida pun pulang. Tanpa dinyana, desa tempat tinggalnya gempar karena Farida pergi ke pos tentara. Ibunya, Fatimah, memarahinya. Ayahnya lebih marah lagi. Farida sampai harus menjelaskan berkali-kali, dia hanya menuntut ganti rugi atas pohon-pohon kelapa yang ditebang oleh TNI.

    “Katanya, Bapak tentara, pemberani,” kata Farida pada ayahnya. “Anak tentara, kan, harus berani juga.”
    “Tidak ada berani-berani! Duduk di rumah!” Ayahnya menghardik.

    ***

    Rasa geram dan pahit karena diperlakukan tak adil oleh tentara, semakin menjadi-jadi ketika Farida menjumpai kenyataan di Cot Keng, sebuah desa yang terletak di kaki bukit di kawasan Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, sekitar 175 km timur Banda Aceh. Daerah ini dicapai sekitar tiga jam berkendara dari Ibu Kota Provinsi Aceh. Nama desa tersebut, berasal dari kata Cot, yang berarti puncak; dan kereng: kering. Penduduk di Cot Keng, pada awal 1990-an sekitar 168 jiwa, dengan jumlah pria hanya sekitar sebanyak 21 orang. Mereka habis dibantai tentara.

    Minggu, 29 Juni 2014, saya menyambangi desa yang dijuluki “Kampung Janda” itu. Spanduk Calon Presiden Prabowo-Hatta terpampang di sejumlah pagar kebun milik warga. Jalan di sejumlah desa di kawasan Ulee Glee kebanyakan telah teraspal. Tapi, jalan menuju Cot Keng masih berkerikil dan berbatu. “Masih dalam proses. Akan diaspal,” kata seorang warga yang saya temui di pos jaga. Stiker bergambar Prabowo-Hatta dengan kopiah hitam dan gambar Burung Garuda merah ditempel di pos jaga itu.

    Saya pergi ke kios di dekat pos jaga, membuka obrolan dengan sejumlah pria di tempat tersebut, sekaligus mengutarakan niat kedatangan saya. Tiba-tiba, seorang pembeli menyambar obrolan kami. “Itu,” kata dia, seraya menunjuk spanduk Prabowo-Hatta di pagar kebun, “pembunuh orang Aceh.”

    Si pemuda itu lalu menghidupkan mesin sepeda motornya dan berlalu.

    Tak sulit menggambarkan Cot Keng. Ia tak jauh berbeda dengan desa-desa lain di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Aceh. Pohon pinang, kelapa, kedondong, cokelat, dan pohon pisang—paling tidak, satu dari jenis pohon tersebut—ada di setiap rumah warga. Sawah diapit oleh bukit-bukit yang berkelok-kelok. Permukaan tanahnya landai.

    Saya menemui Juwairiyah Ismail, 65 tahun. Dia berperawakan kecil dan berkulit gelap. Nada bicaranya nyaring dan meledak-ledak. Dia adalah salah satu korban konflik yang dibawa Farida ke Jakarta. Seorang lagi, Siti Aminah, tak bersedia diwawancarai. Dari Juwairiyah saya mendapatkan keterangan yang sama dengan apa yang diutarakan Farida, ihwal pembunuhan sejumlah lelaki di desa tersebut. Ibu empat orang anak itu berbicara dalam bahasa Aceh sepanjang wawancara.

    Pada hari ke-29 puasa, Senin tahun 1990, kata Juwairiyah, masyarakat di Cot Keng mengumpulkan uang untuk menyiapkan bubur di meunasah. “Di sini jika satu hingga 29 puasa, itu, masak kanji. Tapi kalau tutup puasa (29 puasa-Red), kami buat bubur,” kata dia, mengenang peristiwa 24 tahun silam. Tapi, tutur Juwairiyah, saat tentara menggeledah orang-orang di pos jaga tepat pada Hari Raya Idul Fitri, malapetaka itu datang. Di saku Munir, sekretaris desa, tentara menemukan secarik kertas bertuliskan “sumbangan”. Munir adalah suami Siti Aminah.

    “Kami kumpulkan uang buat bubur. Dikira tentara, itu sumbangan untuk GPK,” ungkapnya. “Semua dicari. Enam orang dihabisi. Munir ditangkap hari itu juga. Jasadnya lebih dari seminggu baru ditemukan. Sedangkan Pak Keuchik ditembak di Keude Ulee Glee. Jasadnya ditemukan di Blacan, Meureudu.”

    Suami Juwairiyah, Yusuf bin Muhammad Ali ditembak saat sedang bekerja di sawah. Sejumlah lelaki lainnya memilih lari meninggalkan kampung dengan hanya berbekal baju yang ada di badan. Istri mereka menganggap mereka telah meninggal. Diculik dan dibunuh! Setelah Keuchik Hanafiah alias Abu Cut meninggal, TNI menunjuk Muhammad Sufi Husein sebagai penggantinya. “Saya tak punya pilihan. Kalau tidak mau, akibatnya tak sanggup saya bayangkan,” kata pria kelahiran 1947 itu.

    Dia mengenang saat-saat sulit menjadi kepala desa di Cot Keng dari tahun 1990 hingga 1998. “Orang dipukul sampai pingsan, disuruh kasih air. Ketika terjaga, dipukul lagi,” kata dia. Saat TNI masih mencari-cari sejumlah nama pada secarik kertas celaka itu, selama tiga hari tiga malam Husein tidur di atas pohon mangga di depan rumahnya. “Tiap disuruh ambil mayat, mayat-mayat itu harus dibawa pulang dengan gerobak sorong,” ujarnya. “Saat itu tak seramai sekarang. Hanya ada 30 Kepala Keluarga (KK).”

    ***

    Farida pulang-pergi Banda Aceh-Ulee Glee untuk merampungkan skripsi. Pada suatu sesi konsultasi dengan pembimbingnya, Ir Abdul Gani Nurdin, Farida tak bisa berkonsentrasi. Dia teringat kekejaman yang terjadi di Kampung Janda. Farida kemudian menceritakan perihal tersebut pada Abdul Gani Nurdin, yang lekas tertarik. Sejak itu, mereka tak lagi banyak membahas tentang tugas akhir. Farida lalu memutuskan bekerja di Yayasan Masyarakat Desa (Yadesa) yang diketuai oleh pembimbingnya itu.

    Tugas mulanya adalah mencatat kasus pelanggaran HAM, pemerkosaan, dan tindak kekerasan di Cot Keng, juga menjadi penyuluh. Farida menjadi pegawai honorer di Dinas Kehutanan Pidie. Dia mengajar masyarakat Cot Keng membaca. “Kadang sepeda motor jatuh rantai,” kenang Farida. “Pakai lampu minyak, itu masih. Akhirnya di desa tersebut bisa masuk air bersih.”

    Farida juga fokus pada pengembangan ekonomi. Pasalnya, sepeninggal suami, para perempuan Cot Keng kebingungan bertahan hidup dengan anak-anak. Hidup mereka masih sangat bergantung pada suami. Farida membina mereka. “Kalau bilang HAM pada tentara, mana boleh masuk ke kampung itu. Harus penyuluhan.”

    Setelah reformasi, Farida dan Abdul Gani Nurdin berniat membongkar kejahatan negara terhadap masyarakat di Kampung Janda. “Farida, kita tunjukkan ke seluruh negeri. Bawa korban ke negara, biar negara tahu ada kekerasan yang negara lakukan,” kata Farida, menirukan ucapan Abdul Gani Nurdin padanya saat itu.

    Mereka tidur di rumah Munir Said Thalib di Bekasi. Waktu itu tahun 1998. Di Jakarta masih ada asap bekas pembakaran, sisa demonstrasi menuntut Soeharto mundur. Farida dan Abdul Gani Nurdin pergi ke Komnas HAM. Sayang, data yang mereka bawa ditolak karena berasal dari tahun 1990, sedangkan Komnas HAM baru berdiri tahun 1993. Mahasiswa Aceh di Jakarta marah. Kursi ditendang, kantor diobrak-abrik. Barulah data yang mereka ajukan diterima.

    Siti Aminah sehari dua kali pingsan. Perempuan itu trauma.

    Akhirnya data sudah masuk DPR, Mabes ABRI, dan Komnas HAM. Mereka berkata akan pikirkan Aceh. Ketika pulang, Munir minta surat pada Mabes ABRI agar Farida dan warga kampungnya dilindungi. Tak ada handphone. Lima belas hari kemudian, DPR RI turun ke Aceh. Farida diundang. Munir Said Thalib adalah aktivis dan pejuang HAM Indonesia. Ia meninggal karena diracun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum.

    Malam kedua mereka di Jakarta, Ghazali Abbas Adan yang saat itu anggota DPR RI asal Aceh menjemput Farida, Abdul Gani Nurdin, dan kedua korban: Juwairiyah Ismail dan Siti Aminah di rumah Munir. Kemudian dia membawa mereka ke rumah dinas di Kalibata. “Saya fasilitasi mereka. Fraksi PPP mendesak DPR RI. Lalu terbentuklah Tim Pencari Fakta (TPF-Red). Papua satu tim dan untuk Aceh satu tim,” kata Ghazali Abbas Adan, Selasa, 17 Juni 2014.

    Dalam kunjungan ke Aceh saat itu, Ghazali Abbas Adan bertindak sebagai penerjemah dari bahasa Aceh ke bahasa Indonesia, dan sebaliknya. Dia merasa berterima kasih kepada Farida. Kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang sebelumnya belum pernah terdengar, terkuak. “Sebagai dewan yang mewakili Aceh, saya sambut mereka,” ujar Ghazali. “Kami ingin seluruh Indonesia tahu ada pelanggaran HAM berat di Aceh.”

    Pada Pemilu Legislatif 2014 lalu, Ghazali Abbas Adan terpilih sebagai anggota DPD asal Aceh.

    ***

    “Terima kasih ya, Pak, sudah ke sini. Bapak ke lapanganlah,” kata Farida pada Hari Sabarno, purnawirawan TNI yang ketika itu mengetuai TPF. Jabatan politik tertinggi Sabarno: Menteri Dalam Negeri Kabinet Gotong Royong. Kini, dia mendekam di balik jeruji setelah dinyatakan terbukti terlibat kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran.

    “Apalagi perempuan ini, banyak sekali tuntutan! Ini, kan, sudah di lapangan,” tutur Hari dengan gaya militernya.
    “Bapak, kan, punya anak di sini. Bapak titip anak di sini.” Farida merendahkan suaranya dan bicara dengan nada sedikit merengek.

    “Jadi kenapa?”
    “Bapak lihat kelakuan mereka di sini. Sama juga seperti di Jakarta.”
    “Bagaimana maksudmu?”
    “Bapak turun ke Pidie, ke daerah-daerah di mana banyak anak buah Bapak.”
    “Okelah!” Hari setuju, setengah membentak.

    Tapi, Farida mengingat, TPF tidak bilang kapan turun ke daerah. Dua hari kemudian Farida mendapat informasi dari Ghazali Abas.

    “Dik, besok mereka turun.”
    “Jadi apa yang harus saya lakukan, Bang?”
    “Kumpulkan korban.”

    Farida lekas-lekas memberitahu beberapa korban, akan ada kedatangan anggota DPR. Rupanya, berita tersebut menyebar dari ke mulut-mulut dengan cepat. Hari itu, kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie dipenuhi orang. Truk dan mobil bak terbuka berjajar di ruas jalan. Sigli seperti sepotong kue kering yang digerogoti semut. Farida sendiri tak tahu berapa jumlah janda di Pidie. Saat itu sudah disiapkan mobil pick-up untuk para korban di Cot Keng. Korban dari Geumpang dan Tiro juga turun. Pemandangan kali itu tak terbayangkan. Sigli hitam. Jalan macet. Orang-orang membludak di kantor DPRK Pidie.

    “Saya punya kawan wartawan, Nona namanya,” cerita Farida. “Saya jadi berani karena ada dia. Yang lebih berani lagi, kawan saya Noni, seorang dosen di Universitas Jabal Ghafur. Noni menikah dengan anggota GAM dan berada di luar negeri. Drum-drum dia tendang. Tidak mau berantam dengan serdadu. Mereka orang diperintah, kita cari bos-bos!”

    Rupanya, tidak semua korban dibolehkan masuk. Ghazali Abbas dan Farida putar otak. “Pintu utama gedung DPR, kan, satu dibuka, satu lagi direkatkan. Saya bilang: Abang masuk ke dalam, nanti lepaskan perekat bawah dan atas pintu yang tertutup itu. Nanti saya kasih aba-aba.”

