• Sisa Kejayaan Becak



    PanaJournal - Ada lebih dari 3.000 tukang becak di Jogjakarta yang masih beroperasi. Sebagian dari mereka sudah lepas dari para juragan dan memilih berusaha sendiri.

    BENGKEL SELUAS empat lapangan voli di Jalan Raya Bantul km. 5,5 itu didempeti toko peralatan bangunan yang dijaga dua pelayan. Dinding sampai atapnya berbalut besi. Dari jalan, bengkel bernama “Sinar Laut” itu tampak menonjol di antara toko-toko lain. Gerbangnya lebar dan seperti tak pernah benar-benar terkunci. Di dalam, bertumpuk besi-besi baru dan tua. Sinar Laut sekarang adalah hasil kemajuan usaha yang dibangun berpuluh-puluh tahun. Inilah bengkel yang pernah berada di puncak kejayaan produksi becak Jogjakarta.

    “Tahun berapa tu, taksi mulai masuk Jogja? Ya sejak itulah becak mulai terpinggirkan,” Andi Setyawan, pengelola bengkel Sinar Laut, membuka percakapan kami.

    Andi Setyawan merupakan generasi kedua dari keluarga Setyawati, pemilik bengkel bubut Sinar Laut. Penampilannya sederhana dan apa adanya. Matanya nampak berat, seperti lelah atau kurang tidur, tapi menyisakan semangat. Hidup Andi sekarang terdiri dari desing-desing palu beradu besi dan bunyi gemercik bunga api dari hulu las, serta riuh rendah tawar-menawar dalam proses jual-beli.

    Kalau tidak sedang sibuk melayani permintaan barang-barang hasil las atau mengawasi karyawan, Andi mengunjungi bengkel cabang yang dikelola kakaknya. Di benak lelaki yang umurnya saya taksir sekitar 40 tahun itu, tak banyak ingatan yang tersisa soal becak dan usaha legendaris yang dibangun orang tuanya.

    Pertengahan tahun 1970, Setyawati, pedagang kelontong dan tekstil keturunan Tionghoa, mulai merasa lelah dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Persaingan yang semakin tak sehat dan sentimen SARA yang sesekali muncul, mengganggunya. Mengandalkan keterampilan berdagang, Setyawati mulai mencari-cari peluang baru menyambung hidup, hingga akhirnya berlabuh di Jogjakarta.

    Di kota baru itu, Setyawati dan suaminya menemukan labuhan usaha: bengkel bubut bernama Sinar Laut yang nyaris bangkrut. Pemilik aslinya seorang Jawa, yang akhirnya melepas seluruh aset kepada keluarga Setyawati, pendatang yang justru menyelamatkan perusahaan.

    Bermodal pengamatan, jaringan bisnis yang menjanjikan, dan potongan-potongan besi, mereka lancar meladeni pesanan las, perbaikan rangka kendaraan (waktu itu sepeda motor sedang laris-larisnya), dan mulai merekayasa produk besi. Hingga kemudian, pasar meminta lebih: sebuah moda tak bermotor, beroda tiga, yang berpuluh-puluh tahun kemudian mengubah total wajah transportasi di Pulau Jawa.

    Perkenalan Sinar Laut dengan becak bermula dari permintaan seorang tukang becak untuk memperbaiki kendaraan miliknya. Setyawati menyanggupi. Bulan-bulan berikutnya membawa Sinar Laut pada jasa baru penyewaan becak, yang sebagian unitnya mereka bikin sendiri. Pasar, yang sebagian besar adalah tukang becak, mulai meningkatkan permintaan. Sinar Laut bersaing dengan bengkel-bengkel rakit yang hadir lebih dulu, seperti Tetap Jaya, Lei Kiong, dan Rocket.

    Merasa mendapatkan keuntungan kompetitif dalam rancang bangun becak, plus prospek pelanggan yang menggembirakan, pada akhir tahun 1971 Sinar Laut resmi menghasilkan produk becak melalui mekanisme pemesanan. Harga per unit becak waktu itu dipatok Rp 400.000,- dan laku keras. Tak sampai dua tahun, para juragan becak semakin banyak. Perlahan namun pasti, Jogjakarta menerima becak sebagai moda transportasi unggulan.

    Becak (bahasa Hokkien: be chia = kereta kuda) dipercaya lahir di Jepang sekitar tahun 1769, ketika seorang pemuda misionaris Amerika Serikat di Jepang bernama Jonathan Scobie berniat menciptakan alat bantu berjalan bagi istrinya yang cacat (versi paling akurat dibandingkan beberapa teori lain).

    Dalam perkembangannya moda ini disebut sedan-chair (becak tandu) atau pull-rickshaw (becak tarik), yang dalam bahasa Jepang disebut jinrikisha. Becak kemudian sampai ke telinga bangsawan di Tiongkok dan jadi primadona sampai 1870-an. Di Indonesia, Batavia tercatat sebagai kota pertama tempat kemunculan becak pada 1936, sekaligus kota pertama yang melarang becak pada 1988. Jogjakarta kini jadi kota dengan populasi becak terbesar di Indonesia.

    Dalam buku The Betjak Way: Ngudoroso Inspiratif di Jalan Becak, pengayuh becak yang juga aktivis media sosial Blasius Haryadi menuliskan bahwa cikal-bakal becak di Jogjakarta tercatat bermula pada 1950, ketika beberapa pengusaha keturunan Tionghoa membawa contoh becak dari Semarang. Pada masa itu, mulai muncul bengkel-bengkel perintis seperti Siong Hong dan HBH, yang membuat rancangan becak kayuh dengan pengemudi di belakang—berbeda dengan becak Sumatra yang pengemudinya duduk di samping.

    Pada era 1970-an, becak menjajaki karier sebagai moda “calon raja baru” di jalanan Jogjakarta. Desas-desus tentangnya terdengar dari beberapa wilayah di Semarang pada masa pendudukan Jepang. Bentuk becak yang lengkap dengan tiga roda, rem bertenaga tangan, dan aneka asesorinya, mulai melekat di benak masyarakat.

    Para pelanggan utama becak di Jogjakarta datang dari masyarakat lokal, para pedagang di Pasar Beringharjo Malioboro dan Pasar Kranggan, sampai wisatawan mancanegara yang mulai mencari alternatif tujuan wisata selain Bali. Kalangan Keraton waktu itu bahkan memilih becak bersama andong sebagai moda penting bagi para keluarga dan para abdi. Memasuki 1980-an, becak tidak tertandingi dan menjelma jadi primadona masyarakat. Di jalan-jalan kota, becak sangat dominan—menyusul popularitas piet onthel yang waktu itu mulai terganggu dengan kehadiran kendaraan bermotor pribadi.

    Masa-masa surut produksi becak mulai terasa pada tahun 2000. Selain taksi, sepeda motor pribadi juga mulai membanjiri jalanan Jogjakarta. Masyarakat yang menerima moda transportasi bermotor (yang secara teknis lebih hemat tenaga, dan menjamin kecepatan) meninggalkan becak yang dianggap tersisa hanya untuk keperluan wisata. Pesanan-pesanan unit becak yang dulunya dikuasai para juragan becak dalam kota kini mulai digeser pasar yang baru, eksklusif, dan sangat terbatas.

    Andi memandang perjalanan becak di Jogjakarta seperti halnya moda-moda transportasi lain. Ada kemunculan, masa kejayaan, kemudian meredup. Andi yang membangun keluarganya sendiri dari hasil usaha warisan orang tua mengaku, kini sangat sulit menggantungkan usaha bengkel dari sekadar membuat becak.

    “Pesanan (becak) bisa dibilang hampir tidak ada. Satu-dua saja, tiap beberapa bulan. Itupun, yang pesan kebanyakan orang luar,” jelas Andi soal produksi.

    Saat pasar domestik hampir mati, becak tak lagi banyak dicari. Menurut Andi, pesanan becak di bengkelnya kini lebih banyak dipesan oleh para kolektor Belanda demi keperluan museum, galeri seni atau perpustakaan sejarah. Pernah juga dikirim ke Australia untuk keperluan foto pra-pernikahan, riset, dan sebagainya.

    Ini jauh sekali dari ingatan masa kecilnya ketika bengkel bisa memproduksi 400 becak dalam setahun. Sementara bengkel Sinar Laut milik Andi masih bertahan dengan sisa-sisa kekuatan, beberapa bengkel lain seperti Pasti Jaya dan HBH bahkan sudah benar-benar berhenti membuat becak.

    Bagi tukang kayuh atau juragan becak, biaya membuat becak yang per unitnya kini bisa mencapai Rp4.000.000 , dinilai berisiko sebagai aksi investasi. Sementara para juragan mulai alih usaha, sisa-sisa tukang becak yang bertahan memilih membeli sendiri becak dari mereka yang bangkrut. Ketimbang menyewa becak dari kisaran Rp5.000-Rp10.000 per hari, mereka memilih jaminan. Demi meneruskan bisnis, para tukang becak “independen” ini terkadang masuk bengkel reparasi, seperti Sinar Laut.

    Meski pasar tak lagi bersemi seperti dulu, para tukang becak tetap memerlukan bengkel-bengkel reparasi. Harapan akan nasib baik belum benar-benar luntur. Ketika dana pemeliharaan agak berlebih sekadar untuk mengganti cat pelek dan meratakan permukaan fender (penutup ban), beberapa tukang becak masih akrab dengan bengkel reparasi yang khusus mengerti konstruksi dan cara kerja becak mereka.

    Saya menemui Dahar, tukang becak yang mangkal di sekitaran Pojok Benteng Kulon, 200 meter di selatan kompleks Keraton. Tukang becak yang kerap narik di sekitaran Prawirotaman serta Malioboro mengakui keberadaan bengkel-bengkel becak yang masih sangat diperlukan oleh mereka.

    Duduk mengawal jok becaknya di bawah terik matahari pukul sebelas siang, laki-laki paruh baya berkulit legam ini berujar, “Di Jogja, nama-nama seperti Sinar Laut dan Pasti Jaya dikenal oleh hampir semua tukang becak.”

    Dahar, yang sudah 10 tahun mengayuh becak, mengaku terlanjur nyaman dengan pekerjaannya. Dalam sehari ia mengaku bisa mengantongi Rp25.000. Sementara di musim liburan, pendapatannya bisa mencapai empat sampai delapan kali lipat. Meski banyak kehilangan penumpang yang dulu jadi pelanggan tetap, ia menilai itu semua wajar saja.

    “Orang-orang mulai berpikir serbacepat, Mas. Becak yang jalannya lambat, dipakai untuk nostalgia saja, bukan kerja,” katanya sambil terkekeh, menunjukkan gigi geligi yang tak lagi rata.

    ***

    Paguyuban-paguyuban tukang becak kini lebih banyak terkonsentrasi di pusat-pusat turis. Selain sekitaran Malioboro, daerah Prawirotaman dan kawasan baru di XT Square Umbulharjo jadi daerah favorit para tukang becak untuk memeroleh keuntungan lebih baik.

    Tak seperti pada 1980-an dulu, sasaran mereka kini adalah turis mancanegara (dengan tip yang lebih besar), turis domestik dari beberapa daerah di luar Jawa, sampai sisa-sisa pedagang batik dan hasil bumi di Pasar Beringharjo yang biasanya meminta jasa bongkar-muat barang.

    Sistem komisi yang terjalin antara paguyuban tukang becak dan para pengusaha restoran, toko batik-kaus, dan hotel-hotel jadi harapan tunggal menjaga eksistensi becak, yang kini lebih sering diangkat sebagai transportasi wisata. Tarif kecil dari penumpang dibalas besaran “tip” tertentu dari pemilik toko, yang mendapatkan pelanggan dari hasil antaran sang tukang becak.

    Hal sama dirasakan Dahar. Menurutnya, selama kerjasama bisnis terjalin antara tukang becak sepertinya dengan para pemilik usaha wisata, masih ada harapan hidup bagi becak.

    “Dari dulu sampai sekarang, tidak pernah ada tarif baku untuk becak. Semuanya berdasarkan kesepakatan. Jadi kalau ada yang mau ngasih lebih, wah itu rezeki sekali. Asalkan jangan kurang!” Tawa Dahar pecah.

    Berdasarkan Data Dinas Perhubungan Kota Jogjakarta tahun 2006, tercatat ada sedikitnya 142 paguyuban yang masing-masing beranggotakan sekitar 50 pengayuh becak. Sementara, jumlah becak hingga saat ini masih simpang siur, yakni sekitar 4.000-5.000 di seluruh Jogja (Institut Studi Transportasi ‘INTRANS’ pada tahun 2000 mencatat angka 20.000 becak).

    Aturan pembatasan jam operasi becak sempat terbit lewat Perda No. 6 tahun 1987. Lantaran dianggap terlalu menjamur, waktu operasi becak dikelompokkan ke dalam dua kelompok warna: merah dan putih.

    Becak-becak berbodi merah hanya boleh beroperasi pada siang hari, sementara becak-becak warna putih hanya boleh beroperasi pada malam hari. Bengkel-bengkel pun sempat diatur untuk menghentikan produksi becak pada tahun-tahun itu, akan tetapi Andi mengaku kala itu sebagai produsen ia agak membandel. “Kami tetap produksi,” katanya sambil tersenyum.

    Kini, pembatasan seperti itu tak diperlukan lagi. Populasi becak di Jogja terus berkurang. Pemerintah kota telah mengambil langkah pelestarian dengan menetapkan becak sebagai ikon wisata popular kota Jogjakarta.