    Sementara yang lainnya sudah berbaris, Ghazali Abbas bersiap-siap membuka pintu. Massa menerobos ke dalam. Rombongan di depan, sekitar 20 orang, tumbang ke lantai. Mereka lalu duduk tertib di lantai. Lima orang korban menuturkan cerita mereka, begitu pahit sampai mata Hari Sabarno berkaca-kaca mendengarnya. “Dari situlah, mereka turun ke kamp-kamp statis. ke Rumoh Geudong dan ke Bukit Janda. Beribu orang datang. Bertahap-tahap itu. Tidak terjadwal sebelumnya,” tutur Farida.

    TPF turun ke desa-desa di Kabupaten Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Dari kasus penculikan, pembunuhan, penyiksaan sampai pemerkosaan yang dilakukan “aparat”, dikisahkan secara gamblang oleh masyarakat korban. Beberapa bulan kemudian, Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Jenderal TNI, mencabut status DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh.

    Farida Hariyani mendapat Anugerah HAM Yap Thiam Hien pada tahun 1998. Saat ini dia menjabat sebagai Direktur Pengembangan Aktivitas Sosial Ekonomi Aceh (PASKA). Di Cot Keng, tak ada warga yang tidak mengenalnya. ***
    READMORE
  • Climbing with The Fire-Diggers


    PanaJournal - Hot fumes rammed in through my lungs. My cheeks burned. Have I caught fire? The wind had suddenly changed its course bringing along earth’s fiery belches. We should have heeded the banner at the entrance, “Temporary Closure”.

    WE WERE BEING SWALLOWED; choking inside a dragon’s entrails. My eyes couldn’t open. Could we run away? But any mistake meant death; an extremely acidic lake waited below. I crouched, and feeling the rocks, crawled away from this onslaught. Finally, breath! Eyes opened; we had reached the crater of Kawah Ijen.

    “Hello!” it was Yama, the god of death, sitting on a rock, holding a scepter. But close up, Yama was a small old man, with thin moustache and broken teeth, wearing oversized rubber boots. His crown was his headlight pointing skyward. Was he really Yama? “I am Papa Agus,” he clarified, “I work in the sulfur mines here. Don’t worry. This smoke is like free cigarette.” We were still alive.

    Located in East Java, Indonesia, Kawah Ijen is an active volcano that last erupted a decade ago. The volcano is 2,799 metres high and has a crater lake that is a kilometer wide. The nearest towns are Bondowoso and Banyuwangi, 50 kms on either side of Ijen. The nearest settlements were about 10km away.

    We had arrived at the Paltuding Base camp, the starting point for the trek to Ijen, after a back-breaking ten hour drive from Surabaya. The journey was only made bearable because of the several durian stops we made along the way. The lodge at the base camp was a tiny enclosure with a questionably stained bed, a phalanx of numb mosquitoes, and heavily cracked floor. When we asked about the toilets, the lodge boy smiled, “Very sorry, here only ‘natural’.” So it was, in freezing temperature, we would walk inside the dark forest to find a place worthy of ‘natural’.

    To kill time, we spent hours at the only warung (small shop) open for business, run by a loud, boisterous, hyper-happy mama with a rather small and timid husband. We played a simple game of cards, disturbed by a cat named Timur (East) every now and then, and counted the stars. We made friends with two students from Yogyakarta who were helping to rehabilitate hawk-eagles captured from poachers. They promised to take us for bird feeding the next day. They put live pigeons inside its enclosure to help the bird learn hunting again.

    That night, around 2 AM, we had begun our trek to the crater. We climbed slowly with the aid of a tiny torchlight; stopping every few minutes to unleash a volley of coughs whenever the sulfurous wind came by to warn us. Once at the peak, we came down to the crater along the steep and narrow half-trail. The whole mountain had become a chain of moans, coughs and spits. These were coming from the sulfur miners, climbing up from the crater. Each was carrying a heavy load of sulfur, put in two baskets hanging from a beam that they balanced over their shoulders. They too had ignored the closure warning.

    Over 350 people work as miners at Ijen, though at any given day, there are only about a 100. Most of these miners are from Rotorua, some come from Banyuwangi. They come after midnight, go up the 3km trail to the top of Ijen and then go down another 800 metres to the mines. A strong miner could do at most two trips in a day.

    At the crater, the earth was burning in three giant blue ovens; shifting shapes, imitating supernova; evil fairies that danced only at night; every night. The smoke hurled out of these arched over us into a buzzing tsunami. We were peeking into hell’s guts. Miners worked at the flames’ edges, breaking the cooled yellow newborn with rods.

    At sunrise, the blue fire disappeared. The lake shed its grey blanket; a turquoise soup in a wrinkled bowl. The lake is known to burp out fatal gases. Its calmness was eerie. Only yearning dead spirits could survive underneath.

    We went closer to the vents which were now hurling out giant white clouds. Ceramic pipes dug into these were drooling molten sulfur. It came out of the womb in bright orange, turning yellow soon as it spilled out and cooled. The flat sulfur chunks were cut and placed like long rabbit ears in the basket. Inside the basket, it cooled, sending out faint crackling sounds in the air, almost melodious.

    As we were climbing up to the crater rim again, we kept looking back at the destructive beauty of the landscape. Scraggy cliffs with tortured skin encircled the lake from one corner of which came out the smoke that was losing itself in the clouds. The low sun was still throwing out red and gold onto the clouds. Papa Agus joined us on, carrying the sulfur cakes.

    The volcano’s angry belches came again and again. Each time, we crawled away, blinded. My insides burned. My mouth frothed. But with his load, Papa Agus had nowhere to hide. He just kept his head down like a withering tree. He was moaning in exhaustion, “Ahhhh…. cough…spit..” The climb up to the peak was squeezing out every drop of his strength. He rested every two minutes. I tried to help him. But I couldn’t lift the baskets even one inch. He grinned, “Its ninety kg. I have been doing this for the last forty years.”

    Further up, we overtook a young miner, “Photo, photo,” he called us back with a smile. On the way down, Papa Agus became a whistling gazelle, moving in springy steps, almost dancing. We struggled to keep pace. “Faster,” he laughed, “You’re not seventytwo like me.” Dead tree stumps were scattered everywhere; bent, seemingly too late while running away from a catastrophe.

    Halfway down the slope, there is a small tea stall where miners took a break. We met Adi there. “See how my skin feels like,” he pulled down his shirt to expose his shoulders. There were two dark patches, where the beam for the load rested on his shoulders. “Touch it, touch it.” The patches were rough and flaky, like a snake’s shed skin. We saw some filled-up baskets left idle. “No one steals anyone else’s load. We all know each other.” Some do write their names on the beams. “That’s to recognize your load in case many of them are kept together.” One miner approached us with small carvings he had made with the sulfur: rabbit, panda, turtle, and hello kitty.

    Back at the Paltuding base camp, the miners had placed their loads in a queue next to the weighing station. They got seven hundred and fifty Rupiah for one kilo. A typical miner could make ten to fifteen dollars a day. They all greet us. Saleh Hidayat, a miner, and Pak Sukhandi, the truck driver stay back for a chat. With his glasses and hat, Sukhandi almost passes for a shy intellectual.

    Saleh has been mining here for 13 years. He has a son and a daughter, both going to school. “Life is not too bad,” he says, “Schooling is cheap, and the government hospital is free. My wife cooks a little everyday but it tastes good.” “No one has died here,” says Sukhandi, “It looks dangerous. And it feels very bad when the smoke comes at you. But so far, no one has died.” Papa Agus interjects, “But it can be very dangerous when it’s raining.”

    The miners who had already got paid were unloading the sulfur onto Sukhandi’s truck. Sukhandi explained that the sulfur is molten into blocks at Banyuangi and then to Surabaya for use in cosmetics, explosives and tires. Every day Sukhandi also collected the miners to bring them to their beautiful deadly workplace.

    Zul, one of the students we had befriended at the night before, came running, “The food has died. We can’t see feeding today.” We went anyway to see the hawk-eagle. It was kept in a huge netted enclosure to create some sense of the wild. Zul whispered, “Hide behind the bush. Don’t let the bird see you. Otherwise it will lose fear of humans.” On our way back we saw many tracks and smell; clear evidence that this place happened to be a favorite area for ‘natural’. Poor bird, by now it must have not only lost all fear of humans; it must have lost all respect for this species preoccupied with ‘natural’.

    We went back to the base camp where we met Papa Agus again. “When will you retire, Papa?” we ask as we say goodbye. He laughs, “Till I die, I will have to dig fire.” ***
    READMORE
  • Permainan Ingatan dan Kenangan


    PanaJournal - Jika ingatan dan kenangan suatu bangsa sering disebut memori kolektif, bagaimana dengan ingatan dan kenangan pribadi? Dapatkah ia direkonstruksi layaknya memori kolektif suatu bangsa?

    Judul Buku: Jalan Lain ke Tulehu
    Penulis: Zen RS
    Penerbit: Penerbit Bentang Pustaka, Mei 2014
    Tebal: 300 halaman
    ISBN: 978-602-291-040-4

    "MENYADARI bahwa ingatannya benar dan Gentur yakin dengan kebenarannya, dia merasa senang bukan main, perasaannya seperti melompat-lompat. Gentur merasa senang luar biasa karena dia tidak pernah ingat fragmen-fragmen itu. Sepakbola yang diingatnya, ya, ikatannya dengan Persib Bandung, klub kesayangannya sejak kecil. Gentur rasa-rasanya tak pernah didatangi oleh ingatan atau kenangan tentang klub sepakbola di Cirebon, selain sepakbola masa kecilnya di lapangan dan di jalanan kampung. Bintang Timur seperti raib begitu saja dari masa silamnya.

    Maka, ketika Gentur tanpa sengaja menemukan fragmen ini kembali, dengan cara yang sungguh mengejutkan dan tak terduga, dia merasa ada yang terselamatkan dari masa silamnya. Ada masa silam yang muncul dari ancaman kepunahan. Tanpa pernah pergi ke Tulehu, Gentur mungkin tak akan pernah berhasil menemukan kepingan sederhana masa silamnya ini.

    Akan tetapi, apa gunanya kepingan masa silam seperti ini? Apa faedahnya untuk hari ini? Gentur tercenung sendiri dengan pertanyaan itu. Tidak, mungkin benar memang tak ada faedahnya. Namun, kesenangan dan kegembiraan yang dirasakannya barusan itu membuatnya merasa itu saja sudah cukup. Tak harus semua ada faedahnya. Siulan dan gumaman sambil bernyanyi di kamar mandi juga tak ada faedahnya. Namun, toh orang-orang tetap saja melakukannya. Kesenangan kecil, kebahagiaan remeh-temeh, rasa riang yang walaupun hanya hadir sekejap, tak pernah sia-sia, dan jutaan orang selalu menantikan momen seperti yang sedang dinikmati Gentur ini." (Hal. 138-139)

    Ingatan dan kenangan bukanlah persoalan sederhana. Di dalamnya tersimpan harapan, hasrat, kekecewaan, rasa bersalah, kegelisahan, trauma, dan juga nostalgia. Nostalgia sendiri, jika dirunut akar katanya, berasal dari gabungan dua kata Yunani, ‘Nostos’ dan ‘Algos’. ‘Nostos’ berarti ‘kembali pulang’, sementara ‘Algos’ berarti ‘penderitaan’. Dengan demikian, ‘nostalgia’ kurang lebih bisa berarti: ‘penderitaan yang disebabkan oleh kerinduan yang tak habis-habis untuk kembali pulang’.

    Milan Kundera, sastrawan kelahiran Cekoslovakia, konon menulis akar kata ‘nostalgia’ itu dalam novel Ignorance---saya sendiri belum membacanya langsung. Namun, menilik pengertian yang diberikan Kundera, barangkali seorang wartawan bernama Gentur akan berbantah pendapat. Nostalgia, bagi Gentur, bukanlah satu penderitaan, melainkan sebuah permainan yang sanggup membuat ia berbahagia.

    Tahun 2000 Gentur ditugaskan meliput ke Tulehu, sekitar 30 km dari Kota Ambon, Maluku. Saat itu wilayah tersebut sedang dilanda konflik bersentimen agama. Diterjunkan ke daerah konflik, Gentur tahu ia akan menghadapi berbagai situasi pelik. Identitas yang melekat sering jadi penentu hidup atau mati seseorang.

    Batas sering digariskan begitu jelas dan tegas. Hanya ada “Islam” atau “Kristen”, “Pusat” atau “Daerah”, “Cina” atau “Pribumi”, “Kaya” atau “Miskin”, serta “Kami” atau “Mereka”. Singkatnya, hidup terlihat begitu hitam dan putih. Apa pun yang bertolak belakang atau berada di luar kategori harus disingkirkan.

    Apa yang bisa dilakukan Gentur? Tak banyak. Ia hanya berusaha menulis berita secara proporsional dengan angle yang mendukung perdamaian. Namun, sebagai pribadi, Gentur tahu ada sesuatu yang terasa lebih.

    Kelebihan itu terletak bukan pada kata-kata, melainkan pada ingatan, kenangan, serta nostalgia. Di Tulehu ia mendapati berbagai nostalgia datang silih berganti masuk ke dalam kepala, membuat pikiran hilir-mudik antara masa kini dan masa silam. Semua peristiwa seolah memacunya untuk menengok kembali satu masa yang sudah terlindas jauh.

    Dudi, seorang wartawan lokal, membawa Gentur menelusuri ingatan dan kenangan orang-orang Tulehu, Waai, Ambon, dan beberapa daerah konflik lain di Maluku. Lewat Dudi, Gentur paham, ingatan dan kenangan yang berbeda atas satu peristiwa yang sama, bisa menjadi akar konflik yang tak habis-habis antara dua kelompok.

    Said, tukang ojek sekaligus pelatih sepak bola anak-anak di Tulehu, membawa Gentur menengok dirinya sendiri. Ingatan dan kenangan tentang kegemaran bermain sepak bola dengan riang tanpa pretensi, serta cita-cita masa kecilnya yang terpaksa harus kandas.

    Frans, kawan lama Gentur yang pernah menjadi Frater, membawa ingatan dan kenangan Gentur menukik tajam ke sisi yang paling pribadi dan intim. Ingatan dan kenangan soal identitas diri, agama, dan juga Eva Maria---seorang gadis korban kerusuhan rasial di Jakarta.

    Semua hal itu berpilin dan berkelindan diantara berbagai peristiwa yang dialami Gentur selama di Tulehu. Di satu titik, Gentur pernah tercenung sendiri akan “permainan ingatan dan kenangan” yang sedang dilakoninya. Saat itu ia bertanya, “Akan tetapi, apa gunanya kepingan masa silam seperti ini? Apa faedahnya untuk hari ini?”

    Namun, tak lama kemudian ia sadar, bahwa tak selamanya semua hal harus berguna dan bermanfaat. “Siulan dan gumamam sambil bernyanyi di kamar mandi juga tak ada faedahnya. Namun, toh orang-orang tetap saja melakukannya. Kesenangan kecil, kebahagiaan remeh-temeh, rasa riang yang walaupun hanya hadir sekejap, tak pernah sia-sia...”

    ***

    Gentur sendiri tidak pernah benar-benar hidup secara fisik. Ia cuma seorang tokoh dalam novel Jalan Lain ke Tulehu. Novel perdana Zen RS yang pertama kali terbit Mei 2014 itu dengan apik menerangkan soal ingatan dan kenangan.

    Ingatan dan kenangan itu saling menumpuk dalam berbagai lapisan yang bermuara pada tiga soal pokok: sepak bola, konflik dengan sentimen agama di Maluku, serta lika-liku kehidupan Gentur sendiri. Pada perjalanannya kemudian, berbagai lapisan itu bercampur baur dengan banyak lapisan lain---lapisan ingatan dan kenangan milik orang lain yang menemani Gentur. Lapisan ingatan dan kenangan milik Dudi, Said, Salim dan Frans.

    “Kita semua sedang bersama-sama menulis sebuah epik kolosal,” kata Gentur pada Frans, ketika sedang menonton semifinal Piala Eropa 2000 antara Belanda dan Italia. Tiap orang, menurut Gentur, memang menulis kisahnya sendiri-sendiri. Namun, pada saat yang sama, kisah masing-masing itu tidak pernah betul-betul ditulis sendirian.

    “Kisah hidupku ditulis dan disusun juga oleh kisah hidup orang lain yang bertemu, mengenal, dan berhubungan denganku. Kisah-kisah yang saling bersilangan dan beririsan.” (Hal. 50).

    Permainan ingatan dan kenangan dalam Jalan Lain ke Tulehu diceritakan sepanjang 300 halaman. Tidak terlalu tebal, juga tidak terlalu tipis. Cocok dibaca ketika sedang melakukan perjalanan dengan kereta api ke kota kelahiran, atau ketika santai di rumah saat akhir pekan tiba. Struktur kalimat yang tidak bertele-tele---seperti karakter esai-esai Zen RS sendiri yang tersebar di berbagai media---membuat novel ini seperti sungai yang arusnya mengalir cukup deras, tapi tetap konstan dan terkendali. Dalam beberapa bagian, Jalan Lain ke Tulehu juga terasa seperti laporan feature di majalah bulanan: panjang, bernarasi, tidak terlalu banyak pernak-pernik detil, tapi tetap bernas dengan fokus yang terjaga.

    Di samping itu, Jalan Lain ke Tulehu juga menyiratkan satu hal penting: bahwa ingatan dan kenangan barangkali lebih baik dibiarkan mengalir begitu saja adanya. Tidak perlu akurasi detil yang terlalu ketat, atau berbagai usaha lain yang bertujuan membekukan suatu peristiwa secara rigid---layaknya mencampur aneka zat di sebuah laboratorium kimia. Sebab kehidupan, seperti kata pengarang, bukan bergerak dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana. Kurang lebih seperti jatuh cinta.***
    READMORE
  • Sisa Kejayaan Becak



    PanaJournal - Ada lebih dari 3.000 tukang becak di Jogjakarta yang masih beroperasi. Sebagian dari mereka sudah lepas dari para juragan dan memilih berusaha sendiri.

    BENGKEL SELUAS empat lapangan voli di Jalan Raya Bantul km. 5,5 itu didempeti toko peralatan bangunan yang dijaga dua pelayan. Dinding sampai atapnya berbalut besi. Dari jalan, bengkel bernama “Sinar Laut” itu tampak menonjol di antara toko-toko lain. Gerbangnya lebar dan seperti tak pernah benar-benar terkunci. Di dalam, bertumpuk besi-besi baru dan tua. Sinar Laut sekarang adalah hasil kemajuan usaha yang dibangun berpuluh-puluh tahun. Inilah bengkel yang pernah berada di puncak kejayaan produksi becak Jogjakarta.

    “Tahun berapa tu, taksi mulai masuk Jogja? Ya sejak itulah becak mulai terpinggirkan,” Andi Setyawan, pengelola bengkel Sinar Laut, membuka percakapan kami.

    Andi Setyawan merupakan generasi kedua dari keluarga Setyawati, pemilik bengkel bubut Sinar Laut. Penampilannya sederhana dan apa adanya. Matanya nampak berat, seperti lelah atau kurang tidur, tapi menyisakan semangat. Hidup Andi sekarang terdiri dari desing-desing palu beradu besi dan bunyi gemercik bunga api dari hulu las, serta riuh rendah tawar-menawar dalam proses jual-beli.

    Kalau tidak sedang sibuk melayani permintaan barang-barang hasil las atau mengawasi karyawan, Andi mengunjungi bengkel cabang yang dikelola kakaknya. Di benak lelaki yang umurnya saya taksir sekitar 40 tahun itu, tak banyak ingatan yang tersisa soal becak dan usaha legendaris yang dibangun orang tuanya.

    Pertengahan tahun 1970, Setyawati, pedagang kelontong dan tekstil keturunan Tionghoa, mulai merasa lelah dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Persaingan yang semakin tak sehat dan sentimen SARA yang sesekali muncul, mengganggunya. Mengandalkan keterampilan berdagang, Setyawati mulai mencari-cari peluang baru menyambung hidup, hingga akhirnya berlabuh di Jogjakarta.

    Di kota baru itu, Setyawati dan suaminya menemukan labuhan usaha: bengkel bubut bernama Sinar Laut yang nyaris bangkrut. Pemilik aslinya seorang Jawa, yang akhirnya melepas seluruh aset kepada keluarga Setyawati, pendatang yang justru menyelamatkan perusahaan.

    Bermodal pengamatan, jaringan bisnis yang menjanjikan, dan potongan-potongan besi, mereka lancar meladeni pesanan las, perbaikan rangka kendaraan (waktu itu sepeda motor sedang laris-larisnya), dan mulai merekayasa produk besi. Hingga kemudian, pasar meminta lebih: sebuah moda tak bermotor, beroda tiga, yang berpuluh-puluh tahun kemudian mengubah total wajah transportasi di Pulau Jawa.

    Perkenalan Sinar Laut dengan becak bermula dari permintaan seorang tukang becak untuk memperbaiki kendaraan miliknya. Setyawati menyanggupi. Bulan-bulan berikutnya membawa Sinar Laut pada jasa baru penyewaan becak, yang sebagian unitnya mereka bikin sendiri. Pasar, yang sebagian besar adalah tukang becak, mulai meningkatkan permintaan. Sinar Laut bersaing dengan bengkel-bengkel rakit yang hadir lebih dulu, seperti Tetap Jaya, Lei Kiong, dan Rocket.

    Merasa mendapatkan keuntungan kompetitif dalam rancang bangun becak, plus prospek pelanggan yang menggembirakan, pada akhir tahun 1971 Sinar Laut resmi menghasilkan produk becak melalui mekanisme pemesanan. Harga per unit becak waktu itu dipatok Rp 400.000,- dan laku keras. Tak sampai dua tahun, para juragan becak semakin banyak. Perlahan namun pasti, Jogjakarta menerima becak sebagai moda transportasi unggulan.

    Becak (bahasa Hokkien: be chia = kereta kuda) dipercaya lahir di Jepang sekitar tahun 1769, ketika seorang pemuda misionaris Amerika Serikat di Jepang bernama Jonathan Scobie berniat menciptakan alat bantu berjalan bagi istrinya yang cacat (versi paling akurat dibandingkan beberapa teori lain).

    Dalam perkembangannya moda ini disebut sedan-chair (becak tandu) atau pull-rickshaw (becak tarik), yang dalam bahasa Jepang disebut jinrikisha. Becak kemudian sampai ke telinga bangsawan di Tiongkok dan jadi primadona sampai 1870-an. Di Indonesia, Batavia tercatat sebagai kota pertama tempat kemunculan becak pada 1936, sekaligus kota pertama yang melarang becak pada 1988. Jogjakarta kini jadi kota dengan populasi becak terbesar di Indonesia.

    Dalam buku The Betjak Way: Ngudoroso Inspiratif di Jalan Becak, pengayuh becak yang juga aktivis media sosial Blasius Haryadi menuliskan bahwa cikal-bakal becak di Jogjakarta tercatat bermula pada 1950, ketika beberapa pengusaha keturunan Tionghoa membawa contoh becak dari Semarang. Pada masa itu, mulai muncul bengkel-bengkel perintis seperti Siong Hong dan HBH, yang membuat rancangan becak kayuh dengan pengemudi di belakang—berbeda dengan becak Sumatra yang pengemudinya duduk di samping.

    Pada era 1970-an, becak menjajaki karier sebagai moda “calon raja baru” di jalanan Jogjakarta. Desas-desus tentangnya terdengar dari beberapa wilayah di Semarang pada masa pendudukan Jepang. Bentuk becak yang lengkap dengan tiga roda, rem bertenaga tangan, dan aneka asesorinya, mulai melekat di benak masyarakat.

    Para pelanggan utama becak di Jogjakarta datang dari masyarakat lokal, para pedagang di Pasar Beringharjo Malioboro dan Pasar Kranggan, sampai wisatawan mancanegara yang mulai mencari alternatif tujuan wisata selain Bali. Kalangan Keraton waktu itu bahkan memilih becak bersama andong sebagai moda penting bagi para keluarga dan para abdi. Memasuki 1980-an, becak tidak tertandingi dan menjelma jadi primadona masyarakat. Di jalan-jalan kota, becak sangat dominan—menyusul popularitas piet onthel yang waktu itu mulai terganggu dengan kehadiran kendaraan bermotor pribadi.

    Masa-masa surut produksi becak mulai terasa pada tahun 2000. Selain taksi, sepeda motor pribadi juga mulai membanjiri jalanan Jogjakarta. Masyarakat yang menerima moda transportasi bermotor (yang secara teknis lebih hemat tenaga, dan menjamin kecepatan) meninggalkan becak yang dianggap tersisa hanya untuk keperluan wisata. Pesanan-pesanan unit becak yang dulunya dikuasai para juragan becak dalam kota kini mulai digeser pasar yang baru, eksklusif, dan sangat terbatas.

    Andi memandang perjalanan becak di Jogjakarta seperti halnya moda-moda transportasi lain. Ada kemunculan, masa kejayaan, kemudian meredup. Andi yang membangun keluarganya sendiri dari hasil usaha warisan orang tua mengaku, kini sangat sulit menggantungkan usaha bengkel dari sekadar membuat becak.

    “Pesanan (becak) bisa dibilang hampir tidak ada. Satu-dua saja, tiap beberapa bulan. Itupun, yang pesan kebanyakan orang luar,” jelas Andi soal produksi.