    Jurnalis Reuters Dwi Oblo lewat sebuah tulisan feature di majalah National Geographic edisi April 2008 menggambarkan, sewaktu Pangeran Akishino, putra kedua Kaisar Akihito mengunjungi Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto pada bulan Januari tahun itu, ia dihadiahi cinderamata berupa syal batik dan miniatur becak dari besi. Bukti kebesaran citra becak sebagai bagian dari perjalanan budaya dua negara.

    Sebenarnya, sudah ada pihak-pihak yang secara konkret mengupayakan pelestarian becak sebagai moda transportasi. Hanya saja, rupanya ide-ide “inovatif” tak serta-merta diterima para pelaku bisnis yang lebih senang “apa adanya”.

    Pakar teknik Danang Parikesit, di bawah bendera Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada pernah bekerja sama dengan INSTRAL guna mewujurkan proyek yang mereka namai “Becak Modern”, tahun 2000. Pengamat yang juga menjabat Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia ini meluncurkan proyek pilot becak modern dengan bobot lebih ringan, desain lebih ergonomis dan kapasitas muat yang diklaim sedikit lebih besar, model alternatif untuk non-motorized transport. Sekaligus ditujukan untuk misi perbaikan kualitas udara yang mulai disesaki gas buang kendaraan bermotor.

    Waktu itu, restu proyek “Becak Modern” datang langsung dari Wali Kota Herry Zudianto dengan pendanaan yang dibantu GTZ dari Jerman, juga Toyota Foundation. Hanya saja, setelah berhasil membangun basis produksi di Berbah, Sleman dengan kapasitas produksi sebanyak 40 unit becak antara 2004 dan 2005, upaya itu tidak berlanjut. Selain karena kendala finansial, respon pasar ternyata tak seperti yang direncanakan.

    Andi Setyawan rupanya sempat mengikuti proyek ini dengan hati resah. “Kebanyakan tukang becak lebih memilih desain yang lama. Identitasnya kan di situ,” terangnya. Ia menambahkan, akan sulit mengutak-atik format becak yang terlanjur berkarakter sebagai bagian dari tradisi budaya orang-orang Jogja.

    “Waktu itu banyak yang lebih senang becak-becak lama dibantu perbaikan dana dan insentif pasar, tapi bentuknya jangan diutak-atik,” papar Andi.

    Dahar pun mengungkapkan pendapat senada. Sebagai tukang becak ia punya kedekatan hati dengan tunggangannya. “Becak saya ini sama dari sepuluh tahun yang lalu. Tidak pernah ganti, terlanjur nyambung,” ia mengaku. Dahar akan tetap menyetor uang sewa harian lima ribu rupiah kepada juragan, asalkan tetap bisa mengayuh becaknya.

    Demi kesempatan tiap hari menemui istri dan tiga anaknya di Bantul, Dahar mengaku tidak pernah menyesal sedetik pun berhenti sebagai awak truk ekspedisi Jawa-Sumatra dan kini hidup dari atas kendaraan roda tiga. Keyakinannya berbicara, becak akan memberikan jaminan rezeki tersendiri, kenikmatan yang tak bisa digambarkan dengan materi.

    ***

    Kenangan masa kecil Andi Setyawan tentang becak selalu sebuah gambar yang hangat, saat orang-orang berseru memanggil “Becak!” untuk menuju ke kantor dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kini, meski pamor kendaraan ini telah jauh menurun, sejarah mencatat bahwa cita-cita Setyawati dan Sinar Laut yang dulu hanya mencoba-coba peruntungan di Jogjakarta dengan bengkel perakitan dan persewaan becak, jadi bagian penting dari sejarah moda transportasi roda tiga yang kini jadi milik dunia.

    Demi modernisasi pariwisata kota, becak-becak di Jogjakarta kini harus rela dilabeli pelat khusus kuning bertuliskan YB (tanda resmi moda tidak bermotor, juga diterapkan pada andong). Para tukang becak tradisional senior harus bersaing dengan para pengayuh-pengayuh muda yang memodifikasi becak mereka dengan mesin-mesin Honda dan Yamaha, berebut penumpang antara penggila foto wisata dan perindu nostalgia.

    Becak menikmati lembar-lembar sejarahnya sendiri. Menyaksikan tumbuh-kembang kota dengan polesan citranya yang beraneka-warna. Meskipun pengusaha seperti Andi berkata tegas bahwa becak tidak akan pernah hilang dari peradaban Jogjakarta sampai kapanpun, itu tak selalu berarti masa kejayaan itu akan kembali.

    Para pemangku kepentingan (stakeholder) becak, baik sebagai produk transportasi maupun instrumen budaya, punya penilaian tersendiri soal bagaimana moda tradisional tiga roda tanpa mesin, bisa bertahan di tengah gempuran teknologi transportasi canggih.

    Di saat roda bisnis secara nyata mengubah wajah dan tatanan kehidupan kota, orang-orang seperti Andi Setyawan berharap, kenangan becak tidak akan hilang dari ingatan orang-orang, meski kini dirinya sendiri lebih bergantung pada pesanan gerbang-gerbang besi kantor dan tiang-tiang ayunan.

    Dan dari orang-orang ulet seperti Dahar, saya belajar bahwa kecintaan pada sesuatu sebetulnya menciptakan ikatan pikiran dan jiwa yang kuat dan bertahan dalam waktu yang lama. Persis nasibnya yang bergantung pada si roda tiga.

    Sederas apapun arus perubahan zaman, sepertinya akan selalu tersedia ruas-ruas di jalan di mana becak mendapat tempat mangkal. Becak-becak itu diparkir berjajar, beserta pengayuhnya yang lebih sering sibuk dengan Teka-teki Silang—sambil menyaksikan manusia yang berubah perlahan-lahan. ***
    READMORE
  • Greyhound


    PanaJournal - Ketika kecepatan menjadi ukuran kesuksesan yang baru, PanaJournal terbit dengan kisah panjang tentang kehidupan. Sebuah upaya mengembalikan kita pada kemanusiaan.

    Kawan-kawan,

    Menjelang PanaJournal diluncurkan awal tahun ini, para wartawan dan staf pendukungnya berbincang tentang jurnalisme apa yang ingin dijalankan, dan apakah kiranya jurnalisme itu memang merupakan alternatif di tengah kebebasan, keliaran, dan kegilaan informasi yang merajalela.

    Kehendak kuat yang melahirkan PanaJournal, pada mulanya adalah obsesi kepada bentuk features panjang, yang tidak lagi mendapat tempat selayaknya dalam media cetak, maupun dalam kecenderungan jurnalisme mutakhir di dunia maya, yang seperti mengutamakan kecepatan di atas segala-galanya.

    Betapapun, gegar budaya bercampur eforia hura-hura media baru ini bukan suatu proses gratisan, karena selain kemangkus-dan-sangkilan yang telah diberikannya, tak kurang-kurangnya pemberantakan etika sosial telah dipersembahkannya pula. Kesimpangsiuran tentang apa yang boleh dan tidak boleh dalam kehidupan praktis masa kini, adalah situasi rawan yang memerlukan perhatian.

    Maka, jika dunia melesat terlalu cepat, PanaJournal akan memperlambatnya, agar manusia tetap menjadi manusia, bukan satu eksemplar produk budaya industri, yang menjual kemajuan teknologi komunikasi dengan prinsip menciptakan balapan greyhound: makhluk Tuhan yang tak tahu betapa kelinci yang dikejarnya hanyalah semu.

    Kawan-kawan,

    Memang benar, kemajuan yang dibangga-banggakan umat manusia hanya akan menjadi semu, jika tidak diimbangi kesadaran atas keberadaannya sebagai produk industri, dengan segala prinsip yang terdapat dalam dunia jual-beli. Dengan menyadari keadaan tersebut sebagai arus budaya utama saat ini, maka bukan terutama features panjang sebagai tujuan yang harus diberikan PanaJournal, melainkan cara pandang baru dalam melihat dunia ini.

    Dengan menyingkap dan mempreteli mitos tentang dunia yang dibentuk industri media itu sendiri, besar kemungkinan dunia bisa berwajah lain, dan langkah pertama tentunya adalah membebaskan diri dari arus utama pemberitaan yang tiada lebih dan tiada kurang hanyalah semu.

    Laporan tentang perjuangan Christie Damayanti, yang jiwanya justru menjulang dalam kejatuhan ragawinya, adalah pencapaian yang ingin ditunjukkan sebagai alternatif, atas berhala masa kini yang disebut sukses.

    Salam

    SGA
    READMORE
  • Ketika Menulis Menyembuhkan


    PanaJournal - Terserang stroke pada usia kurang dari 40 tahun tidak menghancurkan hidup Christie Damayanti (44). Menulis membantunya bangkit kembali.

    SIANG ITU saya ada janji dengan Christie di Agung Podomoro Land (APL) Tower, Central Park, Jakarta Barat. Sebelumnya, melalui email, Christie meminta saya menjemputnya ke lantai 43 karena ia belum bisa berjalan sendiri. Saya penuhi permintaannya dengan senang hati.

    “Badan saya lumpuh separuh, di sebelah kanan,” kata Christie, begitu kami bertukar sapa. “Jadi saya hanya bisa menyeret kaki. Kalau berjalan harus berpegangan.”

    Nada suara Christie mau tak mau membuat saya terkesima. Seumur hidup tidak pernah saya bersentuhan langsung dengan penderita stroke, apalagi yang bisa membicarakan keadaan fisiknya dengan ringan. Ketika kami turun lift, beberapa kali saya merasa canggung karena gerak kami yang lambat (tangan kiri Christie berpegangan pada lengan kanan saya, dan kami berjalan pelan-pelan) membuat beberapa orang menggerutu. Kami dianggap menghalangi jalan. Namun, dengan tenang Christie berujar pada mereka, “Maaf, permisi, saya sedang sakit..” Orang-orang yang sadar segera membukakan jalan, sementara beberapa hanya berdecak, lalu terus dengan urusannya sendiri. Inilah manusia-manusia Jakarta yang merasa selalu dikejar waktu.

    Puas berkeliling mencari spot foto, kami berlabuh di sebuah kafe. Christie memesan teh dan saya kopi hitam. Saya membantunya menyobek bungkus sedotan. Di tengah dengungan mesin kopi, teriakan lantang barista dan suara percakapan pengunjung kafe, Christie memulai riwayatnya.

    Hampir semua keluarga besar Christie meninggal karena penyakit darah tinggi. Pada tahun 2007, ia mengidap penyakit yang sama karena terlalu keras bekerja. “Waktu itu saya baru bercerai, dan mantan suami tidak kasih uang untuk anak-anak,” Christie mengaku. Pekerjaan sebagai arsitek senior di Agung Podomoro Group (sebelumnya, Christie sempat bergabung dengan grup Ciputra dan Palazzo) membuat Christie sering tidur hanya 2 jam tiap malam. Ia juga sering blusukan ke bedeng-bedeng para tukang untuk memeriksa langsung pekerjaan mereka. Ia makan seadanya dan sesempatnya. Kelelahan tidak terasa karena Christie mencintai pekerjaannya.

    Jika punya mulut, mungkin badan Christie sudah menjerit. Dan persis itulah yang terjadi pada tanggal 8 Januari 2009. Di sebuah kamar hotel di Amerika Serikat (Christie sedang berlibur bersama kedua anak dan orangtuanya), jam tiga pagi ia merasa ingin buang air kecil. Ia duduk di atas ranjang. Baru saja mau berdiri, ia jatuh. Saat itu Christie belum merasa lumpuh. Ia hanya heran kenapa ia tidak bisa bangun. Setelah menyadari ia tak bisa bicara, barulah panik menyerangnya.

    Papa Christie yang tidur di kamar sebelah segera menelepon 911. Christie dibawa ke sebuah rumah sakit Katolik di San Fransisco, dan langsung menjalani tes Magnetic Resonance Imaging (MRI). Vonis dokter: pembuluh darah di otaknya pecah, dan 20% otak sebelah kiri terendam darah. Dokter Gandhi, yang menanganinya waktu itu, berkata dengan pahit bahwa hampir pasti Christie akan menjadi cacat. Paling banter, ia hanya bisa duduk.

    Saat itu umur Christie belum genap 40 tahun.

    Reaksi pertamanya saat mendengar vonis dokter asal India itu hanya satu kata: menolak! Meski kondisi otaknya sedang kritis, Christie masih bisa berpikir bahwa ia tidak boleh cacat. Tidak mungkin ia hanya berbaring sampai mati. Bagaimana nasib Dennis dan Michelle, anak-anaknya? Siapa yang akan membiayai sekolah mereka? Bagaimana nanti masa depan mereka? Tidak mungkin, kan, mengandalkan kedua orangtuanya, yang juga telah tua? Satu jam penuh, Christie merasa amat terpuruk.

    Lalu ia bisa tersenyum. Dan para dokter heran. Mereka bergumam, “Kamu pasien paling parah, kok, masih bisa tertawa? Yang lain menangis saja kerjanya.”

    Andai bisa menjelaskan, saat itu juga ia akan bilang bahwa ia tidak boleh berhenti bekerja dan menjadi orang cacat tanpa guna. Nasib anak-anak ada di tangannya. “Aku merasa mendapat bisikan dari Tuhan, bahwa aku bisa. Ya, aku bisa,” kenang Christie.