    Saat pasar domestik hampir mati, becak tak lagi banyak dicari. Menurut Andi, pesanan becak di bengkelnya kini lebih banyak dipesan oleh para kolektor Belanda demi keperluan museum, galeri seni atau perpustakaan sejarah. Pernah juga dikirim ke Australia untuk keperluan foto pra-pernikahan, riset, dan sebagainya.

    Ini jauh sekali dari ingatan masa kecilnya ketika bengkel bisa memproduksi 400 becak dalam setahun. Sementara bengkel Sinar Laut milik Andi masih bertahan dengan sisa-sisa kekuatan, beberapa bengkel lain seperti Pasti Jaya dan HBH bahkan sudah benar-benar berhenti membuat becak.

    Bagi tukang kayuh atau juragan becak, biaya membuat becak yang per unitnya kini bisa mencapai Rp4.000.000 , dinilai berisiko sebagai aksi investasi. Sementara para juragan mulai alih usaha, sisa-sisa tukang becak yang bertahan memilih membeli sendiri becak dari mereka yang bangkrut. Ketimbang menyewa becak dari kisaran Rp5.000-Rp10.000 per hari, mereka memilih jaminan. Demi meneruskan bisnis, para tukang becak “independen” ini terkadang masuk bengkel reparasi, seperti Sinar Laut.

    Meski pasar tak lagi bersemi seperti dulu, para tukang becak tetap memerlukan bengkel-bengkel reparasi. Harapan akan nasib baik belum benar-benar luntur. Ketika dana pemeliharaan agak berlebih sekadar untuk mengganti cat pelek dan meratakan permukaan fender (penutup ban), beberapa tukang becak masih akrab dengan bengkel reparasi yang khusus mengerti konstruksi dan cara kerja becak mereka.

    Saya menemui Dahar, tukang becak yang mangkal di sekitaran Pojok Benteng Kulon, 200 meter di selatan kompleks Keraton. Tukang becak yang kerap narik di sekitaran Prawirotaman serta Malioboro mengakui keberadaan bengkel-bengkel becak yang masih sangat diperlukan oleh mereka.

    Duduk mengawal jok becaknya di bawah terik matahari pukul sebelas siang, laki-laki paruh baya berkulit legam ini berujar, “Di Jogja, nama-nama seperti Sinar Laut dan Pasti Jaya dikenal oleh hampir semua tukang becak.”

    Dahar, yang sudah 10 tahun mengayuh becak, mengaku terlanjur nyaman dengan pekerjaannya. Dalam sehari ia mengaku bisa mengantongi Rp25.000. Sementara di musim liburan, pendapatannya bisa mencapai empat sampai delapan kali lipat. Meski banyak kehilangan penumpang yang dulu jadi pelanggan tetap, ia menilai itu semua wajar saja.

    “Orang-orang mulai berpikir serbacepat, Mas. Becak yang jalannya lambat, dipakai untuk nostalgia saja, bukan kerja,” katanya sambil terkekeh, menunjukkan gigi geligi yang tak lagi rata.

    ***

    Paguyuban-paguyuban tukang becak kini lebih banyak terkonsentrasi di pusat-pusat turis. Selain sekitaran Malioboro, daerah Prawirotaman dan kawasan baru di XT Square Umbulharjo jadi daerah favorit para tukang becak untuk memeroleh keuntungan lebih baik.

    Tak seperti pada 1980-an dulu, sasaran mereka kini adalah turis mancanegara (dengan tip yang lebih besar), turis domestik dari beberapa daerah di luar Jawa, sampai sisa-sisa pedagang batik dan hasil bumi di Pasar Beringharjo yang biasanya meminta jasa bongkar-muat barang.

    Sistem komisi yang terjalin antara paguyuban tukang becak dan para pengusaha restoran, toko batik-kaus, dan hotel-hotel jadi harapan tunggal menjaga eksistensi becak, yang kini lebih sering diangkat sebagai transportasi wisata. Tarif kecil dari penumpang dibalas besaran “tip” tertentu dari pemilik toko, yang mendapatkan pelanggan dari hasil antaran sang tukang becak.

    Hal sama dirasakan Dahar. Menurutnya, selama kerjasama bisnis terjalin antara tukang becak sepertinya dengan para pemilik usaha wisata, masih ada harapan hidup bagi becak.

    “Dari dulu sampai sekarang, tidak pernah ada tarif baku untuk becak. Semuanya berdasarkan kesepakatan. Jadi kalau ada yang mau ngasih lebih, wah itu rezeki sekali. Asalkan jangan kurang!” Tawa Dahar pecah.

    Berdasarkan Data Dinas Perhubungan Kota Jogjakarta tahun 2006, tercatat ada sedikitnya 142 paguyuban yang masing-masing beranggotakan sekitar 50 pengayuh becak. Sementara, jumlah becak hingga saat ini masih simpang siur, yakni sekitar 4.000-5.000 di seluruh Jogja (Institut Studi Transportasi ‘INTRANS’ pada tahun 2000 mencatat angka 20.000 becak).

    Aturan pembatasan jam operasi becak sempat terbit lewat Perda No. 6 tahun 1987. Lantaran dianggap terlalu menjamur, waktu operasi becak dikelompokkan ke dalam dua kelompok warna: merah dan putih.

    Becak-becak berbodi merah hanya boleh beroperasi pada siang hari, sementara becak-becak warna putih hanya boleh beroperasi pada malam hari. Bengkel-bengkel pun sempat diatur untuk menghentikan produksi becak pada tahun-tahun itu, akan tetapi Andi mengaku kala itu sebagai produsen ia agak membandel. “Kami tetap produksi,” katanya sambil tersenyum.

    Kini, pembatasan seperti itu tak diperlukan lagi. Populasi becak di Jogja terus berkurang. Pemerintah kota telah mengambil langkah pelestarian dengan menetapkan becak sebagai ikon wisata popular kota Jogjakarta.

    Jurnalis Reuters Dwi Oblo lewat sebuah tulisan feature di majalah National Geographic edisi April 2008 menggambarkan, sewaktu Pangeran Akishino, putra kedua Kaisar Akihito mengunjungi Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto pada bulan Januari tahun itu, ia dihadiahi cinderamata berupa syal batik dan miniatur becak dari besi. Bukti kebesaran citra becak sebagai bagian dari perjalanan budaya dua negara.

    Sebenarnya, sudah ada pihak-pihak yang secara konkret mengupayakan pelestarian becak sebagai moda transportasi. Hanya saja, rupanya ide-ide “inovatif” tak serta-merta diterima para pelaku bisnis yang lebih senang “apa adanya”.

    Pakar teknik Danang Parikesit, di bawah bendera Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada pernah bekerja sama dengan INSTRAL guna mewujurkan proyek yang mereka namai “Becak Modern”, tahun 2000. Pengamat yang juga menjabat Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia ini meluncurkan proyek pilot becak modern dengan bobot lebih ringan, desain lebih ergonomis dan kapasitas muat yang diklaim sedikit lebih besar, model alternatif untuk non-motorized transport. Sekaligus ditujukan untuk misi perbaikan kualitas udara yang mulai disesaki gas buang kendaraan bermotor.

    Waktu itu, restu proyek “Becak Modern” datang langsung dari Wali Kota Herry Zudianto dengan pendanaan yang dibantu GTZ dari Jerman, juga Toyota Foundation. Hanya saja, setelah berhasil membangun basis produksi di Berbah, Sleman dengan kapasitas produksi sebanyak 40 unit becak antara 2004 dan 2005, upaya itu tidak berlanjut. Selain karena kendala finansial, respon pasar ternyata tak seperti yang direncanakan.

    Andi Setyawan rupanya sempat mengikuti proyek ini dengan hati resah. “Kebanyakan tukang becak lebih memilih desain yang lama. Identitasnya kan di situ,” terangnya. Ia menambahkan, akan sulit mengutak-atik format becak yang terlanjur berkarakter sebagai bagian dari tradisi budaya orang-orang Jogja.

    “Waktu itu banyak yang lebih senang becak-becak lama dibantu perbaikan dana dan insentif pasar, tapi bentuknya jangan diutak-atik,” papar Andi.

    Dahar pun mengungkapkan pendapat senada. Sebagai tukang becak ia punya kedekatan hati dengan tunggangannya. “Becak saya ini sama dari sepuluh tahun yang lalu. Tidak pernah ganti, terlanjur nyambung,” ia mengaku. Dahar akan tetap menyetor uang sewa harian lima ribu rupiah kepada juragan, asalkan tetap bisa mengayuh becaknya.

    Demi kesempatan tiap hari menemui istri dan tiga anaknya di Bantul, Dahar mengaku tidak pernah menyesal sedetik pun berhenti sebagai awak truk ekspedisi Jawa-Sumatra dan kini hidup dari atas kendaraan roda tiga. Keyakinannya berbicara, becak akan memberikan jaminan rezeki tersendiri, kenikmatan yang tak bisa digambarkan dengan materi.

    ***

    Kenangan masa kecil Andi Setyawan tentang becak selalu sebuah gambar yang hangat, saat orang-orang berseru memanggil “Becak!” untuk menuju ke kantor dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kini, meski pamor kendaraan ini telah jauh menurun, sejarah mencatat bahwa cita-cita Setyawati dan Sinar Laut yang dulu hanya mencoba-coba peruntungan di Jogjakarta dengan bengkel perakitan dan persewaan becak, jadi bagian penting dari sejarah moda transportasi roda tiga yang kini jadi milik dunia.

    Demi modernisasi pariwisata kota, becak-becak di Jogjakarta kini harus rela dilabeli pelat khusus kuning bertuliskan YB (tanda resmi moda tidak bermotor, juga diterapkan pada andong). Para tukang becak tradisional senior harus bersaing dengan para pengayuh-pengayuh muda yang memodifikasi becak mereka dengan mesin-mesin Honda dan Yamaha, berebut penumpang antara penggila foto wisata dan perindu nostalgia.

    Becak menikmati lembar-lembar sejarahnya sendiri. Menyaksikan tumbuh-kembang kota dengan polesan citranya yang beraneka-warna. Meskipun pengusaha seperti Andi berkata tegas bahwa becak tidak akan pernah hilang dari peradaban Jogjakarta sampai kapanpun, itu tak selalu berarti masa kejayaan itu akan kembali.

    Para pemangku kepentingan (stakeholder) becak, baik sebagai produk transportasi maupun instrumen budaya, punya penilaian tersendiri soal bagaimana moda tradisional tiga roda tanpa mesin, bisa bertahan di tengah gempuran teknologi transportasi canggih.

    Di saat roda bisnis secara nyata mengubah wajah dan tatanan kehidupan kota, orang-orang seperti Andi Setyawan berharap, kenangan becak tidak akan hilang dari ingatan orang-orang, meski kini dirinya sendiri lebih bergantung pada pesanan gerbang-gerbang besi kantor dan tiang-tiang ayunan.

    Dan dari orang-orang ulet seperti Dahar, saya belajar bahwa kecintaan pada sesuatu sebetulnya menciptakan ikatan pikiran dan jiwa yang kuat dan bertahan dalam waktu yang lama. Persis nasibnya yang bergantung pada si roda tiga.

    Sederas apapun arus perubahan zaman, sepertinya akan selalu tersedia ruas-ruas di jalan di mana becak mendapat tempat mangkal. Becak-becak itu diparkir berjajar, beserta pengayuhnya yang lebih sering sibuk dengan Teka-teki Silang—sambil menyaksikan manusia yang berubah perlahan-lahan. ***
    READMORE
  • Greyhound


    PanaJournal - Ketika kecepatan menjadi ukuran kesuksesan yang baru, PanaJournal terbit dengan kisah panjang tentang kehidupan. Sebuah upaya mengembalikan kita pada kemanusiaan.

    Kawan-kawan,

    Menjelang PanaJournal diluncurkan awal tahun ini, para wartawan dan staf pendukungnya berbincang tentang jurnalisme apa yang ingin dijalankan, dan apakah kiranya jurnalisme itu memang merupakan alternatif di tengah kebebasan, keliaran, dan kegilaan informasi yang merajalela.

    Kehendak kuat yang melahirkan PanaJournal, pada mulanya adalah obsesi kepada bentuk features panjang, yang tidak lagi mendapat tempat selayaknya dalam media cetak, maupun dalam kecenderungan jurnalisme mutakhir di dunia maya, yang seperti mengutamakan kecepatan di atas segala-galanya.

    Betapapun, gegar budaya bercampur eforia hura-hura media baru ini bukan suatu proses gratisan, karena selain kemangkus-dan-sangkilan yang telah diberikannya, tak kurang-kurangnya pemberantakan etika sosial telah dipersembahkannya pula. Kesimpangsiuran tentang apa yang boleh dan tidak boleh dalam kehidupan praktis masa kini, adalah situasi rawan yang memerlukan perhatian.