    Seminggu setelah pulang dari Amerika Serikat, artinya tiga minggu setelah ia terserang stroke, Christie sudah bisa berjalan. Dokter Gandhi kaget bukan kepalang. Tak hanya itu, Christie juga mulai belajar berbicara. Di Amerika Serikat ia diajari kata-kata sederhana seperti “cat”, “dog”, “book”. Ia pun harus mempelajari lagi keterampilan dasar seperti menggunakan sendok-garpu. Otaknya seperti di-reset.

    “Aku juga belajar memakai pakaian sendiri. Kalau kemeja aku bisa karena ada kancing. Tapi kaus, susah,” kata Christie. “Aku dulu juga tidak berani ketemu orang baru, seperti ini. Aku minder karena aku cacat.” 

    Bahkan sampai hari ini, bicara panjang juga bukan perkara mudah bagi Christie. Kata-kata bisa hilang begitu saja dari kepalanya. Kadang ia bicara terpatah-patah, kesulitan merangkai kalimat. Padahal, saat masih sehat dulu ia sempat mengajar program Arsitektur di Universitas Tarumanegara. Diakuinya, untuk bisa mengungkapkan pikiran, ia harus berpikir sangat keras. Ia jadi mudah lelah.

    Agung Podomoro mempertahankan Christie sebagai karyawan. Tapi, ia tak boleh lagi pegang proyek langsung karena perusahaan cemas kondisi fisiknya tak memungkinkan. Christie stres. Sebelumnya, ia tak pernah ada di balik meja selama lebih dari satu jam. Suatu kali, ia nekat turun ke bedeng. Waktu itu pusat perbelanjaan Central Park belum jadi.

    Kawan baik Christie, wartawan harian Kompas Josephus Primus, menghampirinya ke bedeng. Mereka mengobrol. Primus lalu menawari Christie untuk membuka akun di blog warga Kompasiana.

    “Aduh, nanti aku nulis apa dong?” Ia sempat ragu.
    “Ya, apa saja. Pengalamanmu juga boleh,” dorong Primus.
    “Tapi aku nggak bisa nulis.”
    “Cobalah. Nanti pasti banyak teman baru.”

    Dua belas November 2010, Christie membuka akun di Kompasiana. Sebenarnya ia belum yakin harus menulis apa. Akhirnya ia memutuskan mulai dari dirinya sendiri: siapa dia dan apa yang menimpanya. Tiga hari penuh ia mengetik sebelah tangan di komputer, dan empat hari selanjutnya ia habiskan untuk menimbang-nimbang apakah tulisan itu akan ia unggah. Rasa tidak percaya diri masih menghinggapi Christie. Siapa, sih, yang mau membaca tulisan orang cacat?, pikirnya.

    Christie juga sempat ragu apakah dirinya boleh menulis, kegiatan yang jelas membutuhkan berpikir keras dan menguras emosi. Bukan apa-apa, tiap kali terapi dokter selalu berpesan agar Christie menjaga perasaan; tidak boleh terlalu sedih atau terlalu senang. Di luar dugaan, dokter justru mendorong Christie menulis karena itu terapi.

    Dan benarlah. Posting pertama Christie disambut hangat dengan komentar-komentar positif dan bernada merangkul. Kotak surat Christie dibanjiri dengan salam perkenalan. Seorang bapak di Jakarta yang menderita stroke seperti dirinya, mengaku seperti ditampar setelah membaca posting pertama itu. Selama ini, si bapak murung, menyesali nasib, dan bersikap kasar pada keluarga karena frustrasi akan keadaannya. 

    Christie merasa dadanya akan pecah oleh rasa bahagia. Ia tak pernah menyangka, menulis sanggup membuatnya membuka diri pada dunia luar. Tak sedikit pun ia menduga, di luar sana banyak orang bernasib sama seperti dirinya, dan dengan menulis ia seperti berbagi kehidupan dengan mereka. Untuk pertama kalinya, Christie tak merasa malu dengan kondisinya.

    “Menulis membuat saya sadar bahwa saya memang cacat. Lalu kenapa? Saya tetap ingin berguna sebagai manusia,” papar dia. “Kenyataan menjadi jelas setelah dituliskan karena tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.” 

    Christie pun kecanduan. Ia menulis seperti kesetanan. Tiap kali macet, ia mengetik dengan satu jari di BlackBerry. Setelah jadi, ia cari gambar pendukung, lalu ia unggah. Senin-Jumat, ia menulis 3-4 artikel per hari. Akhir pekan ia libur menulis, menikmati waktu bersama keluarga.

    Selain tentang penyakitnya, ia juga menulis tentang hobi filateli yang telah ia geluti sejak kecil. Posting Christie sering menjadi headline. Jumlah pesan di kotak suratnya terus bertambah, salah satunya dari sesama Kompasianer yang bekerja di PT Pos Indonesia, Ahmad Aljohan. Ia menawari Christie pameran perangko di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sekaligus memberi seminar menulis untuk guru-guru SMP se-Jakarta.

    Christie terperangah. Buru-buru ia membalas email. “Bapak tahu, kan, saya cacat? Jalan susah, bicara apa lagi.”
    Aljohan menjawab, “Mbak Christie pasti bisa.”

    Christie lalu mengundang Aljohan datang ke rumahnya di Tebet, Jakarta Selatan, untuk melihat langsung kondisinya (juga koleksi perangkonya). Ia cemas Aljohan tak tahu apa yang ia bicarakan. Tapi, Aljohan tak berubah sikap. Walhasil, Maret 2011, untuk pertama kalinya Christie tampil di depan umum memberi seminar dalam kondisi pascastroke.

    Ditemani kedua orangtuanya, Christie datang pakai kursi roda. Ia duduk di barisan depan, merasa gugup luar biasa. Ketika namanya dipanggil, Christie maju sambil menunduk. Di depan 300 orang audiens, ia bicara tentang menulis. Pelan tapi pasti, ia mulai percaya diri. Sejak itu, Christie laris diundang ke berbagai seminar tentang bertahan hidup dari penyakit stroke, kanker (yang juga pernah ia derita), dan menulis. Belakangan ia juga aktif dalam komunitas Internet Sehat.

    “Audiens tidak melihatku dengan rasa kasihan karena aku cacat,” kata Christie. “Mereka sungguh-sungguh mendengarkan. Sampai sekarang rasanya sulit percaya semua ini terjadi karena aku memberanikan diri menulis di Kompasiana.”

    ***

    Saya menemui Editor-in-Chief Kompasiana, Pepih Nugraha, di kantornya di Gedung Kompas, Palmerah Barat, lantai 6. Ketika saya menyebut nama Christie Damayanti, Pepih langsung mengenali. “Christie itu salah satu Kompasianer paling aktif. Saya ikut senang bahwa menulis membantu kesembuhannya,” kata Pepih.

    Kompasiana awalnya didirikan sebagai blog jurnalis Kompas. Ide ini muncul setelah Pepih membaca buku “We the Media” (2004) karya Dan Gillmor. “My readers know more than I do,” kata Gillmor. Dari situ Pepih berpikir untuk membuatkan semacam blog tempat wartawan Kompas bisa menuliskan apa yang tak tertampung di harian, lalu berinteraksi dengan para pembaca. Siapa tahu, para pembaca memiliki informasi atau gagasan yang justru akan memperkaya tulisan wartawan.

    Pada 1 September 2008, Kompasiana mengudara. Awalnya, para wartawan Kompas cukup rajin mengunggah posting. Lama kelamaan, karena kesibukan, arus posting berkurang. Belum lagi ada beberapa wartawan yang ngambek karena dikritik oleh pembaca. Jalan sebulan, Pepih menyadari satu hal: isi Kompasiana kebanyakan posting dia belaka.

    Di kantor, Pepih dipanggil dengan sebutan baru: Pepihsiana. Ia cemas bayi yang baru lahir ini langsung mati. Karena itu, ketika ada ide membuka Kompasiana untuk publik, Pepih langsung menyambut gembira. Dan sesungguhnya, ide serupa sudah terpikir di kepalanya. Ketika posting sedang sepi-sepinya, Pepih membuat rubrik “Gelar Komentar”. Isinya kumpulan komentar dari pembaca. Beberapa komentar tersebut ditulis dengan rapih, serupa posting tersendiri.

    “Tapi, saya kan, bekerja di organisasi yang namanya Kompas. Segala sesuatu harus dibicarakan, nggak bisa mau-mau saya sendiri,” papar Pepih. “Dan memang lalu dikaji. Terutama, nama besar Kompas. Ada kecemasan nanti kalau (Kompasiana-red) dibuka untuk publik, orang jadi berbalik memukul kita. Sejak awal saya sadari itu. Saya bilang, pasti. Itu risiko media sosial.”

    Dua puluh dua Oktober 2008 menjadi tanggal bersejarah bagi Kompasiana, sebab pada hari itulah ia resmi menjadi media warga. Postingan mengalir seperti air. Sampai artikel ini ditulis, lebih kurang ada 1.000 artikel masuk per hari dari 170.000 anggota, atau yang lazim disebut Kompasianer. Larisnya Kompasiana mungkin karena platform yang cukup jelas dan sederhana: menulis.

    Ada tiga kategori di Kompasiana, yaitu Laporan, Opini, dan Fiksi. Pembagian ini berdasarkan benchmarking Pepih pada Panyingkul, blog jurnalisme warga lokal Makassar bikinan mantan wartawan Kompas, Lily Yulianti Farid dan OhmyNews dari Korea Selatan yang dicetuskan Oh Yeong-ho. Kedua blog tersebut terseok-seok (Panyingkul justru sudah tamat) karena “memaksa” warga menjadi pewarta. Warga dididik menjadi wartawan profesional dengan segala kode etik dan kode perilaku profesi tersebut.

    Nah, di Kompasiana, Pepih ingin mengakomodir keinginan warga untuk sekadar berekspresi. Terbukti, kategori paling laku adalah Fiksi, Opini, baru kemudian Laporan alias jurnalisme warga. Kategori terakhir ini cukup sering menjadi headline. Semua posting tidak diedit, kecuali yang masuk headline, itu pun biasanya hanya koreksi ejaan dan besar-kecil huruf. Kompasianer yang ingin akunnya terverifikasi wajib mengirimkan scan data diri berupa KTP atau paspor. Kalau ada apa-apa, admin punya basis data. Seperti saat heboh postingan Jilbab Hitam tentang praktik suap majalah Tempo, misalnya, admin jadi punya hak untuk menghapus artikel tersebut karena empunya akun tak memenuhi panggilan verifikasi.

    Kompasiana telah, dan akan selalu, dibuka untuk umum. Pepih percaya, hanya platform menulis yang akan membuat Kompasiana berumur panjang. Arus informasi mengalir deras tak terbendung seperti keran bocor, dan orang jadi lebih kritis mengemukakan pendapat. Orang juga tak takut lagi berbagi pandangan dan pengalaman karena interaksi via internet tak lagi dipandang asing.

    “Pada pokoknya, menulis bukan lagi monopoli wartawan,” tegas Pepih. “Grassroots juga menulis. Mereka punya pandangan, pengalaman, dan khayalan sendiri.”

    ***

    fX Plaza, Jakarta Selatan, lantai tujuh, 10 Desember 2011. Hari itu sedang diadakan festival Kompasianival yang pertama. Christie Damayanti datang dan bertemu teman-teman baru. Mendekati pukul 18.00, ia ingin pulang. Christie mencari-cari Pepih Nugraha untuk berpamitan.

    “Mas, aku pulang, ya.”
    “Ngapain pulang sekarang? Nanti saja, kukasih hadiah.”
    “Hadiah apa?”
    “Ada, deh, yang pasti buat anak-anakmu senang.”
    “Kapan?”
    “Ya, kira-kira dua jam lagi.”

    Menangkap nada setengah membujuk pada kalimat Pepih, Christie memutuskan untuk tinggal. Ia penasaran hadiah apa kira-kira yang dijanjikan Pepih. Kebetulan, teman-teman dari luar kota masih berdatangan. Sibuk kopi darat, Christie sejenak lupa pada hadiahnya.

    Maka, ketika namanya dipanggil sebagai Kompasianer of the Year (KotY) 2011, Christie terperanjat. Ia sama sekali tak menduga. Pasalnya, nama Christie sama sekali tak masuk dalam voting KotY. Sahabatnya Valentino, sesama Kompasianer, sampai membuat posting berseri yang isinya protes; kenapa Christie sampai tak masuk nominasi, padahal postingan Christie paling banyak dan sering diganjar headline.

    Christie dituntun maju ke depan. Ia menerima plakat dan hadiahnya dengan tangan gemetar. Momen ini menjadi semacam puncak dari keputusannya menulis di Kompasiana. Dari seorang penderita stroke yang berhasil bertahan hidup, Christie sekarang mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang. Ia bahkan sudah menulis tiga buku, yang terakhir berjudul Ketika Tuhan Masih Memberi Aku Hidup (2013).

    Menulis membuat Christie menemukan harapan. Saat ini, apapun yang mendatangkan inspirasi langsung ia tulis. Ia tak lagi kuatir apakah tulisannya akan dibaca atau tidak. Tiap kali memberikan seminar tentang menulis, Christie tidak pernah menganjurkan agar audiens membuat semacam outline terlebih dahulu. Ia sendiri hanya menulis apa yang terlintas di pikirannya. Dan, cara ini ternyata efektif untuk membantunya menyalurkan emosi, yang pada gilirannya sangat membantu proses pemulihannya.