    Maka, jika dunia melesat terlalu cepat, PanaJournal akan memperlambatnya, agar manusia tetap menjadi manusia, bukan satu eksemplar produk budaya industri, yang menjual kemajuan teknologi komunikasi dengan prinsip menciptakan balapan greyhound: makhluk Tuhan yang tak tahu betapa kelinci yang dikejarnya hanyalah semu.

    Kawan-kawan,

    Memang benar, kemajuan yang dibangga-banggakan umat manusia hanya akan menjadi semu, jika tidak diimbangi kesadaran atas keberadaannya sebagai produk industri, dengan segala prinsip yang terdapat dalam dunia jual-beli. Dengan menyadari keadaan tersebut sebagai arus budaya utama saat ini, maka bukan terutama features panjang sebagai tujuan yang harus diberikan PanaJournal, melainkan cara pandang baru dalam melihat dunia ini.

    Dengan menyingkap dan mempreteli mitos tentang dunia yang dibentuk industri media itu sendiri, besar kemungkinan dunia bisa berwajah lain, dan langkah pertama tentunya adalah membebaskan diri dari arus utama pemberitaan yang tiada lebih dan tiada kurang hanyalah semu.

    Laporan tentang perjuangan Christie Damayanti, yang jiwanya justru menjulang dalam kejatuhan ragawinya, adalah pencapaian yang ingin ditunjukkan sebagai alternatif, atas berhala masa kini yang disebut sukses.

    Salam

    SGA
    READMORE
  • Ketika Menulis Menyembuhkan


    PanaJournal - Terserang stroke pada usia kurang dari 40 tahun tidak menghancurkan hidup Christie Damayanti (44). Menulis membantunya bangkit kembali.

    SIANG ITU saya ada janji dengan Christie di Agung Podomoro Land (APL) Tower, Central Park, Jakarta Barat. Sebelumnya, melalui email, Christie meminta saya menjemputnya ke lantai 43 karena ia belum bisa berjalan sendiri. Saya penuhi permintaannya dengan senang hati.

    “Badan saya lumpuh separuh, di sebelah kanan,” kata Christie, begitu kami bertukar sapa. “Jadi saya hanya bisa menyeret kaki. Kalau berjalan harus berpegangan.”

    Nada suara Christie mau tak mau membuat saya terkesima. Seumur hidup tidak pernah saya bersentuhan langsung dengan penderita stroke, apalagi yang bisa membicarakan keadaan fisiknya dengan ringan. Ketika kami turun lift, beberapa kali saya merasa canggung karena gerak kami yang lambat (tangan kiri Christie berpegangan pada lengan kanan saya, dan kami berjalan pelan-pelan) membuat beberapa orang menggerutu. Kami dianggap menghalangi jalan. Namun, dengan tenang Christie berujar pada mereka, “Maaf, permisi, saya sedang sakit..” Orang-orang yang sadar segera membukakan jalan, sementara beberapa hanya berdecak, lalu terus dengan urusannya sendiri. Inilah manusia-manusia Jakarta yang merasa selalu dikejar waktu.

    Puas berkeliling mencari spot foto, kami berlabuh di sebuah kafe. Christie memesan teh dan saya kopi hitam. Saya membantunya menyobek bungkus sedotan. Di tengah dengungan mesin kopi, teriakan lantang barista dan suara percakapan pengunjung kafe, Christie memulai riwayatnya.

    Hampir semua keluarga besar Christie meninggal karena penyakit darah tinggi. Pada tahun 2007, ia mengidap penyakit yang sama karena terlalu keras bekerja. “Waktu itu saya baru bercerai, dan mantan suami tidak kasih uang untuk anak-anak,” Christie mengaku. Pekerjaan sebagai arsitek senior di Agung Podomoro Group (sebelumnya, Christie sempat bergabung dengan grup Ciputra dan Palazzo) membuat Christie sering tidur hanya 2 jam tiap malam. Ia juga sering blusukan ke bedeng-bedeng para tukang untuk memeriksa langsung pekerjaan mereka. Ia makan seadanya dan sesempatnya. Kelelahan tidak terasa karena Christie mencintai pekerjaannya.

    Jika punya mulut, mungkin badan Christie sudah menjerit. Dan persis itulah yang terjadi pada tanggal 8 Januari 2009. Di sebuah kamar hotel di Amerika Serikat (Christie sedang berlibur bersama kedua anak dan orangtuanya), jam tiga pagi ia merasa ingin buang air kecil. Ia duduk di atas ranjang. Baru saja mau berdiri, ia jatuh. Saat itu Christie belum merasa lumpuh. Ia hanya heran kenapa ia tidak bisa bangun. Setelah menyadari ia tak bisa bicara, barulah panik menyerangnya.

    Papa Christie yang tidur di kamar sebelah segera menelepon 911. Christie dibawa ke sebuah rumah sakit Katolik di San Fransisco, dan langsung menjalani tes Magnetic Resonance Imaging (MRI). Vonis dokter: pembuluh darah di otaknya pecah, dan 20% otak sebelah kiri terendam darah. Dokter Gandhi, yang menanganinya waktu itu, berkata dengan pahit bahwa hampir pasti Christie akan menjadi cacat. Paling banter, ia hanya bisa duduk.

    Saat itu umur Christie belum genap 40 tahun.

    Reaksi pertamanya saat mendengar vonis dokter asal India itu hanya satu kata: menolak! Meski kondisi otaknya sedang kritis, Christie masih bisa berpikir bahwa ia tidak boleh cacat. Tidak mungkin ia hanya berbaring sampai mati. Bagaimana nasib Dennis dan Michelle, anak-anaknya? Siapa yang akan membiayai sekolah mereka? Bagaimana nanti masa depan mereka? Tidak mungkin, kan, mengandalkan kedua orangtuanya, yang juga telah tua? Satu jam penuh, Christie merasa amat terpuruk.

    Lalu ia bisa tersenyum. Dan para dokter heran. Mereka bergumam, “Kamu pasien paling parah, kok, masih bisa tertawa? Yang lain menangis saja kerjanya.”

    Andai bisa menjelaskan, saat itu juga ia akan bilang bahwa ia tidak boleh berhenti bekerja dan menjadi orang cacat tanpa guna. Nasib anak-anak ada di tangannya. “Aku merasa mendapat bisikan dari Tuhan, bahwa aku bisa. Ya, aku bisa,” kenang Christie.

    Seminggu setelah pulang dari Amerika Serikat, artinya tiga minggu setelah ia terserang stroke, Christie sudah bisa berjalan. Dokter Gandhi kaget bukan kepalang. Tak hanya itu, Christie juga mulai belajar berbicara. Di Amerika Serikat ia diajari kata-kata sederhana seperti “cat”, “dog”, “book”. Ia pun harus mempelajari lagi keterampilan dasar seperti menggunakan sendok-garpu. Otaknya seperti di-reset.

    “Aku juga belajar memakai pakaian sendiri. Kalau kemeja aku bisa karena ada kancing. Tapi kaus, susah,” kata Christie. “Aku dulu juga tidak berani ketemu orang baru, seperti ini. Aku minder karena aku cacat.” 

    Bahkan sampai hari ini, bicara panjang juga bukan perkara mudah bagi Christie. Kata-kata bisa hilang begitu saja dari kepalanya. Kadang ia bicara terpatah-patah, kesulitan merangkai kalimat. Padahal, saat masih sehat dulu ia sempat mengajar program Arsitektur di Universitas Tarumanegara. Diakuinya, untuk bisa mengungkapkan pikiran, ia harus berpikir sangat keras. Ia jadi mudah lelah.

    Agung Podomoro mempertahankan Christie sebagai karyawan. Tapi, ia tak boleh lagi pegang proyek langsung karena perusahaan cemas kondisi fisiknya tak memungkinkan. Christie stres. Sebelumnya, ia tak pernah ada di balik meja selama lebih dari satu jam. Suatu kali, ia nekat turun ke bedeng. Waktu itu pusat perbelanjaan Central Park belum jadi.

    Kawan baik Christie, wartawan harian Kompas Josephus Primus, menghampirinya ke bedeng. Mereka mengobrol. Primus lalu menawari Christie untuk membuka akun di blog warga Kompasiana.

    “Aduh, nanti aku nulis apa dong?” Ia sempat ragu.
    “Ya, apa saja. Pengalamanmu juga boleh,” dorong Primus.
    “Tapi aku nggak bisa nulis.”
    “Cobalah. Nanti pasti banyak teman baru.”

    Dua belas November 2010, Christie membuka akun di Kompasiana. Sebenarnya ia belum yakin harus menulis apa. Akhirnya ia memutuskan mulai dari dirinya sendiri: siapa dia dan apa yang menimpanya. Tiga hari penuh ia mengetik sebelah tangan di komputer, dan empat hari selanjutnya ia habiskan untuk menimbang-nimbang apakah tulisan itu akan ia unggah. Rasa tidak percaya diri masih menghinggapi Christie. Siapa, sih, yang mau membaca tulisan orang cacat?, pikirnya.

    Christie juga sempat ragu apakah dirinya boleh menulis, kegiatan yang jelas membutuhkan berpikir keras dan menguras emosi. Bukan apa-apa, tiap kali terapi dokter selalu berpesan agar Christie menjaga perasaan; tidak boleh terlalu sedih atau terlalu senang. Di luar dugaan, dokter justru mendorong Christie menulis karena itu terapi.

    Dan benarlah. Posting pertama Christie disambut hangat dengan komentar-komentar positif dan bernada merangkul. Kotak surat Christie dibanjiri dengan salam perkenalan. Seorang bapak di Jakarta yang menderita stroke seperti dirinya, mengaku seperti ditampar setelah membaca posting pertama itu. Selama ini, si bapak murung, menyesali nasib, dan bersikap kasar pada keluarga karena frustrasi akan keadaannya. 

    Christie merasa dadanya akan pecah oleh rasa bahagia. Ia tak pernah menyangka, menulis sanggup membuatnya membuka diri pada dunia luar. Tak sedikit pun ia menduga, di luar sana banyak orang bernasib sama seperti dirinya, dan dengan menulis ia seperti berbagi kehidupan dengan mereka. Untuk pertama kalinya, Christie tak merasa malu dengan kondisinya.

    “Menulis membuat saya sadar bahwa saya memang cacat. Lalu kenapa? Saya tetap ingin berguna sebagai manusia,” papar dia. “Kenyataan menjadi jelas setelah dituliskan karena tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.” 

    Christie pun kecanduan. Ia menulis seperti kesetanan. Tiap kali macet, ia mengetik dengan satu jari di BlackBerry. Setelah jadi, ia cari gambar pendukung, lalu ia unggah. Senin-Jumat, ia menulis 3-4 artikel per hari. Akhir pekan ia libur menulis, menikmati waktu bersama keluarga.

    Selain tentang penyakitnya, ia juga menulis tentang hobi filateli yang telah ia geluti sejak kecil. Posting Christie sering menjadi headline. Jumlah pesan di kotak suratnya terus bertambah, salah satunya dari sesama Kompasianer yang bekerja di PT Pos Indonesia, Ahmad Aljohan. Ia menawari Christie pameran perangko di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sekaligus memberi seminar menulis untuk guru-guru SMP se-Jakarta.

    Christie terperangah. Buru-buru ia membalas email. “Bapak tahu, kan, saya cacat? Jalan susah, bicara apa lagi.”
    Aljohan menjawab, “Mbak Christie pasti bisa.”

    Christie lalu mengundang Aljohan datang ke rumahnya di Tebet, Jakarta Selatan, untuk melihat langsung kondisinya (juga koleksi perangkonya). Ia cemas Aljohan tak tahu apa yang ia bicarakan. Tapi, Aljohan tak berubah sikap. Walhasil, Maret 2011, untuk pertama kalinya Christie tampil di depan umum memberi seminar dalam kondisi pascastroke.

    Ditemani kedua orangtuanya, Christie datang pakai kursi roda. Ia duduk di barisan depan, merasa gugup luar biasa. Ketika namanya dipanggil, Christie maju sambil menunduk. Di depan 300 orang audiens, ia bicara tentang menulis. Pelan tapi pasti, ia mulai percaya diri. Sejak itu, Christie laris diundang ke berbagai seminar tentang bertahan hidup dari penyakit stroke, kanker (yang juga pernah ia derita), dan menulis. Belakangan ia juga aktif dalam komunitas Internet Sehat.

    “Audiens tidak melihatku dengan rasa kasihan karena aku cacat,” kata Christie. “Mereka sungguh-sungguh mendengarkan. Sampai sekarang rasanya sulit percaya semua ini terjadi karena aku memberanikan diri menulis di Kompasiana.”

    ***

    Saya menemui Editor-in-Chief Kompasiana, Pepih Nugraha, di kantornya di Gedung Kompas, Palmerah Barat, lantai 6. Ketika saya menyebut nama Christie Damayanti, Pepih langsung mengenali. “Christie itu salah satu Kompasianer paling aktif. Saya ikut senang bahwa menulis membantu kesembuhannya,” kata Pepih.

    Kompasiana awalnya didirikan sebagai blog jurnalis Kompas. Ide ini muncul setelah Pepih membaca buku “We the Media” (2004) karya Dan Gillmor. “My readers know more than I do,” kata Gillmor. Dari situ Pepih berpikir untuk membuatkan semacam blog tempat wartawan Kompas bisa menuliskan apa yang tak tertampung di harian, lalu berinteraksi dengan para pembaca. Siapa tahu, para pembaca memiliki informasi atau gagasan yang justru akan memperkaya tulisan wartawan.

    Pada 1 September 2008, Kompasiana mengudara. Awalnya, para wartawan Kompas cukup rajin mengunggah posting. Lama kelamaan, karena kesibukan, arus posting berkurang. Belum lagi ada beberapa wartawan yang ngambek karena dikritik oleh pembaca. Jalan sebulan, Pepih menyadari satu hal: isi Kompasiana kebanyakan posting dia belaka.

    Di kantor, Pepih dipanggil dengan sebutan baru: Pepihsiana. Ia cemas bayi yang baru lahir ini langsung mati. Karena itu, ketika ada ide membuka Kompasiana untuk publik, Pepih langsung menyambut gembira. Dan sesungguhnya, ide serupa sudah terpikir di kepalanya. Ketika posting sedang sepi-sepinya, Pepih membuat rubrik “Gelar Komentar”. Isinya kumpulan komentar dari pembaca. Beberapa komentar tersebut ditulis dengan rapih, serupa posting tersendiri.

    “Tapi, saya kan, bekerja di organisasi yang namanya Kompas. Segala sesuatu harus dibicarakan, nggak bisa mau-mau saya sendiri,” papar Pepih. “Dan memang lalu dikaji. Terutama, nama besar Kompas. Ada kecemasan nanti kalau (Kompasiana-red) dibuka untuk publik, orang jadi berbalik memukul kita. Sejak awal saya sadari itu. Saya bilang, pasti. Itu risiko media sosial.”

    Dua puluh dua Oktober 2008 menjadi tanggal bersejarah bagi Kompasiana, sebab pada hari itulah ia resmi menjadi media warga. Postingan mengalir seperti air. Sampai artikel ini ditulis, lebih kurang ada 1.000 artikel masuk per hari dari 170.000 anggota, atau yang lazim disebut Kompasianer. Larisnya Kompasiana mungkin karena platform yang cukup jelas dan sederhana: menulis.

    Ada tiga kategori di Kompasiana, yaitu Laporan, Opini, dan Fiksi. Pembagian ini berdasarkan benchmarking Pepih pada Panyingkul, blog jurnalisme warga lokal Makassar bikinan mantan wartawan Kompas, Lily Yulianti Farid dan OhmyNews dari Korea Selatan yang dicetuskan Oh Yeong-ho. Kedua blog tersebut terseok-seok (Panyingkul justru sudah tamat) karena “memaksa” warga menjadi pewarta. Warga dididik menjadi wartawan profesional dengan segala kode etik dan kode perilaku profesi tersebut.

    Nah, di Kompasiana, Pepih ingin mengakomodir keinginan warga untuk sekadar berekspresi. Terbukti, kategori paling laku adalah Fiksi, Opini, baru kemudian Laporan alias jurnalisme warga. Kategori terakhir ini cukup sering menjadi headline. Semua posting tidak diedit, kecuali yang masuk headline, itu pun biasanya hanya koreksi ejaan dan besar-kecil huruf. Kompasianer yang ingin akunnya terverifikasi wajib mengirimkan scan data diri berupa KTP atau paspor. Kalau ada apa-apa, admin punya basis data. Seperti saat heboh postingan Jilbab Hitam tentang praktik suap majalah Tempo, misalnya, admin jadi punya hak untuk menghapus artikel tersebut karena empunya akun tak memenuhi panggilan verifikasi.

    Kompasiana telah, dan akan selalu, dibuka untuk umum. Pepih percaya, hanya platform menulis yang akan membuat Kompasiana berumur panjang. Arus informasi mengalir deras tak terbendung seperti keran bocor, dan orang jadi lebih kritis mengemukakan pendapat. Orang juga tak takut lagi berbagi pandangan dan pengalaman karena interaksi via internet tak lagi dipandang asing.

    “Pada pokoknya, menulis bukan lagi monopoli wartawan,” tegas Pepih. “Grassroots juga menulis. Mereka punya pandangan, pengalaman, dan khayalan sendiri.”

    ***

    fX Plaza, Jakarta Selatan, lantai tujuh, 10 Desember 2011. Hari itu sedang diadakan festival Kompasianival yang pertama. Christie Damayanti datang dan bertemu teman-teman baru. Mendekati pukul 18.00, ia ingin pulang. Christie mencari-cari Pepih Nugraha untuk berpamitan.

    “Mas, aku pulang, ya.”
    “Ngapain pulang sekarang? Nanti saja, kukasih hadiah.”
    “Hadiah apa?”
    “Ada, deh, yang pasti buat anak-anakmu senang.”
    “Kapan?”
    “Ya, kira-kira dua jam lagi.”

    Menangkap nada setengah membujuk pada kalimat Pepih, Christie memutuskan untuk tinggal. Ia penasaran hadiah apa kira-kira yang dijanjikan Pepih. Kebetulan, teman-teman dari luar kota masih berdatangan. Sibuk kopi darat, Christie sejenak lupa pada hadiahnya.

    Maka, ketika namanya dipanggil sebagai Kompasianer of the Year (KotY) 2011, Christie terperanjat. Ia sama sekali tak menduga. Pasalnya, nama Christie sama sekali tak masuk dalam voting KotY. Sahabatnya Valentino, sesama Kompasianer, sampai membuat posting berseri yang isinya protes; kenapa Christie sampai tak masuk nominasi, padahal postingan Christie paling banyak dan sering diganjar headline.

    Christie dituntun maju ke depan. Ia menerima plakat dan hadiahnya dengan tangan gemetar. Momen ini menjadi semacam puncak dari keputusannya menulis di Kompasiana. Dari seorang penderita stroke yang berhasil bertahan hidup, Christie sekarang mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang. Ia bahkan sudah menulis tiga buku, yang terakhir berjudul Ketika Tuhan Masih Memberi Aku Hidup (2013).

    Menulis membuat Christie menemukan harapan. Saat ini, apapun yang mendatangkan inspirasi langsung ia tulis. Ia tak lagi kuatir apakah tulisannya akan dibaca atau tidak. Tiap kali memberikan seminar tentang menulis, Christie tidak pernah menganjurkan agar audiens membuat semacam outline terlebih dahulu. Ia sendiri hanya menulis apa yang terlintas di pikirannya. Dan, cara ini ternyata efektif untuk membantunya menyalurkan emosi, yang pada gilirannya sangat membantu proses pemulihannya.

    Tulisan demi tulisan telah membawa Christie bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi, dan bertemu orang-orang baru. Ia pun tak lagi berdoa memohon kesembuhan, melainkan yang terbaik sesuai keinginan Tuhan. Christie sempat merasa, jangan-jangan kondisi semacam ini memang dimaksudkan agar ia banyak memberi inspirasi untuk orang-orang yang menderita penyakit serupa. Ia akan menjalankan tugas tersebut dengan hati gembira.

    “Dan saya tidak akan lupa, bahwa saya besar di Kompasiana,” tutupnya, tersenyum. Saya mengulurkan lengan, hendak membantunya kembali ke lantai 43. Dalam hati saya berjanji, akan terus menulis sampai mati. ***
    READMORE
  • Berbagi itu Menyenangkan


    PanaJournal - Ilmu seharusnya tidak jadi komoditas yang hanya dapat diperoleh dengan merogoh kantung dalam-dalam. Akademi Berbagi berbagi pengetahuan bermodalkan kerelaan.

    SALATIGA, awal Maret. Awan hitam tampak menyelimuti Pondok Remaja Salib Putih. Siang itu, langit yang semula cerah berubah gelap. Tidak berapa lama, hujan turun, tak deras tapi merata. Jalan bebatuan menuju lobi penginapan jadi licin.

    Di penginapan inilah diadakan local leaders days (LLD) jilid dua. LLD adalah kegiatan dua tahunan hasil prakarsa Akademi Berbagi (Akber). Dari 7 – 9 Maret, 200 (volunteer) Akber se-Indonesia akan bertemu sekaligus mendapat pelatihan.

    Akber adalah gerakan sosial yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat, berupa pembentukan kelas-kelas yang dihadiri para praktisi sebagai pembicaranya. Di sela-sela berlangsungnya LLD, saya berbincang dengan Ainun Niswati Chomsun, Yhanuar Ismail Purbokusumo, dan Karmin Winarta, para pendiri Akber.

    *** 

    Tren Twitter menghadirkan fenomena baru di Indonesia, yaitu “selebtwit”. Istilah ini merujuk pada para pengguna Twtter dengan jumlah followers berjibun. Biasanya, para selebtwit memiliki konten jagoan yang mampu memancing minat para pengikut. Mereka datang dari berbagai profesi, dari mulai penulis, copy writer sampai dokter.

    Salah satu jurus yang kerap digunakan selebtwit untuk menarik animo pengikut mereka adalah kuliah singkat yang biasa disebut “kultwit”, alias kuliah Twitter. Bahasan yang biasanya diurutkan dengan nomor seri ini dipastikan akan mendapatkan perhatian dari jamaah Twitter, apalagi jika temanya menarik dan aktual.

    Nah, salah satu selebtwit yang rajin memberikan kuliah singkat ini adalah Subiakto Priosoedarsono, chief executive officer (CEO) Hotline Agency. Ia praktisi senior di bidang periklanan.

    Suatu kali, Subiakto kultwit tentang copywriting. Ainun, salah satu follower, sangat tertarik pada tema tersebut. Didorong keinginan yang besar untuk belajar, ia memberanikan diri menyapa Subiakto. Upaya ini tak bertepuk sebelah tangan.

    “Pak, saya ingin belajar copywriting,” kata Ainun.

    “Saya mau mengajari, asal kamu kumpulkan 10 orang. Nanti kelasnya di kantor saya,” jawab Subiakto.

    Ainun langsung bungah. Segera ia memperbarui linimasa Twitter-nya dengan kalimat,”Siapa yang mau belajar copywriting dengan Subiakto, silakan daftar ke saya.”

    Dalam waktu singkat, Ainun kebanjiran peminat. Saking banyaknya pendaftar, ia terpaksa membatasi kelas sampai 25 orang saja. Pada 27 Juni 2010, kelas tersebut resmi dibuka. Sebanyak 25 “murid” dari berbagai kalangan, datang ke kantor Hotline Agency di Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan.

    Usai kelas, Subiakto ternyata ketagihan mengajar. Ia menawarkan kelas lanjutan pada minggu berikutnya. Tanpa pikir panjang, Ainun dan peserta lain mengiyakan tawaran tersebut. Namun, setelah beberapa kelas digelar, Ainun yang mengelola komunitas tanpa nama tersebut seorang diri, merasa kesulitan.

    Kepada sesama peserta ia bertanya, “Siapa mau membantu saya mengurus komunitas ini?”

    Ajakannya bersambut. Yhanuar Ismail Purbokusumo, copy writer muda dari sebuah perusahaan periklanan di Jakarta, bersedia membantu. Juga Karmin Winarta, social media strategist media digital. Terakhir, Ibnu Rusdhi, seorang account executive, juga ikut bergabung.

    Usai perekrutan para pengurus, komunitas tanpa nama ini terus menjalankan kelas bersama Subiakto. Pada suatu titik, mereka ingin juga belajar hal lain. Subiakto pun mereferensikan rekannya sesama praktisi periklanan, Budiman Hakim. Setelah kelas dengan Budiman berakhir inilah, muncul keinginan untuk membangun komunitas secara lebih serius. “Akademi Berbagi” pun dipilih sebagai nama.

    “Sebab ada kelas, guru dan ada murid. “Akademi” jadi gambaran yang pas untuk komunitas ini. “Berbagi” karena dalam kelas, kan, para guru membagikan materi dan ilmunya,” papar Ainun.