    Tulisan demi tulisan telah membawa Christie bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi, dan bertemu orang-orang baru. Ia pun tak lagi berdoa memohon kesembuhan, melainkan yang terbaik sesuai keinginan Tuhan. Christie sempat merasa, jangan-jangan kondisi semacam ini memang dimaksudkan agar ia banyak memberi inspirasi untuk orang-orang yang menderita penyakit serupa. Ia akan menjalankan tugas tersebut dengan hati gembira.

    “Dan saya tidak akan lupa, bahwa saya besar di Kompasiana,” tutupnya, tersenyum. Saya mengulurkan lengan, hendak membantunya kembali ke lantai 43. Dalam hati saya berjanji, akan terus menulis sampai mati. ***
    READMORE
  • Berbagi itu Menyenangkan


    PanaJournal - Ilmu seharusnya tidak jadi komoditas yang hanya dapat diperoleh dengan merogoh kantung dalam-dalam. Akademi Berbagi berbagi pengetahuan bermodalkan kerelaan.

    SALATIGA, awal Maret. Awan hitam tampak menyelimuti Pondok Remaja Salib Putih. Siang itu, langit yang semula cerah berubah gelap. Tidak berapa lama, hujan turun, tak deras tapi merata. Jalan bebatuan menuju lobi penginapan jadi licin.

    Di penginapan inilah diadakan local leaders days (LLD) jilid dua. LLD adalah kegiatan dua tahunan hasil prakarsa Akademi Berbagi (Akber). Dari 7 – 9 Maret, 200 (volunteer) Akber se-Indonesia akan bertemu sekaligus mendapat pelatihan.

    Akber adalah gerakan sosial yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat, berupa pembentukan kelas-kelas yang dihadiri para praktisi sebagai pembicaranya. Di sela-sela berlangsungnya LLD, saya berbincang dengan Ainun Niswati Chomsun, Yhanuar Ismail Purbokusumo, dan Karmin Winarta, para pendiri Akber.

    *** 

    Tren Twitter menghadirkan fenomena baru di Indonesia, yaitu “selebtwit”. Istilah ini merujuk pada para pengguna Twtter dengan jumlah followers berjibun. Biasanya, para selebtwit memiliki konten jagoan yang mampu memancing minat para pengikut. Mereka datang dari berbagai profesi, dari mulai penulis, copy writer sampai dokter.

    Salah satu jurus yang kerap digunakan selebtwit untuk menarik animo pengikut mereka adalah kuliah singkat yang biasa disebut “kultwit”, alias kuliah Twitter. Bahasan yang biasanya diurutkan dengan nomor seri ini dipastikan akan mendapatkan perhatian dari jamaah Twitter, apalagi jika temanya menarik dan aktual.

    Nah, salah satu selebtwit yang rajin memberikan kuliah singkat ini adalah Subiakto Priosoedarsono, chief executive officer (CEO) Hotline Agency. Ia praktisi senior di bidang periklanan.

    Suatu kali, Subiakto kultwit tentang copywriting. Ainun, salah satu follower, sangat tertarik pada tema tersebut. Didorong keinginan yang besar untuk belajar, ia memberanikan diri menyapa Subiakto. Upaya ini tak bertepuk sebelah tangan.

    “Pak, saya ingin belajar copywriting,” kata Ainun.

    “Saya mau mengajari, asal kamu kumpulkan 10 orang. Nanti kelasnya di kantor saya,” jawab Subiakto.

    Ainun langsung bungah. Segera ia memperbarui linimasa Twitter-nya dengan kalimat,”Siapa yang mau belajar copywriting dengan Subiakto, silakan daftar ke saya.”

    Dalam waktu singkat, Ainun kebanjiran peminat. Saking banyaknya pendaftar, ia terpaksa membatasi kelas sampai 25 orang saja. Pada 27 Juni 2010, kelas tersebut resmi dibuka. Sebanyak 25 “murid” dari berbagai kalangan, datang ke kantor Hotline Agency di Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan.

    Usai kelas, Subiakto ternyata ketagihan mengajar. Ia menawarkan kelas lanjutan pada minggu berikutnya. Tanpa pikir panjang, Ainun dan peserta lain mengiyakan tawaran tersebut. Namun, setelah beberapa kelas digelar, Ainun yang mengelola komunitas tanpa nama tersebut seorang diri, merasa kesulitan.

    Kepada sesama peserta ia bertanya, “Siapa mau membantu saya mengurus komunitas ini?”

    Ajakannya bersambut. Yhanuar Ismail Purbokusumo, copy writer muda dari sebuah perusahaan periklanan di Jakarta, bersedia membantu. Juga Karmin Winarta, social media strategist media digital. Terakhir, Ibnu Rusdhi, seorang account executive, juga ikut bergabung.

    Usai perekrutan para pengurus, komunitas tanpa nama ini terus menjalankan kelas bersama Subiakto. Pada suatu titik, mereka ingin juga belajar hal lain. Subiakto pun mereferensikan rekannya sesama praktisi periklanan, Budiman Hakim. Setelah kelas dengan Budiman berakhir inilah, muncul keinginan untuk membangun komunitas secara lebih serius. “Akademi Berbagi” pun dipilih sebagai nama.

    “Sebab ada kelas, guru dan ada murid. “Akademi” jadi gambaran yang pas untuk komunitas ini. “Berbagi” karena dalam kelas, kan, para guru membagikan materi dan ilmunya,” papar Ainun.

    Tugas mulai dibagi rata. Ada yang menjabat sebagai Kepala Sekolah, mengurus perkara guru dan tempat, dan menggawangi akun-akun di sosial media. Pada tahun-tahun awal, Ainun dan kawan-kawan mulai menghadapi berbagai kendala. Para murid sering tak datang meski sudah dijadwalkan. Mereka juga kesulitan mencari guru dan mendapat tempat.

    “Dulu banyak praktisi yang janji mau jadi guru,” cerita Yhanuar. “Tapi, pas kita kejar, mereka bilang masih sibuk. Rupanya sekadar ngomong.”

    Karmin, anggota yang sempat didapuk menjadi Kepala Sekolah pertama Akber, juga sempat merasa kesulitan meyakinkan para praktisi untuk mau mengajar di Akber. Ia harus bolak-balik menjelaskan tentang Akber, konsep yang mungkin masih asing di telinga beberapa praktisi. “Tetapi intinya, semua lancar,” kata Karmin.

    Perlahan tapi pasti, reputasi Akber sebagai medium pembelajaran gratis makin berkibar. Ilmu yang dibagikan kian beragam, mulai dari travel blogging, penggunaan dasar Teknologi Informasi, perencanaan keuangan, sampai belajar bahasa isyarat. Kini, Akber sudah memiliki cabang di 39 kota di Indonesia, 70 guru, dan lebih dari 200 relawan.

    Memasuki tahun keempat, Akber menghadapi tantangan lain, yakni persoalan komitmen. Hal ini sebenarnya sudah disadari Ainun sebab, berbeda dengan kerja biasa, kegiatan volunteering seperti yang dilakukan Akber hampir tidak ada rewards-nya.

    Psikolog sekaligus konsultan Sumber Daya Manusia, Eileen Rachman, menekankan bahwa konsistensi memang menjadi kunci aktivitas forum belajar dan volunteerism berbasis komunitas, termasuk dalam memilih cakupan hal yang akan dibagi. Menurut Eileen, jauh lebih baik jika suatu komunitas memiliki platform yang spesifik pada satu bidang sehingga pengetahuan para anggota lebih mendalam.

    “Hidup itu seperti membaca majalah,” kata Direktur Executive Performance Development (EXPERD) ini. “Kita bisa tahu sedikit-sedikit tentang aneka ragam topik. Tapi, semakin specialized isi majalahnya, semakin mendalam juga pengetahuan kita tentang hal tersebut.”

    Eileen juga menyoroti soal sistem manajemen dan sumber dana. Dalam organisasi apapun, dua hal ini penting untuk menjaga agar SDM tak mudah rontok. “Yang kita inginkan, inisiatif semacam ini umurnya tak cuma sesaat, tapi berkelanjutan,” tutup dia. (***)
    READMORE
  • Lebih Baik Jadi Orang Goblok Daripada Pengkhianat


    PanaJournal - Pak “Maknyus” ini siap bertarung merebut kursi di DPR dan meningkatkan gizi masyarakat, serta membela Prabowo Subianto.

    READMORE
  • Kepercayaan Diri Desa Pogog


    PanaJournal - Berkat tangan dingin seorang pebisnis, sebuah desa kecil yang jarang dilirik pemerintah kini menjelma pusat agrobisnis. Ia mengandalkan swakarya masyarakat berbasis wirausaha sosial.

    POGOG adalah tipikal desa kebanyakan di Jawa Tengah: didominasi petani dan pekebun, masyarakatnya berpenghasilan relatif rendah, tanpa prospek pasar, dan sederhana di banyak sisi kehidupan. Terletak di lereng Gunung Lawu, Desa Pogog masuk wilayah administratif Kelurahan Tengger, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri.

    Adalah pebisnis bernama Jumali Wahyono Perwito alias Jiwo, yang kelak akan mengubah kondisi desa. Alkisah, pada 2007, Jiwo mengalami masa sulit. Persaingan usaha di bidang permebelan dan olah kayu tidak berjalan begitu baik hingga ia nyaris bangkrut. Krisis keuangan global yang melanda Amerika dan Eropa saat itu juga berdampak pada pasar hasil hutan dalam negeri.

    Pria kelahiran Surakarta 47 tahun silam itu kemudian memutuskan untuk kembali ke Desa Pogog, lokasi yang dulu menjadi posko kegiatan Kuliah Kerja Nyata semasa ia kuliah. Ia butuh penyegaran agar dapat keluar dari keruwetan yang menimpa. Keputusan itu membawa hasil karena ternyata di “tempat KKN” itulah Jiwo mendapatkan pencerahan. Kelak ia bahkan lebih terkenal sebagai Mas “Jiwo Pogog” ketimbang nama aslinya.

    Pada awalnya, Jiwo Pogog disambut bak keluarga di desa itu. Namun, ia justru merasakan keprihatinan baru karena ternyata kehidupan warga desa masih begitu-begitu saja. Mereka mengeluh, hasil kebun tidak begitu baik karena harus bersaing dengan banyak barang impor di pasar.

    Pepaya dan durian yang jadi komoditas andalan Desa Pogog kini tak lagi “manis” di pasar-pasar yang memang alur jual-belinya masih menggunakan cara tradisional—kalah nama dengan durian-pepaya dari Thailand dan benua Amerika. Kegusaran ini melahirkan ilham bagi Jiwo Pogog. Ia merasa wajib memberdayakan masyarakat lewat apa yang dulu pernah dipelajarinya.

    Pertengahan tahun, ia mulai menggerakkan kembali perkebunan di Desa Pogog, dengan tetap mengandalkan warga desa sebagai produsen dan pemasar utamanya. Dalam kondisi awal yang serbasulit, Jiwo Pogog mempertaruhkan modal bisnisnya sendiri untuk mendanai proyek pilot dengan sistem produksi dan pemasaran baru. Ia pun memperkenalkan istilah-istilah swakarya yang menggelitik, seperti “pepayanisasi” dan “durianisasi”. Syukurlah, usaha ini membuahkan hasil.

    Sejak diinisiasi hingga saat ini, kegiatan usaha bersama perkebunan yang dimotori Jiwo Pogog sudah berhasil melewati empat panen raya. Pepaya dan durian menjadi komoditas pelopor untuk jenis komoditas unggul lain, yang kini juga mulai dikembangkan. Sedikitnya 325 pohon pepaya telah berhasil ditanam, membuahkan penghasilan bersama sebesar Rp6 juta setiap panen.

     Untuk menguatkan pasar komoditas, digunakan sistem “pemasaran satu pintu”. Artinya, poros penjualan pepaya dan durian dipusatkan di satu pasar atau koordinator agar tidak terjadi perbedaan harga dan spekulasi oleh sesama pedagang. Diperkirakan, awal atau pertengahan 2014 mendatang, warga Desa Pogog akan mulai memanen durian montong dengan penghasilan yang tentunya jauh lebih menjanjikan.

    Kebersamaan warga dengan swakarya perkebunan ini memberikan pengaruh baik bagi prinsip kerja sosial ala desa yang mandiri. Di samping keuntungan ekonomi, warga desa Pogog kini merasakan hal lain yang memakmurkan: diversifikasi profesi. Menurut Jiwo Pogog, selain berkebun, warga desa juga banyak yang telah ‘banting setir’ menjadi pengepul, membangun efek berkelanjutan bisnisnya sendiri.

    Meski demikian, upaya Jiwo Pogog bukan tanpa hambatan. Menurut catatan, terdapat 20 pohon pepaya yang tidak berhasil berbuah. Dari jumlah 51 petani yang ikut program tahun pertama, baru delapan di antara mereka sudah berhasil membangun keuntungannya sendiri.

    Enam juta rupiah dari panen pepaya pun diakui masih jauh dari harapan. Kendala alam saat ini juga masih menjadi soal yang perlu ditangani. Pasalnya, desa Pogog berada di atas ketinggian dengan kondisi tanah yang kering, sehingga sumber air untuk pengairan pertanian sangat terbatas.

    Diakui Jiwo Pogog, yang paling sulit memang adalah mengubah pola pikir (mindset) warga desa untuk mengandalkan kehidupannya dari buah pepaya dan durian. Mereka telanjur percaya pada tanaman tradisi lama, seperti singkong. Tapi, ia enggan menyerah.

    “Pemberdayaan membangun desa berdikari ini ibarat roket yang terlanjur meluncur,” papar Jiwo Pogog. “Tujuannya harus lebih tinggi dan ke sasaran yang lebih tepat.”

    Dengan rendah hati, Jiwo Pogog mengaku tak punya banyak cita-cita. Ia hanya ingin kepercayaan diri warga desa Pogog semakin baik sehingga mereka bisa hidup dan makmur dengan perkebunan di tanah sendiri.

    Untuk itu, Jiwo Pogog kini aktif ‘menyekolahkan’ para petani warga desa ke sentra-sentra budidaya pepaya. Pada banyak kesempatan, warga desa justru kedatangan pakar pepaya dari kalangan kampus, pedagang bahkan organisasi nonpemerintah yang membantu mereka. Selain “pepayanisasi” dan “durianisasi”, ia juga memperkenalkan “perpustakaanisasi” untuk anak-anak dan remaja, juga “paralonisasi” untuk membangun sistem pengairan.

    “Dulu mereka (warga desa-Red) malu kalau ditanya dari mana. Sekarang, mereka dengan bangga bisa mengaku sebagai orang Desa Pogog,” ujar dia, bersemangat. Desa Pogog dulu tak menjanjikan kehidupan yang layak karena dianggap termasuk daerah tertinggal. Kini, penilaian itu pudar dengan sendirinya, berganti rasa optimisme dan percaya diri tentang masa depan kemakmuran warga yang berkelanjutan. (***)
    READMORE
  • Ingin Jadi Presiden Jika Tidak Bangkrut


    PanaJournal - Terlilit utang dan bangkrut. Itu mimpi buruk bagi setiap pengusaha. Tapi, sang pelopor bisnis bimbingan belajar ini memperlakukannya bak sahabat.

    BERDIRI di atas lahan yang luasnya hampir tiga kali lapangan basket, rumah Purdi E. Chandra (54) terlihat asri dengan berbagai tanaman dan pepohonan. Lokasinya dikenal luas sebagai kawasan hunian favorit ekspatriat di Jakarta Selatan. Sore itu, Purdi, sang pendiri dan pemilik bimbingan belajar Primagama–setidaknya sampai tulisan ini dirilis—menyambut saya dengan ramah.

    Kami lantas menuju ke bagian belakang, dan duduk di dekat kolam renang. “Kalau menurut ilmu feng shui, letak kolam renang ini salah. Posisinya menjorok ke bawah. Sejak saya tinggal di sini banyak masalah yang datang,” ujarnya sambil tersenyum kecut.

    Mantan anggota MPR utusan DIY Yogyakarta ini memang tengah dirundung kesulitan. Dia terbelit utang lebih dari Rp40 miliar. Sejak Juni 2013, majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat bahkan menjatuhkan vonis bangkrut terhadap dirinya. Terpaksalah ia melepaskan berbagai hartanya dikuasai oleh kurator kepailitan, untuk dilego ke pihak lain agar utangnya terlunasi.

    Termasuk dalam harta Purdi adalah sejumlah properti, merek Primagama dan sahamnya di PT Primagama Bimbingan Belajar, bisnis yang telah ia rintis bersama para rekan selama lebih dari 30 tahun. Primagama sendiri merupakan pelopor dan salah satu bimbingan belajar terbesar di Indonesia. Berikut nukilan wawancara saya dengan Purdi:

    Q: Mengapa Anda bisa bangkrut? 

    A: Mungkin, saya bukan termasuk orang yang bisa mengatur uang, secara pribadi, ya. Apalagi, ada beberapa bisnis saya di luar Primagama yang seret. Jadi, arus kas pribadi saya terganggu. Primagama, sih, berjalan dengan baik. Tapi, tidak mungkin saya semaunya mengambil duit perusahaan.

    Q: Banyak yang beranggapan bahwa kepailitan menjadi strategi pengusaha untuk mangkir dari kewajiban membayar utang. 

    A: Bukan saya yang mempailitkan diri. Saya tidak mengajukan (kepailitan-Red). Untuk kasus ini, saya yang dipailitkan. Ini saya terima sebagai ujian—ujian sebagai pengusaha. Saya tidak melarikan diri dari kewajiban apapun. Banyak pengusaha yang mengalami kesulitan finansial. Ini hal biasa, kok. Tahun 2008 lalu, Ical (Aburizal Bakrie-Red) dan Grup Bakrie sempat menjadi yang termiskin.

    Coba perhatikan, siapa yang punya utang sampai puluhan triliun? Tapi, karena dia punya jiwa entreprenurship, Ical bisa bertahan. Robert Kiyosaki (Pebisnis dan pengarang buku populer Rich Dad Poor Dad-Red) pun bernasib sama dengan saya. Dia juga baru dinyatakan pailit. Jadi, saya anggap bahwa posisi saya sekarang itu sedang mundur, sambil mengambil ancang-ancang untuk lompat lebih tinggi lagi.

    Q: Di YouTube, banyak video tentang Anda ketika sedang memberikan materi di semacam seminar dan pelatihan kewirausahaan. Beberapa buku yang Anda tulis seperti Menjadi Entrepreneur Sukses dan Cara Gila Jadi Pengusaha, bahkan laku keras dan dicetak hingga belasan kali. Anda juga termasuk motivator?

    A:  Saya bukan motivator. Apa yang saya lakukan hanyalah memberikan inspirasi kepada orang-orang mengenai bisnis dan kewirausahaan. Jadi, saya itu inspirator.

    Q: Dengan kondisi seperti sekarang ini, Anda yakin ada yang mau membeli Primagama?

    A: Kenapa tidak? Yang pailit itu adalah saya sebagai pribadi, bukan Primagama. Sampai sekarang, Primagama tetap berjalan dengan baik. Sebagai pelopor bimbingan belajar, Primagama telah hadir di 33 provinsi di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Hingga kini, ada 500 lebih gerai Primagama, termasuk di tempat terpencil seperti di Kepulauan Natuna. Bisa dibilang, Primagama itu adalah “Dinas Pendidikan versi swasta”. Karena, Primagama bertujuan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Kami pernah mengurusi persiapan ujian nasional di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Selama tiga tahun berturut-turut, tingkat kelulusannya menembus 90%. Bahkan, direksi saya sampai mendapat “oleh-oleh” sepulang dari sana. Dia digigit nyamuk malaria.

    Q: Menurut Anda, siapa yang cocok menjadi pemilik baru Primagama?

    A: Ini bukan semata-mata bisnis, atau jual-beli biasa. Primagama adalah aset nasional, karena ini berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional. Dengan jaringan yang luas hingga ke pelosok nusantara, saya rasa yang cocok membeli Primagama adalah calon presiden Indonesia. Coba, deh, partai politik apa yang jaringannya tersebar lengkap di seluruh Indonesia? Belum tentu ada. Kalau tidak bangkrut, tadinya saya mau jadi calon presiden, ha-ha-ha-ha...

    Q: Apa bedanya bisnis bimbingan belajar dengan sektor usaha lainnya?

    A: Kelebihan bisnis ini adalah pembayaran selalu dilakukan di muka. Siswa-siswi kami itu membayar biaya les selama satu tahun ajaran pada awal pendaftaran. Coba pikir, apa ada restoran yang meminta pelanggannya membayar di muka untuk kunjungan makan selama satu tahun ke depan? Tapi sekali lagi, ini bukan hanya bisnis. Ada misi sebagai pendidik.

    Sekarang, tren bimbingan belajar sudah berubah. Kini (bimbingan belajar–Red) bukan lagi hanya sebagai kebutuhan (supaya lulus ujian nasional atau seleksi masuk perguruan tinggi negeri–Red). Para orang tua siswa berpikir bahwa anak-anaknya dapat mengisi waktu luang dengan mengikuti bimbingan belajar. Itu dilakukan untuk menghindari hal-hal negatif, seperti tawuran, balap liar, dan lain-lain.

    Jadi, bimbingan belajar pun menjadi semacam lifestyle. Lho, bisa saja gerai-gerai Primagama kelak dilengkapi tempat nongkrong, kafe atau sejenisnya, seperti 7-Eleven itu. Jadi, sekalian rekreasi. Sebetulnya, Primagama menawarkan layanan bimbingan belajar dengan tiga aspek: remedial, yakni memperbaiki proses belajar siswa yang kurang memahami materi belajar di sekolah; enrichment, ini proses pengayaan bagi para siswa yang pemahamannya sudah cukup baik; serta consulting, untuk bertukar pikiran dengan para siswa mengenai tujuan dan minat belajarnya, baik secara akademik maupun psikologis.

    Q: Berapa omzet Primagama per gerai?

    A: Itu tergantung dari banyak hal seperti lokasi, jumlah siswa, dan lain sebagainya. Tapi, omzet per gerai berkisar dari Rp400 juta sampai Rp2 miliar per tahun. Hampir seluruh gerai Primagama ini dikelola berdasarkan sistem franchise. Tapi, kebanyakan pemegang franchise Primagama di banyak daerah adalah mantan karyawan saya. Karena, saya ingin mencetak pengusaha-pengusaha baru yang membuka lapangan kerja baru. Banyak dari mereka yang kini menjadi pengusaha, dan bisnisnya pun bukan hanya Primagama, tapi sudah merambah ke sektor usaha lainnya.

    Q: Seberapa penting entrepreneurship buat Anda?

    A: Saya dulu sempat terdaftar di empat jurusan kuliah: Teknik Elektro dan Psikologi di Universitas Gadjah Mada, serta Sastra Inggris dan Ilmu Matematika di Universitas Negeri Yogyakarta. Alhamdulillah, saya tidak ada yang lulus dari satu pun kuliah tersebut, ha-ha-ha.. Saya waktu itu tidak begitu merasa mantap dengan sistem kuliah di Indonesia. Kesannya kok hanya satu arah: duduk di bangku kuliah, mencatat materi kuliah, lalu mengikuti ujian.

    Untuk itu, saya merintis sebuah bimbingan belajar pada tahun 1982. Di situlah jiwa entrepreneurship saya mulai tumbuh. Modal usaha saya pinjam ke teman sebesar Rp300.000. Saya menyewa tempat untuk ruangan kelas. Bahkan, saya harus menyewa kursi. Jadi kalau ada siswa, saya pakai. Kalau mereka sudah pulang, saya kembalikan. Banyak juga orang tua siswa yang bertanya waktu itu ketika mereka melihat ruangan kelas yang kosong tanpa bangku. Saya bilang saja bahwa kursinya sedang diservis.

    Q: Yang saya tahu, Primagama mulai dikenal orang ketika memberikan jaminan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN).

    A: Iya, betul. Jadi, siswa hanya membayar biaya les jika diterima di perguruan tinggi negeri. Kalau tidak lulus, ya, tidak perlu membayar. Gampang, kok. Waktu itu saya sendiri yang menyeleksi calon siswa Primagama. Saya buat tes masuk. Tentu saja, saya hanya menerima siswa-siswa yang pintar. Ya, kalau yang pintar-pintar tentunya pasti masuk PTN, bukan? Setelah pengumuman kelulusan, saya taruh iklan ucapan selamat kepada siswa-siswi Primagama tersebut di berbagai koran. Dari situlah, banyak orang yang mengenal Primagama.

    Q: Lalu, berapa pendapatan Anda waktu itu? 

    A: Wah, sesaat setelah pengumuman seleksi masuk PTN dirilis, siswa-siswa saya waktu itu langsung pindah ke luar kota untuk mencari indekos dekat kampus. Saya malah kesulitan mengontak mereka. Akhirnya, tak ada satupun yang membayar biaya les, ha-ha-ha. Ya, tidak masalah. Yang penting, saya sudah mendapat nama dari keberhasilan mereka. Pengusaha itu harus bisa kreatif. (***)
    READMORE
  • Politik Tanpa Aturan


    PanaJournal - Kasar, sengit, vulgar, materialistis, dan agresif. Begitu kisah persaingan politik dalam film ini. Adegannya sungguh mengocok perut. Namun, alur cerita dan dialog-dialognya membuat kita mengernyit.

    Judul Film: The Campaign
    Format: DVD
    Sutradara: Jay Roach
    Pemain: Will Ferrell, Zach Galifianakis, John Lithgow, Dan Aykroyd, Jason Sudeikis, Dylan McDermott

    DI NEGARA BAGIAN North Carolina, Amerika Serikat (AS), politikus kawakan Cam Brady (Will Ferrell) tengah bersiap menghadapi pemilihan anggota Kongres AS. Ia ingin menjabat untuk kali kelima. Cam terlihat pongah karena selama ini belum punya lawan sepadan yang sanggup menggusurnya dari panggung politik. Politisi dari Partai Demokrat itu kerap mengenakan setelan jas necis, memiliki postur tinggi dan tegap, rambut tersisir rapi, serta lihai berpidato.

    Sebetulnya, di balik itu, ada pribadi Cam yang penuh tipu-muslihat dan menghalalkan segala cara agar kursinya di kongres AS tak direbut orang. Ia bermulut bisa. Hampir semua makian cabul terkuak ketika Cam beradu mulut dengan lawan-lawan politiknya. “Saya gila karena saya menolak kalah?!...Saya bakal berbuat apa saja agar menang, meski harus berbohong atau menyakiti fisik seseorang,” sergah Cam suatu kali kepada penasihat politiknya.