    Tugas mulai dibagi rata. Ada yang menjabat sebagai Kepala Sekolah, mengurus perkara guru dan tempat, dan menggawangi akun-akun di sosial media. Pada tahun-tahun awal, Ainun dan kawan-kawan mulai menghadapi berbagai kendala. Para murid sering tak datang meski sudah dijadwalkan. Mereka juga kesulitan mencari guru dan mendapat tempat.

    “Dulu banyak praktisi yang janji mau jadi guru,” cerita Yhanuar. “Tapi, pas kita kejar, mereka bilang masih sibuk. Rupanya sekadar ngomong.”

    Karmin, anggota yang sempat didapuk menjadi Kepala Sekolah pertama Akber, juga sempat merasa kesulitan meyakinkan para praktisi untuk mau mengajar di Akber. Ia harus bolak-balik menjelaskan tentang Akber, konsep yang mungkin masih asing di telinga beberapa praktisi. “Tetapi intinya, semua lancar,” kata Karmin.

    Perlahan tapi pasti, reputasi Akber sebagai medium pembelajaran gratis makin berkibar. Ilmu yang dibagikan kian beragam, mulai dari travel blogging, penggunaan dasar Teknologi Informasi, perencanaan keuangan, sampai belajar bahasa isyarat. Kini, Akber sudah memiliki cabang di 39 kota di Indonesia, 70 guru, dan lebih dari 200 relawan.

    Memasuki tahun keempat, Akber menghadapi tantangan lain, yakni persoalan komitmen. Hal ini sebenarnya sudah disadari Ainun sebab, berbeda dengan kerja biasa, kegiatan volunteering seperti yang dilakukan Akber hampir tidak ada rewards-nya.

    Psikolog sekaligus konsultan Sumber Daya Manusia, Eileen Rachman, menekankan bahwa konsistensi memang menjadi kunci aktivitas forum belajar dan volunteerism berbasis komunitas, termasuk dalam memilih cakupan hal yang akan dibagi. Menurut Eileen, jauh lebih baik jika suatu komunitas memiliki platform yang spesifik pada satu bidang sehingga pengetahuan para anggota lebih mendalam.

    “Hidup itu seperti membaca majalah,” kata Direktur Executive Performance Development (EXPERD) ini. “Kita bisa tahu sedikit-sedikit tentang aneka ragam topik. Tapi, semakin specialized isi majalahnya, semakin mendalam juga pengetahuan kita tentang hal tersebut.”

    Eileen juga menyoroti soal sistem manajemen dan sumber dana. Dalam organisasi apapun, dua hal ini penting untuk menjaga agar SDM tak mudah rontok. “Yang kita inginkan, inisiatif semacam ini umurnya tak cuma sesaat, tapi berkelanjutan,” tutup dia. (***)
    READMORE
  • Lebih Baik Jadi Orang Goblok Daripada Pengkhianat


    PanaJournal - Pak “Maknyus” ini siap bertarung merebut kursi di DPR dan meningkatkan gizi masyarakat, serta membela Prabowo Subianto.

    READMORE
  • Kepercayaan Diri Desa Pogog


    PanaJournal - Berkat tangan dingin seorang pebisnis, sebuah desa kecil yang jarang dilirik pemerintah kini menjelma pusat agrobisnis. Ia mengandalkan swakarya masyarakat berbasis wirausaha sosial.

    POGOG adalah tipikal desa kebanyakan di Jawa Tengah: didominasi petani dan pekebun, masyarakatnya berpenghasilan relatif rendah, tanpa prospek pasar, dan sederhana di banyak sisi kehidupan. Terletak di lereng Gunung Lawu, Desa Pogog masuk wilayah administratif Kelurahan Tengger, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri.

    Adalah pebisnis bernama Jumali Wahyono Perwito alias Jiwo, yang kelak akan mengubah kondisi desa. Alkisah, pada 2007, Jiwo mengalami masa sulit. Persaingan usaha di bidang permebelan dan olah kayu tidak berjalan begitu baik hingga ia nyaris bangkrut. Krisis keuangan global yang melanda Amerika dan Eropa saat itu juga berdampak pada pasar hasil hutan dalam negeri.

    Pria kelahiran Surakarta 47 tahun silam itu kemudian memutuskan untuk kembali ke Desa Pogog, lokasi yang dulu menjadi posko kegiatan Kuliah Kerja Nyata semasa ia kuliah. Ia butuh penyegaran agar dapat keluar dari keruwetan yang menimpa. Keputusan itu membawa hasil karena ternyata di “tempat KKN” itulah Jiwo mendapatkan pencerahan. Kelak ia bahkan lebih terkenal sebagai Mas “Jiwo Pogog” ketimbang nama aslinya.

    Pada awalnya, Jiwo Pogog disambut bak keluarga di desa itu. Namun, ia justru merasakan keprihatinan baru karena ternyata kehidupan warga desa masih begitu-begitu saja. Mereka mengeluh, hasil kebun tidak begitu baik karena harus bersaing dengan banyak barang impor di pasar.

    Pepaya dan durian yang jadi komoditas andalan Desa Pogog kini tak lagi “manis” di pasar-pasar yang memang alur jual-belinya masih menggunakan cara tradisional—kalah nama dengan durian-pepaya dari Thailand dan benua Amerika. Kegusaran ini melahirkan ilham bagi Jiwo Pogog. Ia merasa wajib memberdayakan masyarakat lewat apa yang dulu pernah dipelajarinya.

    Pertengahan tahun, ia mulai menggerakkan kembali perkebunan di Desa Pogog, dengan tetap mengandalkan warga desa sebagai produsen dan pemasar utamanya. Dalam kondisi awal yang serbasulit, Jiwo Pogog mempertaruhkan modal bisnisnya sendiri untuk mendanai proyek pilot dengan sistem produksi dan pemasaran baru. Ia pun memperkenalkan istilah-istilah swakarya yang menggelitik, seperti “pepayanisasi” dan “durianisasi”. Syukurlah, usaha ini membuahkan hasil.

    Sejak diinisiasi hingga saat ini, kegiatan usaha bersama perkebunan yang dimotori Jiwo Pogog sudah berhasil melewati empat panen raya. Pepaya dan durian menjadi komoditas pelopor untuk jenis komoditas unggul lain, yang kini juga mulai dikembangkan. Sedikitnya 325 pohon pepaya telah berhasil ditanam, membuahkan penghasilan bersama sebesar Rp6 juta setiap panen.

     Untuk menguatkan pasar komoditas, digunakan sistem “pemasaran satu pintu”. Artinya, poros penjualan pepaya dan durian dipusatkan di satu pasar atau koordinator agar tidak terjadi perbedaan harga dan spekulasi oleh sesama pedagang. Diperkirakan, awal atau pertengahan 2014 mendatang, warga Desa Pogog akan mulai memanen durian montong dengan penghasilan yang tentunya jauh lebih menjanjikan.

    Kebersamaan warga dengan swakarya perkebunan ini memberikan pengaruh baik bagi prinsip kerja sosial ala desa yang mandiri. Di samping keuntungan ekonomi, warga desa Pogog kini merasakan hal lain yang memakmurkan: diversifikasi profesi. Menurut Jiwo Pogog, selain berkebun, warga desa juga banyak yang telah ‘banting setir’ menjadi pengepul, membangun efek berkelanjutan bisnisnya sendiri.

    Meski demikian, upaya Jiwo Pogog bukan tanpa hambatan. Menurut catatan, terdapat 20 pohon pepaya yang tidak berhasil berbuah. Dari jumlah 51 petani yang ikut program tahun pertama, baru delapan di antara mereka sudah berhasil membangun keuntungannya sendiri.

    Enam juta rupiah dari panen pepaya pun diakui masih jauh dari harapan. Kendala alam saat ini juga masih menjadi soal yang perlu ditangani. Pasalnya, desa Pogog berada di atas ketinggian dengan kondisi tanah yang kering, sehingga sumber air untuk pengairan pertanian sangat terbatas.

    Diakui Jiwo Pogog, yang paling sulit memang adalah mengubah pola pikir (mindset) warga desa untuk mengandalkan kehidupannya dari buah pepaya dan durian. Mereka telanjur percaya pada tanaman tradisi lama, seperti singkong. Tapi, ia enggan menyerah.

    “Pemberdayaan membangun desa berdikari ini ibarat roket yang terlanjur meluncur,” papar Jiwo Pogog. “Tujuannya harus lebih tinggi dan ke sasaran yang lebih tepat.”

    Dengan rendah hati, Jiwo Pogog mengaku tak punya banyak cita-cita. Ia hanya ingin kepercayaan diri warga desa Pogog semakin baik sehingga mereka bisa hidup dan makmur dengan perkebunan di tanah sendiri.

    Untuk itu, Jiwo Pogog kini aktif ‘menyekolahkan’ para petani warga desa ke sentra-sentra budidaya pepaya. Pada banyak kesempatan, warga desa justru kedatangan pakar pepaya dari kalangan kampus, pedagang bahkan organisasi nonpemerintah yang membantu mereka. Selain “pepayanisasi” dan “durianisasi”, ia juga memperkenalkan “perpustakaanisasi” untuk anak-anak dan remaja, juga “paralonisasi” untuk membangun sistem pengairan.

    “Dulu mereka (warga desa-Red) malu kalau ditanya dari mana. Sekarang, mereka dengan bangga bisa mengaku sebagai orang Desa Pogog,” ujar dia, bersemangat. Desa Pogog dulu tak menjanjikan kehidupan yang layak karena dianggap termasuk daerah tertinggal. Kini, penilaian itu pudar dengan sendirinya, berganti rasa optimisme dan percaya diri tentang masa depan kemakmuran warga yang berkelanjutan. (***)
    READMORE
  • Ingin Jadi Presiden Jika Tidak Bangkrut


    PanaJournal - Terlilit utang dan bangkrut. Itu mimpi buruk bagi setiap pengusaha. Tapi, sang pelopor bisnis bimbingan belajar ini memperlakukannya bak sahabat.

    BERDIRI di atas lahan yang luasnya hampir tiga kali lapangan basket, rumah Purdi E. Chandra (54) terlihat asri dengan berbagai tanaman dan pepohonan. Lokasinya dikenal luas sebagai kawasan hunian favorit ekspatriat di Jakarta Selatan. Sore itu, Purdi, sang pendiri dan pemilik bimbingan belajar Primagama–setidaknya sampai tulisan ini dirilis—menyambut saya dengan ramah.

    Kami lantas menuju ke bagian belakang, dan duduk di dekat kolam renang. “Kalau menurut ilmu feng shui, letak kolam renang ini salah. Posisinya menjorok ke bawah. Sejak saya tinggal di sini banyak masalah yang datang,” ujarnya sambil tersenyum kecut.

    Mantan anggota MPR utusan DIY Yogyakarta ini memang tengah dirundung kesulitan. Dia terbelit utang lebih dari Rp40 miliar. Sejak Juni 2013, majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat bahkan menjatuhkan vonis bangkrut terhadap dirinya. Terpaksalah ia melepaskan berbagai hartanya dikuasai oleh kurator kepailitan, untuk dilego ke pihak lain agar utangnya terlunasi.

    Termasuk dalam harta Purdi adalah sejumlah properti, merek Primagama dan sahamnya di PT Primagama Bimbingan Belajar, bisnis yang telah ia rintis bersama para rekan selama lebih dari 30 tahun. Primagama sendiri merupakan pelopor dan salah satu bimbingan belajar terbesar di Indonesia. Berikut nukilan wawancara saya dengan Purdi:

    Q: Mengapa Anda bisa bangkrut? 

    A: Mungkin, saya bukan termasuk orang yang bisa mengatur uang, secara pribadi, ya. Apalagi, ada beberapa bisnis saya di luar Primagama yang seret. Jadi, arus kas pribadi saya terganggu. Primagama, sih, berjalan dengan baik. Tapi, tidak mungkin saya semaunya mengambil duit perusahaan.

    Q: Banyak yang beranggapan bahwa kepailitan menjadi strategi pengusaha untuk mangkir dari kewajiban membayar utang. 

    A: Bukan saya yang mempailitkan diri. Saya tidak mengajukan (kepailitan-Red). Untuk kasus ini, saya yang dipailitkan. Ini saya terima sebagai ujian—ujian sebagai pengusaha. Saya tidak melarikan diri dari kewajiban apapun. Banyak pengusaha yang mengalami kesulitan finansial. Ini hal biasa, kok. Tahun 2008 lalu, Ical (Aburizal Bakrie-Red) dan Grup Bakrie sempat menjadi yang termiskin.

    Coba perhatikan, siapa yang punya utang sampai puluhan triliun? Tapi, karena dia punya jiwa entreprenurship, Ical bisa bertahan. Robert Kiyosaki (Pebisnis dan pengarang buku populer Rich Dad Poor Dad-Red) pun bernasib sama dengan saya. Dia juga baru dinyatakan pailit. Jadi, saya anggap bahwa posisi saya sekarang itu sedang mundur, sambil mengambil ancang-ancang untuk lompat lebih tinggi lagi.