    Namun, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya terpeleset juga. Riwayat politiknya hampir tamat ketika skandal seks antara Cam dan penggemarnya terbongkar. Istri dan anak Cam pun segera minggat. Motch bersaudara (Dan Aykroyd dan John Lithgow), pengusaha busuk yang selama ini menjadi beking Cam, juga menarik dukungannya. Mereka ragu Cam bisa mempertahankan kursinya di kongres, dan melanggengkan nepotisme.

    Motch bersaudara lantas berpaling ke Marty Huggins (Zach Galifianakis). Sesungguhnya Marty hanyalah seorang pemandu wisata di Hummond, sebuah kota kecil di North Carolina. Ayah Marty kebetulan kawan karib Motch bersaudara. Sosok Marty berbeda 180 derajat dengan Cam. Kumis tebal tak beraturan dan perut buncitnya membuat Marty kerap terlihat canggung saat berada di tengah kerumunan massa. Tutur kata dan tindak-tanduknya agak lemah-gemulai, tak jantan. Ia sering mengenakan baju hangat tebal dengan kain rajutan. Selain istri dan dua anak lelaki, rumah Marty juga dihuni dua anjing Chinese Pug yang menggemaskan.

    Sadar akan “kekurangan” Marty, Motch bersaudara tak kehabisan akal. Mereka menyewa jasa Tim Wattley (Dylan McDermott), seorang konsultan politik untuk memoles pencitraan Marty menjadi sosok pengusaha lokal yang berhasil, dan tangguh menghadapi perangai Cam, lawan politik yang agresif. Marty pun melaju ke pemilihan kongres AS dari Partai Republik. Perang politik bermula dari sini.

    Banyak yang beranggapan film ini menjadi satire politik yang mengejek habis-habisan perkawinan politik dan bisnis. “Perang punya aturan. Bergulat di lumpur juga punya aturan. (Namun-Red) politik tak punya aturan,” begitu perkataan Ross Perot yang menjadi pembuka The Campaign. Ross Perot dikenal publik AS sebagai pengusaha sukses yang sempat menjadi calon presiden dari jalur independen pada dekade 1990.

    Memang, karakter Motch bersaudara menjadi sindiran paling lantang di film ini. Di dunia nyata, sebenarnya ada Koch bersaudara―pemilik konglomerasi Koch Industries, Inc.―yang aktif berpolitik. Tapi, perseteruan sengit Cam dan Marty sesungguhnya menjadi fokus utama kisah ini. Mengingat sebagian besar adegannya mengundang tawa, The Campaign sesungguhnya lebih condong ke parodi politik.

    Film arahan Sutradara Jay Roach ini sukses meraup omzet besar senilai lebih dari US$ 85 juta di AS. Bandingkan dengan omzet film “serius” Zero Dark Thirty tentang penangkapan Osama bin Laden sebesar US$ 95 juta. Dengan torehan itu, The Campaign pun berada di urutan ke-35 dalam 100 film paling laris di AS selama 2012.

    Meski begitu, Anda jangan terlalu banyak berharap menonton adegan jenaka yang tersusun dengan apik. Kebanyakan lakon di film ini sarat dengan kejadian dan hal-hal tak senonoh: guyonan seksual dan ucapan kotor. Sejumlah film besutan Jay Roach sebelumnya dikenal sebagai film komedi sukses, seperti serial Austin Powers, Meet the Parents, dan Meet the Fockers.

    Sejumlah taktik politik dalam The Campaign juga terasa usang: tuduhan komunis, teroris, serta skandal seks. Tak ada sesuatu yang baru. Dan, susunan kisah terkesan datar, tanpa alur kejutan yang mampu membalikkan situasi.

    Karena vulgarnya adegan-adegan The Campaign, pikir dua kali jika ingin menontonnya bersama anak-anak Anda. Meski demikian, film ini lumayan menghibur, dan cocok ditonton pada tahun politik ini. Semoga perseteruan sengit dan tak senonoh ala Cam dan Marty tidak kita saksikan pada pentas nasional pemilihan umum tahun ini. (***)
    READMORE
  • 7 Tahun Aksi Kamisan


    PanaJournal - Setiap hari Kamis pukul empat sampai lima sore selama tujuh tahun terakhir, sekelompok orang berdiri di depan Istana Negara dalam diam. Berpakaian hitam-hitam dan membawa payung hitam, lambang keteguhan dan keteduhan. Yang mereka minta sejak dulu selalu sama: keadilan. Mereka adalah korban—dan keluarga korban—pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang membutuhkan perlindungan negara.

    Band Simponi meramaikan acara

    Instalasi peringatan 7 Tahun Kamisan




    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah berkata bahwa kasus Munir adalah tes sejarah kita. Presiden SBY juga pernah berjanji pada para ibu yang anaknya menjadi korban Tragedi Semanggi I dan Semanggi II, bahwa kasus tersebut akan diselesaikan secara hukum. Sampai sekarang, tak ada satu pun dari kasus tersebut yang selesai.

    Tapi, Aksi Kamisan terus berjalan. Para korban tetap berdiri, menagih janji presiden, sekaligus mengajarkan kita untuk tidak bersikap abai. Jangan biarkan waktu membuat perjuangan tenggelam. Sesungguhnya, seperti kata sastrawan Ceko, Milan Kundera dalam novel The Book of Laughter and Forgetting: perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.



    Pelanggaran HAM, tidak untuk dilupakan
     
    READMORE
  • Hemat Energi dari Kotoran Sapi


    PanaJournal - Dari setumpuk kotoran menjadi berkah. Upaya itu dilakukan warga desa di Sulawesi Selatan untuk bebas dari ketergantungan elpiji, sekaligus menjaga kelangsungan usaha rumahan mereka.
     
    JALANAN di Dusun Lekkong, Enrekang, Sulawesi Selatan, kini sudah terbuat dari bata beton (paving block). Tak ada lagi jalan-jalan tanah yang bisa berlumpur dan menjadi licin jika hujan datang. Rupanya, perubahan ini menjadi penanda kegairahan baru yang meliputi hampir segenap warga Dusun Lekkong.

    Kebanyakan warga Dusun Lekkong mencari nafkah dengan memproduksi dangke, makanan khas Enrekang yang terbuat dari proses peragian susu kerbau atau sapi. Jadi, para warga memang sudah biasa memelihara binatang pemamah biak itu di dekat rumah mereka.

    Tapi, semangat baru itu bukan lantaran keberhasilan mereka mengolah susu sapi menjadi dangke, melainkan karena para warga sukses memanfaatkan kotoran sapi menjadi sumber energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan.

    Tengoklah Isran (50) yang sehari-hari mengalirkan kotoran hewan ternaknya ke dalam sebuah tabung yang berfungsi sebagai reaktor biogas. Alat itu mengubah kotoran hewan menjadi biogas skala rumah tangga yang dapat digunakan sebagai bahan bakar memasak, atau bahkan lampu untuk penerangan.

    Melalui kompor biogas yang terhubung langsung dengan peralatan tersebut, Isran mengolah susu sapi menjadi dangke, dan keperluan memasak lainnya. “Istri saya tak perlu lagi risau memikirkan minyak tanah atau gas dari elpiji,” tutur Isran dengan bangga.

    Menurut hitungannya, sebelum menggunakan biogas, Isran dan istrinya bergantung kepada elpiji subsidi tiga kg selama seminggu. Itu setara dengan 1.000 liter biogas per hari yang didapat dari 30 kg kotoran sapi. Kini, dengan memanfaatkan feses dua ekor sapi dari enam piaraannya saja, kebutuhan bahan bakar memasak Isran dan istrinya dalam sehari telah terpenuhi.

    SELAMAT TINGGAL ELPIJI SUBSIDI
    Isran dan warga Dusun Lekkong memang telah berhasil melepaskan ketergantungan pada elpiji. Pada Januari lalu, kenaikan harga elpiji 12 kg memaksa sebagian besar orang beralih ke elpiji subsidi tiga kg. Tak pelak lagi, banyak yang khawatir bahwa elpiji subsidi akan lenyap dari pasaran akibat tingginya permintaan, atau bahkan karena aksi spekulan. Kekhawatiran ini juga sempat beredar di sejumlah daerah, termasuk Enrekang.

    Kini, kerisauan itu hampir tak ada lagi di benak warga Dusun Lekkong. Mereka sudah memiliki bahan bakar memasak yang murah, dan bisa tersedia setiap saat. Inilah yang membuat kehidupan warga kian bergairah. Praktik pemanfaatan biogas ini tak hanya terjadi di Dusun Lekkong, tapi juga tersebar di sejumlah desa lain di Enrekang.

    Rahman (55), peternak sapi sekaligus ketua kelompok peternak sapi di Desa Tibona, Bulukampa, Sulawesi Selatan, juga memanfaatkan biogas untuk kebutuhan rumah tangganya. Lebih lagi, ia menyuplai biogas buat beberapa tetangganya. “Saya punya empat ekor sapi. Siang hari saya lepas, malam saya kandangkan,” jelas Rahman yang mengaku biogas sudah menggantikan 1,25 liter minyak tanah yang dulu biasa dipakai.

    Sisa biogas ternyata masih memiliki nilai tambah. Ampas biogas yang biasa disebut bio-slurry dapat menjadi nutrisi berguna bagi tanaman. Jadi, setelah digunakan untuk kebutuhan sendiri, warga pengguna biogas seperti Rahman biasanya mengemas rapi ampas biogas dan menjualnya senilai Rp 500 per kg. Alhasil, ini menjadi sumber pendapatan baru bagi warga Desa Tibona.

    PROGRAM BIRU
    Pembangunan biogas di Enrekang, Sulawesi Selatan, sebenarnya masih termasuk dalam program biogas rumah Indonesia (BIRU) yang bermula sejak tahun 2010. Seluruh pendanaan program ini berasal dari lembaga pembangunan pemerintah Belanda, SNV Netherlands Development Organisation. Sementara, Institut Kemanusiaan untuk Kerjasama Pembangunan (Hivos) menjadi pelaksana program dengan melibatkan organisasi kemasyarakatan setempat.

    Program BIRU meyakini bahwa penggunaan biogas “secara langsung berkontribusi terhadap naiknya tingkat kesejahteraan hidup rumah tangga di pedesaan khususnya bagi anak-anak dan perempuan”.

    Sejauh ini, program BIRU telah sukses membangun 8.300 reaktor biogas secara nasional: 5.100 reaktor terdapat di Jatim Timur, dan sisanya, 3.200 reaktor, tersebar di Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Bali, Yogyakarta, Lampung dan Sulawesi Selatan.

    Namun, penggunaan biogas di Tanah Air sebenarnya masih amat potensial. Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, contohnya, pemanfaatan feses sapi untuk biogas di sana tak sampai 1% dari total 3 juta kotoran ternak yang dihasilkan per hari.

    Reaktor biogas nasional bukanlah mimpi di siang bolong. Pengalaman pengembangan biogas di Nanyang, Provinsi Henan, China, bisa menjadi contoh kisah sukses reaktor biogas skala besar. Wilayah tersebut memiliki potensi biogas yang besar dari limbah ladang gandum. Pemerintah setempat lalu membangun reaktor berkapasitas 30.000 meter kubik.

    Hasilnya, reaktor tersebut dapat menyuplai gas ke sekitar 20.000 rumah tangga. Jika itu terwujud di Indonesia, kita bisa menghemat puluhan triliun subsidi elpiji. Dengan demikian, energi alternatif yang ramah lingkungan tak lagi sekadar wacana. (***)
    READMORE
  • Perempuan Berpayung Hitam

    PanaJournal - Jika suatu saat saya punya anak dan dia bertanya apa itu cinta, akan saya ceritakan kepadanya tentang Maria Catarina Sumarsih. Ia ibunda Bernardus Realino Norma Irawan alias Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta, yang ditembak mati entah oleh siapa pada 13 November 1998. Peristiwa ini kelak akan dikenang dengan nama Tragedi Semanggi I.

    RAK BUKU di rumah Maria Sumarsih (61) di daerah Meruya Selatan, Jakarta Barat, penuh berisi buku-buku sosial politik. Ketika saya memiringkan kepala untuk mengamati deretan buku yang terpampang di situ, terbacalah judul-judul semacam “Tanah Untuk Rakyat”, “Reformasi Gagal”, “Demi Sebuah Rezim” dan “Kaleidoskop Politik”. Suaminya, Arief Priyadi, bekerja di Centre of Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta. Sumarsih sendiri pernah bekerja di Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

    “Saya selalu mengatakan, diri saya tergelincir ke tengah kekejaman kekerasan politik,” perempuan bertubuh kecil, berambut putih keabu-abuan, dengan senyum bersahaja itu membuka percakapan.

    Sebelum kami mulai berbincang, Sumarsih menyempatkan diri berganti pakaian dengan baju terusan warna hitam, yang tadinya saya kira ekspresi duka cita. Belakangan saya tahu, ia selalu mengenakan pakaian berwarna hitam setiap membicarakan apa yang menimpa Wawan, sebagai simbol bahwa kesedihan yang ia rasakan telah menjelma tekad untuk mencari keadilan.

    Sumarsih mengenang Wawan sebagai anak yang menyenangkan dan enak diajak berdiskusi. Ia dan Arief punya kebiasaan mengajak anak-anak makan malam bersama. Pada kesempatan itu, mereka akan bertanya pada Wawan dan adik perempuannya, Benedicta Rosalia Irma Normaningsih, mengenai hari mereka. Biasanya muncul juga diskusi mengenai berbagai persoalan yang ditemui di masyarakat.

    Dibesarkan dalam lingkungan demikian, ditambah kegemaran membaca buku-buku sejarah, humaniora dan politik, membuat kesadaran sosial Wawan terbentuk dengan kuat. Bila ada teman yang sakit atau sedang berduka cita, Wawan pasti menyempatkan diri datang, meskipun mereka tidak terlalu dekat. Ia juga aktif dalam kegiatan organisasi kemasyarakatan dan gereja.

    Menyadari aktivisme sang anak, Sumarsih sudah mewanti-wanti agar Wawan mampu menempatkan diri. Pasalnya, Sumarsih ketika itu seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) yang notabene pendukung Orde Baru, yakni Golongan Karya (Golkar). Sumarsih meminta Wawan untuk tidak ikut demo. Ia berharap putranya mau mengerti.

    Sebelum ini, Wawan juga menurut ketika diminta tidak ikut demo sidang umum. Ia memilih jadi tim relawan yang mengurus logistik mahasiswa dan masyarakat. Suatu kali, Wawan tersorot kamera di antara timbunan biskuit dan air mineral. Di telinganya terselip rokok. Pulang ke rumah, Sumarsih bilang Wawan boleh merokok hanya kalau sudah kerja. Putranya itu cengengesan, tidak menyangka tertangkap basah lewat televisi.

    “Lalu, Wawan harus bikin apa dong, Bu?” tanya Wawan, yang ketika itu menginjak semester lima.
    “Kamu, kan, bisa bikin kegiatan lain seperti seminar, diskusi publik, atau sarasehan,” saran Sumarsih. “Biar ada dialog, undang juga ketua fraksi-fraksi di DPR.”

    Wawan menerima saran ibunya. Bersama teman-teman dari Fakultas Hukum, Wawan menyelenggarakan seminar, yang salah satu pembicaranya Khofifah Indar Parawansa. Hari Senin, 9 November 1998, Wawan minta diantar ke kampus untuk membuka acara tersebut karena ia ketuanya. Sebenarnya, Sumarsih keberatan karena Wawan baru pulang dari RS setelah operasi sinus.

    “Di kampus, kan, udaranya kotor. Selain banyak kendaraan, tentara juga banyak melemparkan gas air mata, Wan,” bujuk Sumarsih.

    Wawan berkeras. Ia berjanji hanya akan mampir untuk meminta kawannya, Bona, mewakilinya membuka acara. Wawan lalu pulang, menuruti permintaan Sumarsih untuk beristirahat di rumah.

    Hari Rabu, 11 November 1998, Wawan pergi ke kampus dan menginap di sana. Kamis pagi ia pulang dan menelepon Sumarsih dari rumah.

    “Ibu masak apa?”
    “Wah, hari ini Ibu nggak masakin Wawan. Beli gado-gado saja di warung.”
    “Tadi Wawan sudah sarapan.”
    “Makan apa?”
    “Bubur ayam, dibelikan dosen Wawan, namanya Pak Hinca. Wawan habis dua mangkuk.”

    Sumarsih tertawa. Jumat pagi, ia memasak empal dan sayur asam kesukaan Wawan.

    Hari itu Wawan tidak pulang.

    Sejak pagi di kantor, Sumarsih tidak tenang. Ia sudah dengar akan ada penembakan bebas dengan peluru tajam. Ia sempat meminta Wawan untuk tidak pergi ke kampus, tapi putranya menolak. “Tidak mungkin Wawan diam di rumah sementara teman-teman dari berbagai kampus kumpul di Atma Jaya, Bu,” katanya.

    Wawan meyakinkan ibunya, dia tidak akan ikut aksi demo. Dia hanya akan bergabung dengan Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) yang tugasnya menolong korban (sampai sekarang, Sumarsih masih menyimpan tas Wawan yang berisi obat-obatan yang belum pernah dibukanya). Mengingat janji Wawan, Sumarsih agak lega. Dari kantor ia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Di tengah jalan, Sumarsih sempat berpikir untuk mampir ke kampus Atma Jaya, tapi niat itu diurungkannya.

    Sampai di rumah, Sumarsih disambut Arief dengan wajah cemas. Televisi menyala, menampilkan gambar kerusuhan. Arief bilang, tadi Wawan sempat menelepon ke rumah.

    “Wawan di mana? Situasinya panas, cepat pulang,” pinta Arief.
    “Mau pulang bagaimana Pak, situasinya sudah kayak perang nih,” keluh Wawan.
    “Tadi ada imbauan dari Pak Wiranto supaya toko-toko tutup, anak sekolah dipulangkan, dan kantor-kantor juga tutup. Kamu jaga diri.”
    “Iya, Bapak tenang saja.”

    Tidak lama kemudian, di televisi tersiar gambar korban tembakan di pelataran kampus Atma Jaya. Sumarsih menjerit, “Kena!” lalu mencengkeram lengan suaminya. Ia mengajak Arief ke Atma Jaya untuk membelikan Wawan ponsel agar mereka bisa berkomunikasi. Sebelumnya, Wawan beberapa kali minta dibelikan ponsel, tapi Sumarsih belum sempat memenuhinya.

    Detik itu juga telepon rumah berbunyi. Seseorang yang mengaku bernama Ivonne, teman Wawan dari Atma Jaya, mengabari kalau benar ada mahasiswa yang kena. Ketika Sumarsih menanyakan di mana Wawan, Ivonne menjawab, ada di kampus. Telepon ditutup, lantas lekas berdering lagi. Kali ini Romo Ignatius Sandyawan Sumardi. Sumarsih mulai merasa ketakutan pelan-pelan menyusupi dadanya.

    “Ada apa, Mo? Ada apa, Mo?” Ia begitu panik sampai hanya bisa meracau.

    Telepon diambil alih Arief. Lantas Romo Sandyawan memberi tahukan kabar itu: Wawan ditembak, sekarang juga harap ke Rumah Sakit Jakarta.

    Arief segera menyambar kunci. Anak-anak tetangga yang bermain di depan rumah (Wawan senang anak kecil—tiap berangkat kuliah, dia suka sekalian memboncengkan mereka sampai ke sekolah) menatap Sumarsih dengan pandangan bingung. Beberapa dari mereka dengan polos mengira Sumarsih berantem dengan Arief, lalu mau kabur karena sudah bawa tas.

    Sepanjang jalan, Sumarsih menggenggam rosario sambil tak hentinya berdoa. Di daerah Tomang, Jakarta Barat, mobil mereka tak bisa lewat. Tampak kawat berduri sepanjang jalan. Sumarsih memohon pada polisi agar diperbolehkan lewat, sambil mengeluarkan KTP dan kartu pegawainya.

    “Tolong Pak, anak saya ditembak..”
    “Saya tidak bisa membantu, Bu. Minta bantuan sama yang baju hijau saja.”

    Baju hijau maksudnya tentara. Sumarsih mengulangi permohonannya. Jawabannya masih sama: tidak bisa.

    “Sekarang juga Ibu pulang! Jangan membuat keributan atau memancing perhatian orang!” Tentara memberi ultimatum.

    Sumarsih dan Arief lalu memutar untuk menjemput adik ipar mereka yang kebetulan polisi. Perjalanan dilanjutkan. Saat itu yang ada di kepala Sumarsih adalah bagaimana pun caranya, ia harus bertemu anaknya. Di tengah jalan, tiba-tiba dari mulut Sumarsih keluar kalimat, “Selamat jalan, Wan…”

    Begitu sadar apa yang baru saja ia ucapkan, Sumarsih langsung menjerit, “Tidak, Bunda Maria! Tidak, Tuhan Yesus! Selamatkanlah anak saya!”

    Semua orang panik. Di jalan, tampak orang-orang berlarian. Ada kilat api di seberang kampus Atma Jaya, Semanggi. Jalanan basah padahal tidak hujan. Sumarsih tahu, itu artinya baru saja ada rombongan demo yang kocar-kacir dibubarkan tentara. Ia ingat hari itu di kantornya ada drum-drum besar diletakkan sepanjang pintu masuk DPR sampai parkiran. Kata polisi, isinya air kotor dan zat kimia untuk membubarkan massa. Kalau kena air itu, orang akan merasa gatal-gatal.

    Sumarsih berkali-kali ingin turun dari mobil, tapi adik iparnya melarang. Barangkali sang adik bisa membedakan, mana bunyi peluru kosong dan mana yang ada isinya. Ketika akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Jakarta, Sumarsih setengah berlari menghampiri sekelompok mahasiswa yang duduk di halaman.

    “Dik, dik, saya ibunya Wawan. Katanya Wawan ketembak. Sekarang Wawan di mana?”
    “Wawan ada di UGD, Tante. Mari kami antar.”

    Tapi di tengah jalan, ada yang menghampiri dan bilang Wawan ada di basement. Hati Sumarsih seperti dipukul gada. Kenapa Wawan ada di basement dan bukan di kamar rawat? Mencoba mengenyahkan pikiran buruk, Sumarsih terus melangkahkan kakinya. Sampai di basement, ia dikerumuni orang-orang. Mereka menggumamkan hal yang sama: supaya Sumarsih sabar dan kuat. Sumarsih tidak bisa membalas semua ucapan itu kecuali terus bertanya di mana putranya.

    Lalu pintu dibuka. Tampak jejeran keranda.

    Perlahan-lahan Sumarsih menghampiri jenazah putranya. Air mata menderas. Ia meraba dan mengusap tubuh Wawan, dari kepala sampai ujung kaki. Jempolnya diikat benang putih.

    “Wan, perutnya kok tipis, kamu lapar ya..” Sumarsih berkata lirih.

    Tangan Sumarsih bergerak ke dada anaknya. Ia meraba kaus yang dikenakan Wawan, bergambar Tintin dan agak kekecilan. Di dada kiri ada bekas lubang seperti disundut rokok. Ia buka kaus itu. Ada bolong yang menganga.

    “Wan, kamu ditembak orang, Wan..”

    Kelak, sekitar empat tahun setelah kejadian ini, seorang teman Wawan yang bernama Dian, akan menceritakan kronologis peristiwa Jumat itu. Jam sepuluh pagi, Wawan menetralkan gas air mata dengan menyemprotkan air melalui selang hidran.

    Sore menjelang penutupan, dia keluar dan menyaksikan ada korban ditembak di pelataran kampus Atma Jaya. Wawan bertanya pada tentara yang berjaga, apakah boleh menolong korban itu. Tentara mempersilakan. Wawan pun mengeluarkan bendera putih dari dalam tas dan bergerak maju.

    Pada saat ia hendak meraih tubuh korban itulah, sebuah peluru tajam menembus dada kirinya. Menurut Dian, pada saat itu Wawan tidak sanggup berkata hal lain kecuali, “Panas… Panas… Panas…”

    Di basement, isak tangis dan sedu sedan membuat ruangan jadi seperti berdengung. Sumarsih masih berdiri di samping keranda berisi jenazah Wawan. Ia membelai rambut anaknya. Mata Wawan terpejam seperti orang tidur. Badannya masih hangat.

    ***

    Kamis, 16 Januari 2014. Hari itu ada peringatan Tujuh Tahun Kamisan, aksi diam para korban pelanggaran HAM di depan Istana Negara. Band Simponi (Sindikat Musik Penghuni Bumi) memainkan lagu-lagu jagoan mereka, seperti “Sister in Danger” dan “We Are Sinking”. Sebuah payung hitam besar didekorasi di tengah arena, dihiasi papan-papan kertas yang bergelantungan. Di atas kertas itu dituliskan kasus-kasus pelanggaran HAM yang sampai kini tak selesai—salah satunya Tragedi Semanggi.

    Deretan topeng warna-warni bergambar Wiranto, Prabowo, dan Aburizal Bakrie, dipajang berderet dengan foto-foto para orang hilang, aktivis yang diculik dan ditembak mati. Terdengar teriakan di sana-sini, mengingatkan untuk jangan memilih calon presiden yang masih punya utang pelanggaran HAM. Wiranto belum menuntaskan tanggung jawabnya terhadap Tragedi Semanggi, Prabowo penculikan aktivis dan Tragedi Mei 1998, Aburizal Bakrie kasus Lumpur Lapindo yang belakangan ganti ruginya malah dibiayai APBN.

    Para peserta bergantian memberi orasi. Sore itu agak spesial karena ada Butet Kertaradjasa dan artis Happy Salma. Para polisi dan aktivis yang lelaki sikut-sikutan sambil membicarakan kecantikan Happy dan merancang strategi agar bisa foto bareng. Persis saat dua orang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya berorasi, mobil kepresidenan melintas.

    Orang-orang spontan berteriak, “Huuuuuu!”
    “Mampir dulu, Pak Presiden!”
    “Pengecut!”

    Sumarsih dan saya berpandangan, lalu menyeringai. “Dulu, Pak Presiden masih mau keluar lewat pintu depan. Tapi, akhir-akhir ini, selalu melipir lewat samping. Mungkin nggak enak lihat kami,” ia mengira-ira.

    Sumarsih beserta para orangtua korban Semanggi sebenarnya sudah pernah mendapat kesempatan bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sama seperti ketika menyebut kasus Munir ‘test of our history’, Presiden SBY juga berjanji akan menyelesaikan kasus Tragedi Semanggi secara hukum. Hal ini sempat membuat Sumarsih lega karena barangkali ada titik terang dalam perjuangannya.

    Tapi, hingga kini, tak terjadi apa-apa.