    Q: Di YouTube, banyak video tentang Anda ketika sedang memberikan materi di semacam seminar dan pelatihan kewirausahaan. Beberapa buku yang Anda tulis seperti Menjadi Entrepreneur Sukses dan Cara Gila Jadi Pengusaha, bahkan laku keras dan dicetak hingga belasan kali. Anda juga termasuk motivator?

    A:  Saya bukan motivator. Apa yang saya lakukan hanyalah memberikan inspirasi kepada orang-orang mengenai bisnis dan kewirausahaan. Jadi, saya itu inspirator.

    Q: Dengan kondisi seperti sekarang ini, Anda yakin ada yang mau membeli Primagama?

    A: Kenapa tidak? Yang pailit itu adalah saya sebagai pribadi, bukan Primagama. Sampai sekarang, Primagama tetap berjalan dengan baik. Sebagai pelopor bimbingan belajar, Primagama telah hadir di 33 provinsi di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Hingga kini, ada 500 lebih gerai Primagama, termasuk di tempat terpencil seperti di Kepulauan Natuna. Bisa dibilang, Primagama itu adalah “Dinas Pendidikan versi swasta”. Karena, Primagama bertujuan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Kami pernah mengurusi persiapan ujian nasional di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Selama tiga tahun berturut-turut, tingkat kelulusannya menembus 90%. Bahkan, direksi saya sampai mendapat “oleh-oleh” sepulang dari sana. Dia digigit nyamuk malaria.

    Q: Menurut Anda, siapa yang cocok menjadi pemilik baru Primagama?

    A: Ini bukan semata-mata bisnis, atau jual-beli biasa. Primagama adalah aset nasional, karena ini berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional. Dengan jaringan yang luas hingga ke pelosok nusantara, saya rasa yang cocok membeli Primagama adalah calon presiden Indonesia. Coba, deh, partai politik apa yang jaringannya tersebar lengkap di seluruh Indonesia? Belum tentu ada. Kalau tidak bangkrut, tadinya saya mau jadi calon presiden, ha-ha-ha-ha...

    Q: Apa bedanya bisnis bimbingan belajar dengan sektor usaha lainnya?

    A: Kelebihan bisnis ini adalah pembayaran selalu dilakukan di muka. Siswa-siswi kami itu membayar biaya les selama satu tahun ajaran pada awal pendaftaran. Coba pikir, apa ada restoran yang meminta pelanggannya membayar di muka untuk kunjungan makan selama satu tahun ke depan? Tapi sekali lagi, ini bukan hanya bisnis. Ada misi sebagai pendidik.

    Sekarang, tren bimbingan belajar sudah berubah. Kini (bimbingan belajar–Red) bukan lagi hanya sebagai kebutuhan (supaya lulus ujian nasional atau seleksi masuk perguruan tinggi negeri–Red). Para orang tua siswa berpikir bahwa anak-anaknya dapat mengisi waktu luang dengan mengikuti bimbingan belajar. Itu dilakukan untuk menghindari hal-hal negatif, seperti tawuran, balap liar, dan lain-lain.

    Jadi, bimbingan belajar pun menjadi semacam lifestyle. Lho, bisa saja gerai-gerai Primagama kelak dilengkapi tempat nongkrong, kafe atau sejenisnya, seperti 7-Eleven itu. Jadi, sekalian rekreasi. Sebetulnya, Primagama menawarkan layanan bimbingan belajar dengan tiga aspek: remedial, yakni memperbaiki proses belajar siswa yang kurang memahami materi belajar di sekolah; enrichment, ini proses pengayaan bagi para siswa yang pemahamannya sudah cukup baik; serta consulting, untuk bertukar pikiran dengan para siswa mengenai tujuan dan minat belajarnya, baik secara akademik maupun psikologis.

    Q: Berapa omzet Primagama per gerai?

    A: Itu tergantung dari banyak hal seperti lokasi, jumlah siswa, dan lain sebagainya. Tapi, omzet per gerai berkisar dari Rp400 juta sampai Rp2 miliar per tahun. Hampir seluruh gerai Primagama ini dikelola berdasarkan sistem franchise. Tapi, kebanyakan pemegang franchise Primagama di banyak daerah adalah mantan karyawan saya. Karena, saya ingin mencetak pengusaha-pengusaha baru yang membuka lapangan kerja baru. Banyak dari mereka yang kini menjadi pengusaha, dan bisnisnya pun bukan hanya Primagama, tapi sudah merambah ke sektor usaha lainnya.

    Q: Seberapa penting entrepreneurship buat Anda?

    A: Saya dulu sempat terdaftar di empat jurusan kuliah: Teknik Elektro dan Psikologi di Universitas Gadjah Mada, serta Sastra Inggris dan Ilmu Matematika di Universitas Negeri Yogyakarta. Alhamdulillah, saya tidak ada yang lulus dari satu pun kuliah tersebut, ha-ha-ha.. Saya waktu itu tidak begitu merasa mantap dengan sistem kuliah di Indonesia. Kesannya kok hanya satu arah: duduk di bangku kuliah, mencatat materi kuliah, lalu mengikuti ujian.

    Untuk itu, saya merintis sebuah bimbingan belajar pada tahun 1982. Di situlah jiwa entrepreneurship saya mulai tumbuh. Modal usaha saya pinjam ke teman sebesar Rp300.000. Saya menyewa tempat untuk ruangan kelas. Bahkan, saya harus menyewa kursi. Jadi kalau ada siswa, saya pakai. Kalau mereka sudah pulang, saya kembalikan. Banyak juga orang tua siswa yang bertanya waktu itu ketika mereka melihat ruangan kelas yang kosong tanpa bangku. Saya bilang saja bahwa kursinya sedang diservis.

    Q: Yang saya tahu, Primagama mulai dikenal orang ketika memberikan jaminan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN).

    A: Iya, betul. Jadi, siswa hanya membayar biaya les jika diterima di perguruan tinggi negeri. Kalau tidak lulus, ya, tidak perlu membayar. Gampang, kok. Waktu itu saya sendiri yang menyeleksi calon siswa Primagama. Saya buat tes masuk. Tentu saja, saya hanya menerima siswa-siswa yang pintar. Ya, kalau yang pintar-pintar tentunya pasti masuk PTN, bukan? Setelah pengumuman kelulusan, saya taruh iklan ucapan selamat kepada siswa-siswi Primagama tersebut di berbagai koran. Dari situlah, banyak orang yang mengenal Primagama.

    Q: Lalu, berapa pendapatan Anda waktu itu? 

    A: Wah, sesaat setelah pengumuman seleksi masuk PTN dirilis, siswa-siswa saya waktu itu langsung pindah ke luar kota untuk mencari indekos dekat kampus. Saya malah kesulitan mengontak mereka. Akhirnya, tak ada satupun yang membayar biaya les, ha-ha-ha. Ya, tidak masalah. Yang penting, saya sudah mendapat nama dari keberhasilan mereka. Pengusaha itu harus bisa kreatif. (***)
    READMORE
  • Politik Tanpa Aturan


    PanaJournal - Kasar, sengit, vulgar, materialistis, dan agresif. Begitu kisah persaingan politik dalam film ini. Adegannya sungguh mengocok perut. Namun, alur cerita dan dialog-dialognya membuat kita mengernyit.

    Judul Film: The Campaign
    Format: DVD
    Sutradara: Jay Roach
    Pemain: Will Ferrell, Zach Galifianakis, John Lithgow, Dan Aykroyd, Jason Sudeikis, Dylan McDermott

    DI NEGARA BAGIAN North Carolina, Amerika Serikat (AS), politikus kawakan Cam Brady (Will Ferrell) tengah bersiap menghadapi pemilihan anggota Kongres AS. Ia ingin menjabat untuk kali kelima. Cam terlihat pongah karena selama ini belum punya lawan sepadan yang sanggup menggusurnya dari panggung politik. Politisi dari Partai Demokrat itu kerap mengenakan setelan jas necis, memiliki postur tinggi dan tegap, rambut tersisir rapi, serta lihai berpidato.

    Sebetulnya, di balik itu, ada pribadi Cam yang penuh tipu-muslihat dan menghalalkan segala cara agar kursinya di kongres AS tak direbut orang. Ia bermulut bisa. Hampir semua makian cabul terkuak ketika Cam beradu mulut dengan lawan-lawan politiknya. “Saya gila karena saya menolak kalah?!...Saya bakal berbuat apa saja agar menang, meski harus berbohong atau menyakiti fisik seseorang,” sergah Cam suatu kali kepada penasihat politiknya.

    Namun, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya terpeleset juga. Riwayat politiknya hampir tamat ketika skandal seks antara Cam dan penggemarnya terbongkar. Istri dan anak Cam pun segera minggat. Motch bersaudara (Dan Aykroyd dan John Lithgow), pengusaha busuk yang selama ini menjadi beking Cam, juga menarik dukungannya. Mereka ragu Cam bisa mempertahankan kursinya di kongres, dan melanggengkan nepotisme.

    Motch bersaudara lantas berpaling ke Marty Huggins (Zach Galifianakis). Sesungguhnya Marty hanyalah seorang pemandu wisata di Hummond, sebuah kota kecil di North Carolina. Ayah Marty kebetulan kawan karib Motch bersaudara. Sosok Marty berbeda 180 derajat dengan Cam. Kumis tebal tak beraturan dan perut buncitnya membuat Marty kerap terlihat canggung saat berada di tengah kerumunan massa. Tutur kata dan tindak-tanduknya agak lemah-gemulai, tak jantan. Ia sering mengenakan baju hangat tebal dengan kain rajutan. Selain istri dan dua anak lelaki, rumah Marty juga dihuni dua anjing Chinese Pug yang menggemaskan.

    Sadar akan “kekurangan” Marty, Motch bersaudara tak kehabisan akal. Mereka menyewa jasa Tim Wattley (Dylan McDermott), seorang konsultan politik untuk memoles pencitraan Marty menjadi sosok pengusaha lokal yang berhasil, dan tangguh menghadapi perangai Cam, lawan politik yang agresif. Marty pun melaju ke pemilihan kongres AS dari Partai Republik. Perang politik bermula dari sini.

    Banyak yang beranggapan film ini menjadi satire politik yang mengejek habis-habisan perkawinan politik dan bisnis. “Perang punya aturan. Bergulat di lumpur juga punya aturan. (Namun-Red) politik tak punya aturan,” begitu perkataan Ross Perot yang menjadi pembuka The Campaign. Ross Perot dikenal publik AS sebagai pengusaha sukses yang sempat menjadi calon presiden dari jalur independen pada dekade 1990.

    Memang, karakter Motch bersaudara menjadi sindiran paling lantang di film ini. Di dunia nyata, sebenarnya ada Koch bersaudara―pemilik konglomerasi Koch Industries, Inc.―yang aktif berpolitik. Tapi, perseteruan sengit Cam dan Marty sesungguhnya menjadi fokus utama kisah ini. Mengingat sebagian besar adegannya mengundang tawa, The Campaign sesungguhnya lebih condong ke parodi politik.

    Film arahan Sutradara Jay Roach ini sukses meraup omzet besar senilai lebih dari US$ 85 juta di AS. Bandingkan dengan omzet film “serius” Zero Dark Thirty tentang penangkapan Osama bin Laden sebesar US$ 95 juta. Dengan torehan itu, The Campaign pun berada di urutan ke-35 dalam 100 film paling laris di AS selama 2012.

    Meski begitu, Anda jangan terlalu banyak berharap menonton adegan jenaka yang tersusun dengan apik. Kebanyakan lakon di film ini sarat dengan kejadian dan hal-hal tak senonoh: guyonan seksual dan ucapan kotor. Sejumlah film besutan Jay Roach sebelumnya dikenal sebagai film komedi sukses, seperti serial Austin Powers, Meet the Parents, dan Meet the Fockers.

    Sejumlah taktik politik dalam The Campaign juga terasa usang: tuduhan komunis, teroris, serta skandal seks. Tak ada sesuatu yang baru. Dan, susunan kisah terkesan datar, tanpa alur kejutan yang mampu membalikkan situasi.

    Karena vulgarnya adegan-adegan The Campaign, pikir dua kali jika ingin menontonnya bersama anak-anak Anda. Meski demikian, film ini lumayan menghibur, dan cocok ditonton pada tahun politik ini. Semoga perseteruan sengit dan tak senonoh ala Cam dan Marty tidak kita saksikan pada pentas nasional pemilihan umum tahun ini. (***)
    READMORE
  • READ MORE POST