    “Kadang-kadang saya merasa, pemerintah mau menunggu saja sampai kami para orangtua korban Semanggi ini mati satu per satu,” kata Sumarsih, lirih. Saya memandangnya, mencoba mencari-cari tanda lelah atau keinginan menyerah di matanya, tapi yang saya temukan hanya hasrat mencari keadilan tanpa putus.

    Kepala Biro Pemantauan dan Dokumentasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Feri Kusuma berkata, sesungguhnya dalam upaya penegakan HAM, segala tindakan telah mereka lakukan. Ibarat buku panduan perang, semua strategi dan jurus telah dicoba. “Kalau sampai sekarang upaya itu belum banyak yang berhasil, yang tersisa bagi kita hanya satu, yaitu tetap melawan,” kata dia.

    Saya memandang Istana Negara. Pemerintahan Presiden SBY akan segera berakhir dalam hitungan hari. Saya tidak berani terlalu berharap bahwa pemerintahan yang baru akan menjadi angin segar bagi penuntasan kasus pelanggaran HAM. Tapi, sekecil apapun, bukankah harapan harus tetap ada?

    ***

    Seminggu kemudian, saya kembali datang. Suasana tak seramai Kamis lalu. Sumarsih ada di garis depan, sedang mengobrol dengan seseorang. Saya hampiri ia, menanyakan kabar. Hari itu rupanya cukup padat. Sejak pagi Sumarsih sudah mengikuti acara diskusi di kantor KontraS dan pukul tiga sore ia sudah sampai di lokasi Kamisan.

    Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas kain warna hitam. Pada pertemuan sebelumnya, saya menghadiahinya sebuah novel yang saya tulis sendiri. Di halaman pertama, saya tuliskan: “Sekadar hadiah kecil untuk menemani perjuangan seorang ibu.”

    “Seharian saya baca buku ini. Ceritanya seperti menuntun kita untuk membaca terus dan terus, karena penasaran apa yang akan terjadi pada tokohnya. Ibu suka. Terima kasih, ya," katanya, ketika kami sama-sama menggenggam payung hitam, menghadap ke arah Bapak Presiden yang Terhormat.

    Saya mengangguk sembari tersenyum. Memikirkan bahwa saya telah membuat perempuan ini bahagia selama beberapa menit dalam perjuangannya, membuat hati terasa hangat.

    Sumarsih lalu mengganti pakaiannya dengan sebuah kaus berwarna hitam bertuliskan, “Kebisuan negara dan pembisuan korban adalah halangan terbesar kenangan akan korban. Aksi Kamisan merupakan gerilya kemanusiaan subyek korban dan pendampingnya melawan penggelapan kebenaran.” Kaus itu pemberian Romo Mutiara Andalas.

    Saya menunjuk topeng bergambar Wiranto yang tergeletak dekat payung hitam.

    “Andaikan suatu hari nanti Wiranto mengeluarkan permintaan maaf secara terbuka, sambil menyatakan diri bertanggung jawab terhadap Tragedi Semanggi, apakah itu cukup buat Ibu?”

    Sumarsih berpikir sebentar. “Ya, hal itu boleh saja dilakukan, mungkin bisa membuat Pak Wiranto lebih lega. Tapi yang saya minta tetap sama, yaitu peradilan secara hukum. Saya ingin tahu apa kesalahan anak saya sampai ditembak mati. Dan kalau anak saya memang tidak bersalah, lantas siapa yang sebenarnya harus dihukum atas kejadian itu?”

    Sore itu saya belajar tentang keteguhan hati.

    Saya menyeberangi tali yang membatasi peserta aksi dengan mobil polisi, lalu berkenalan dengan Aiptu Djoko Ismojono. Ia sudah ditugaskan menjaga Kamisan sejak kali pertama aksi itu diadakan. Aiptu Djoko kadang-kadang heran sendiri melihat kebulatan hati Sumarsih dan para korban lain yang tiap Kamis setia berdiri di depan Istana Negara. Kalau dia jadi mereka, belum tentu sekuat itu. “Paling kalau tidak senang dengan Pak Wiranto, ya jangan dipilih,” cetusnya, sederhana.

    Karena sudah lama menjaga, Aiptu Djoko jadi akrab dengan para peserta Kamisan. Dia kadang mengawal sendiri tiap mereka mengantar surat untuk Presiden. Aiptu Djoko akan menyeberangkan mereka dan memberi kode bagi penjaga Istana Negara untuk mengambil surat yang dimaksud. Tapi, Aiptu Djoko tidak tahu apakah surat-surat tersebut sampai ke tangan Presiden.

    “Sebagai manusia, kadang saya kasihan pada mereka. Tapi saya polisi. Tugas saya, ya, mengamankan aksi ini agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Aiptu Djoko, sambil menambahkan bahwa selama tujuh tahun ini, tak sekalipun Aksi Kamisan diwarnai kerusuhan.

    Pukul lima sore, saya ikut serta dalam refleksi Aksi Kamisan. Kami membentuk lingkaran. Beberapa orang maju dan memberi orasi singkat yang diawali dengan teriakan,

    “Hidup korban!”
    “Jangan diam!”
    “Jangan diam!”
    “Lawan!”

    Selepas aksi, beberapa orang minta berfoto dengan Sumarsih. Saya berkeliling, dan berkenalan dengan Bejo Untung, Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965. Umur 16 tahun, dia bergabung dengan organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI), yakni Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Gara-gara ini, Bejo Untung dijebloskan dalam penjara dari tahun 1970 hingga tahun 1979.

    Kami bertukar nomor ponsel. “Nanti kalau ada informasi acara di Yayasan, saya kabarkan,” kata dia.

    Saya juga berkenalan dengan Neneng, seorang ibu korban kasus Rumpin. TNI AU mengambil alih paksa tanah di Rumpin, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk dijadikan lahan operasi proyek Water Training. Menanggapi aksi protes warga, tentara melakukan berbagai aksi kekerasan seperti penembakan, pemukulan, penyiksaan dan penangkapan sewenang-wenang. “Kemarin ada yang dipukul sampai kehabisan banyak darah. Hampir mati. Saya takut nanti ada yang mati sungguhan,” kata Neneng.

    Senja sudah lewat. Saya berpamitan pada Bejo Untung, Neneng, dan Sumarsih. Sambil berjalan pulang, dalam hati saya meyakini, bahwa siapa pun yang memulai segala kekacauan ini, negaralah yang harus mengakhiri. (***)
    READMORE
  • Indonesia Punya Kopi, Starbucks Punya Nama


    PanaJournal - Indonesia menghasilkan kopi bercita rasa istimewa dan memasoknya ke Starbucks. Lalu, perusahaan itu menyimpan, memanggang, menggiling, meracik, mengolah, dan memasarkan kopi tersebut dengan merek yang mendunia serta laris-manis. Apakah hubungan ini saling menguntungkan?

    INI SEPENGGAL kisah di sebuah toko kopi, pada 1981 silam. Sambil berbincang-bincang dengan pelanggan, seorang pramusaji menyendok biji-biji kopi dari sebuah wadah, yang lantas digiling hingga menjadi bubuk. Ia lalu menuangkan bubuk kopi itu ke dalam saringan berbentuk kerucut, diikuti air panas. Meski semuanya hanya berlangsung dalam hitungan menit, si pelanggan berdecak kagum menyaksikan gerak-gerik tangan Sang Pramusaji yang tangkas, khas perajin ulung.

    Bau kopi panas itu semerbak. Tanpa ragu-ragu, si pelanggan menyesapnya. Tapi, kepalanya malah tersentak, dan matanya terbelalak. Dia belum pernah minum kopi dengan cita rasa sekuat itu. Para pegawai toko kopi lantas tertawa terbahak-bahak. “Kopinya terlalu berat buat Anda, ya?” Sang Pramusaji meledek.

    Toko kopi itu bernama Starbucks. Pria tersebut adalah Howard Mark Schultz. Dan, kopi yang diminumnya ialah kopi arabika asal Sumatera. Sejak saat itu, Schultz selalu mengawali paginya dengan meminum kopi arabika Sumatera. Kisah itu tercantum dalam bukunya yang berjudul Pour Your Heart Into It: How Starbucks Built a Company One Cup at a Time.

    Pada 1987, Schultz mengakuisisi Starbucks yang lalu menjadi Starbucks Corporation. Pada 2012, omzet warung kopi global itu sekitar US$ 13 miliar. (Pada hitungan ketiga, coba sebut nama perusahaan terbesar RI. Oke? Satu, dua, .. Astra International? Pendapatan Astra tahun 2012 mencapai US$ 15 miliar–jika menggunakan kurs sekitar Rp 12.000 per US$ 1.)

    Tak salah jika Forbes pada 2013 menobatkan Schultz sebagai salah satu orang terkaya di Amerika Serikat, dengan harta yang ditaksir sekitar US$2 miliar. Di Indonesia, nilai harta Schultz hampir setara dengan Putera Sampoerna, atau Sukanto Tanoto.

    LEKAT DENGAN NUSANTARA
    Pada era 1970-an, Indonesia sebenarnya telah memasok biji-biji kopi ke Starbucks, Seattle, Amerika Serikat. Sejak saat itulah Starbucks begitu lekat dengan Indonesia. Apalagi, Starbucks juga menjual biji dan bubuk kopi jenis arabika asal kawasan tertentu (single-origin), di samping kopi racikan (blend).

    Kopi dari nusantara dipasarkan dengan nama “Starbucks Sumatra”, “Starbucks Reserve Isla Flores”, serta “Starbucks Reserve West Java”. Lebih lagi, “Starbucks Sumatra” menjadi salah satu produk Starbucks terlaris di dunia. Sementara, beberapa kopi dari negara lain hanya menggunakan nama negaranya saja misalnya, “Starbucks Ethiopia”, dan “Starbucks Reserve Colombia Caldas”.

    Menurut Anthony Cottan, Direktur PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAP)― perusahaan pemegang lisensi usaha Starbucks di Indonesia―Starbucks bahkan menamai produknya berdasarkan nama perkebunan atau desa tempat kopi tersebut ditanam. Hal itu berlaku jika Starbucks hanya mendapatkan pasokan biji kopi dalam jumlah yang terbatas.

    “(Cita rasa-Red) Kopi sungguh unik, seperti wine, punya karakteristik yang berbeda-beda,” jelas Anthony, pria asal Inggris yang sedari awal membidani kehadiran Starbucks di Indonesia. MAP melansir gerai perdana Starbucks di Indonesia pada 2002. Sebelas tahun kemudian, MAP telah mendirikan sekitar 160 gerai Starbucks. Itu data per September 2013.

    Saat Howard Schultz, bos dan pendiri Starbucks Corporation, berkunjung ke Indonesia tahun lalu, ia bahkan mencanangkan ekspansi bisnis yang lumayan fenomenal: membuka 100 gerai baru dalam tempo 3 tahun ke depan. Padahal, Dunkin’ Donuts Indonesia―merek penganan cepat-saji asal Amerika Serikat, juga menyajikan kopi―butuh waktu puluhan tahun sejak 1985 untuk mendirikan sekitar 200 gerai.

    “Indonesia telah dipandang sebagai salah satu pasar utama Starbucks yang tengah berkembang, dan kami akan tetap berinvestasi di Indonesia untuk mendukung rencana pengembangan usaha dengan disiplin,” papar Schultz dalam keterangan persnya.

    SAPI PUNYA SUSU, BENGGALI PUNYA NAMA
    Starbucks memang sukses mengubah budaya ngopi-ngopi (di warung kopi) menjadi gaya hidup masa kini. Kopi menjadi tren. Tak hanya menjajakan kopi berkualitas, Starbucks juga “menjual suasana dan sentimen”: tata letak dan desain gerai, kisah dan sejarah di balik budi daya kopi, serta hal-hal lain yang dapat menggugah seseorang mencicipi kopi Starbucks.

    Nah, kesuksesan inilah yang menjadi “tamparan” bagi Indonesia, notabene salah satu produsen kopi terbesar dunia. Ibarat sapi punya susu, Benggali punya nama. Ungkapan itu terkenal di Kota Medan, Sumatera Utara. Warga keturunan asal Bengal, India, dahulu memang mengelola sejumlah peternakan sapi perah, dan memasok susu segar ke masyarakat Medan. Dengan sorban khas yang terlilit di kepala, mereka biasa mengantar susu dengan sepeda motor dari rumah ke rumah. Saking terkenalnya, orang Medan pun terbiasa menyebut “susu Benggali”.

    “Indonesia dikenal memiliki modal kekayaan biji kopi yang luar biasa, mulai dari Lampung, Ungaran, Toraja, hingga Aceh dan Sumatera. Sedihnya, biji-biji kopi hebat itu hanya diolah dengan cara tradisional. Alhasil, (kopi tersebut-Red) di warung paling banter laku Rp 5.000,-,” tukas Yuswohady.

    Menurut penulis buku CROWD: Marketing Becomes Horizontal itu, pelaku usaha di Indonesia sering kali latah. “Kita sering tak percaya diri. Tapi, ketika perusahaan global seperti Starbucks telah sukses, kita lalu ikut meniru-nirunya.”

    Sebetulnya, peluang bagi pelaku usaha lokal masih terbuka luas. Menurut Yuswohady, usahawan muda yang baru merintis bisnis bisa menggunakan kemampuan kreatifnya dalam membangun merek lokal yang kuat dan bernilai tambah. Dengan begitu, produk dan merek lokal bisa menjadi pilihan nomor satu di rumah sendiri. Semoga. (***)

    READMORE
  • READ MORE POST